Tampilkan postingan dengan label risiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label risiko. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Ada banyak informasi yang salah tentang rokok elektrik.

Otoritas kesehatan California memperingatkan bahaya dari rokok elektrik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik seputar keamanan dari vaping, istilah lain untuk menghisap rokok elektrik.

Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat California, Ron Chapman mengatakan melakukan vaping sama saja dengan mengundang 10 jenis zat penyebab kanker.

Chapman telah membuat laporan yang menyimpulkan bahwa rokok elektrik adalah ancaman kesehatan bagi masyarakat.

Bagi para remaja yang menggunakan rokok elektrik menghadapi risiko merusak perkembangan otak mereka.

"Rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan bahan kimia berbahaya lainnya. Nikotin di dalam rokok elektrik tetap menimbulkan kecanduan seperti pada rokok konvensional," kata Chapman.

Chapman menambahkan ada banyak informasi yang salah tentang rokok elektrik. Itu sebabnya Chapman menyarankan masyarakat untuk menghindari penggunaan rokok elektrik dan menjauhkannya dari anak-anak segala usia.

Peringatan tersebut disampaikan setelah peneliti lainnya menemukan bahwa uap dari rokok elektrik mengandung senyawa kimia Formaldehida. Senyawa ini dikenal sebagai agen kanker yang mematikan.

Pekan kemarin, New England Journal of Medicine menerbitkan penelitian mereka yang mengklaim bahwa vaping lebih berbahaya daripada merokok.

Penelitian itu menemukan bahwa menghisap 10 kali rokok elektrik akan membombardir penggunanya 2,5 kali lebih banyak Formaldehida daripada menghabiskan satu pak rokok konvensional.

Disebutkan juga rokok elektrik bisa menimbulkan kebakaran seperti rokok konvensional dan dianggap tidak efektif dalam membantu orang berhenti merokok.

Badan Kesehatan Dunia WHO telah melarang penggunaan rokok elektrik di ruangan tertutup karena menimbulkan risiko bagi anak-anak dan janin.

Sumber: Daily Mail *

Sabtu, 17 Mei 2014

Konsumsi 200 Gram Sayuran/Buah-buahan Atasi Risiko Stroke

Sebuah penelitian terbaru dari American Heart Association (AHA) menunjukkan konsumsi sayuran dan buah-buahan sebanyak 200 gram per hari dapat mengurangi risiko stroke. Badan kesehatan dunia, WHO, memperkirakan peningkatan konsumsi sayuran dan buah hingga 600 gram/hari dapat mengurangi risiko stroke sebanyak 19 persen.

Untuk keperluan studi, AHA melakukan meta-analisis pada 20 studi yang dipublikasikan 19 tahun terakhir. Hal ini dilakukan demi memperkirakan efek umum konsumsi sayuran dan buah pada penderita stroke.

Meta-analisis ini mencakup 760.629 partisipan dan 16.981 kasus stroke. Hasil meta-analisis menunjukkan konsumsi 200 gram buah per hari menurunkan risiko stroke 32 persen. Risiko stroke menurun 11 persen jika mengkonsumsi 200 gram sayuran per hari.

"Memperbaiki diet dan gaya hidup penting untuk mengurangi risiko stroke dan jantung pada semua populasi. Secara khusus, diet kaya buah-buahan dan sayuran sangat dianjurkan karena memenuhi mikronutrien dan makronutrien serta asupan serat," ujar penulis studi dari Medical College of Qingdao University di Qingdao, Cina, Dr Yan Qu, seperti dilansir Medical News Today.

Hasil penelitian juga menunjukkan konsumsi lebih banyak sayuran dan buah juga dapat menurunkan tekanan darah, memperbaiki fungsi mikrovaskular, dan berefek menguntungkan untuk indeks massa tubuh, lingkar pinggang, kolesterol, peradangan, dan stres oksidatif.

Efek menguntungkan dari konsumsi kedua jenis makanan ini dapat dirasakan pria dan perempuan berapa pun usianya. AHA merekomendasikan orang dewasa rata-rata harus mengkonsumsi 4-5 porsi sayuran dan buah-buahan per hari. Semakin bervariasi warna serta tipe sayur dan buah-buahan yang dikonsumsi, semakin banyak asupan vitamin, mineral, dan serat pada tubuh.

Dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Stroke ini disebutkan, di negara-negara dengan masyarakat berpendapatan tinggi, kasus stroke menurun 42 persen selama empat tahun terakhir. Namun, di negara-negara dengan masyarakat berpendapatan menengah, kasus stroke justru dua kali lipat lebih tinggi.

Angka kematian tertinggi akibat stroke ditemukan di negara dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Pada 2010, stroke bahkan menjadi penyebab utama kematian di Cina. Para ahli kesehatan sepakat perbaikan diet dan gaya hidup penting untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular pada semua populasi.

Bagian penting dari perbaikan diet adalah mendorong orang-orang mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah-buahan. Hanya, prevalensi konsumsi kedua jenis makanan ini rendah di seluruh dunia, terutama di negara dengan masyarakat berpendapatan rendah. Sumber *

Jumat, 06 September 2013

Makan Buah Segar Lebih Sehat Dibanding Jus Buah

JAKARTA— Mengonsumsi buah segar seperti anggur, apel, dan pir telah banyak diketahui dapat mengurangi risiko terkena diabetes.

Namun, ternyata meminum jus buah justru dapat meningkatkan risiko yang erat kaitannya dengan kolesterol dan kadar gula dalam darah tersebut.. Belum lama ini, gabungan peneliti dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Singapura melakukan investigasi kesehatan besar-besaran yang mengambil tempat di negeri Paman Sam.

Proyek tersebut melibatkan lebih dari 187 ribu orang perawat dan praktisi kesehatan setempat untuk memonitor gaya hidup masyarkat di sana, termasuk salah satu isunya adalah pola makan tidak sehat yang memicu diabetes. Studi tersebut menunjukkan hasil berupa responden yang rutin setidaknya dua kali seminggu mengonsumsi buah segar, khususnya blueberry, anggur, dan apel, mampu mengurangi risiko terkena diabetes hingga 23 persen dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi buah segar setidaknya sebulan sekali.

Di sisi lain, mereka yang sekali atau berkali-kali meminum jus buah setiap harinya justru menunjukkan peningkatan risiko terkena diabetes hingga 21 persen. Laporan ilmiah yang di publikasikan di dalam Bristish Medical Journal menyatakan bahwa hasil studi tersebut membutuhkan kerja yang lebih keras untuk kian membuktikan kejelasan perbedaan manfaat buah segar dan jus buah.

Beberapa spekulasi menyatakan bahwa walaupun kandungan nutrisi pada buah segar dan jus buah itu sama, namun fakta bentuknya jelas berbeda, buah segar berbentuk nutrisi solid, sedangkan jus berupa sari dalam cair.

"Nutrisi dalam bentuk cairan lebih cepat masuk ke dalam saluran pencernaan dan lebih cepat pula diserap oleh usus besar dan mendorong tubuh memproduksi lebih banyak insulin yang mengakibatkan level gula darah meningkat," jelas Qi Sun, asisten profesor di bidang nutrisi pada Sekolah Kesahatan Masyarakat, Universitas Harvard, AS.

Studi ini sendiri dilakukan dengan meneliti data dari Studi Keperawatan Kesehatan yang diambil pada medio tahun 1984 -2008, Studi Keperawatan Kesehatan jilid dua (1991-2009), dan Studi Lanjut Profesional Kesehatan (1986-2008).

Adapun buah-buahan yang digunakan dalam studi ini, baik dalam bentuk buah segar maupun jus buah, adalah anggur, buah persik, aprikot, buah prem, pisang, melon, apel, pir, jeruk, stroberi, dan bluberry. Sumber *

Sabtu, 17 Agustus 2013

Jalan atau Bersepeda ke Kantor Bisa Pangkas Risiko Diabetes dan Obesitas

Jika memang dirasakan jarak dari rumah ke kantor tak begitu jauh, ada baiknya Anda pertimbangkan untuk lebih memilih berangkat bekerja dengan cara berjalan kaki atau bersepeda daripada naik angkutan umum atau kendaraan pribadi. Sebab sebuah studi menemukan bahwa kebiasaan ini bisa memangkas risiko diabetes dan obesitas.

Meskipun dirasakan sangat sulit untuk membiasakan diri melakukan hal ini, namun hasil penelitian yang dilakukan di Inggris ini memberikan manfaat yang luar biasa, seperti dilansir Men's Health, Rabu (14/8/2013). Selanjutnya *

Wanita Obesitas Bisa Pangkas Risiko Kanker Endometrium dengan Olahraga

Manfaat sehat yang didapat dari olahraga tak lagi diragukan. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa olahraga teratur bisa mengurangi risiko kanker endometrium pada perempuan yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

"Aktivitas fisik sedang dan berat memang dikaitkan dengan penurunan risiko kanker endometrium bagi perempuan obesitas, namun sayangnya hal ini tak cukup signifikan bagi perempuan kurus," papar Christina M. Dieli-Conwright, seorang peneliti dari Beckman Research Institute of City of Hope, Duarte, California, seperti dilansir Reuters, Sabtu (17/8/2013). Selanjutnya *

Sabtu, 27 Juli 2013

Minum Kopi Turunkan Risiko Bunuh Diri

Harvard--Penelitian tentang manfaat kopi terus dilakukan ilmuwan. Sebuah penelitian terbaru menunjukan minum kopi dua hingga empat cangkir sehari bisa menurunkan risiko bunuh diri hingga 50 persen.

Kesimpulan itu didapat peneliti dari Harvard School of Public Health, Amerika. Mereka mempelajari data dari tiga penelitian sebelumnya. Hasilnya, risiko bunuh diri di antara orang dewasa yang mengkonsumsi kopi berkafein dua hingga empat cangkir sehari turun 50 persen dibanding mereka yang minum kopi tanpa kafein, minum sedikit kopi, atau mereka yang sama sekali tidak minum kopi.

Peneliti mengkaji 200 ribu data pria dan wanita terkait konsumsi kopi mereka, baik berkafein atau tidak, termasuk teh, minuman ringan berkafein, dan cokelat. Selama penelitian yang berlangsung 6,5 tahun itu, terdapat 277 kematian akibat bunuh diri.

"Secara keseluruhan, hasil penelitian kami menunjukan bahwa ada sedikit tambahan manfaat dalam mengkonsumsi di atas dua atau tiga cangkir 400 miligram kafein per hari," kata kepala peneliti Michel Lucas, sebagaimana dilansir Daily Mail, Jumat, 26 Juli 2013.

Bagaimana hubungan konsumsi kopi dengan penurunan risiko bunuh diri. Peneliti mengatakan kafein bekerja dengan merangsang pusat saraf pusat tapi bisa berperan sebagai antidepresan ringan dengan meningkatkan produksi neurotransmiter 'mood bagus' di otak, misalnya serotonin, dopamin, dan noradrenalin.

Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa pada penelitian epidemiologi sebelumnya peneliti menemukan adanya risiko depresi yang lebih rendah pada pengkonsumsi kopi di masa lalu. Meskipun demikian, bukan berarti peneliti menyarankan orang yang depresi mengobati sendiri penyakit yang dialaminya dengan meningkatkan konsumsi kafein. Sumber *

Kamis, 18 Juli 2013

Makanan Manis Bisa Picu Kanker Usus?

Hobi makan cokelat, biskuit, kue, junk food, keripik, permen hingga soda? Bukan hanya risiko obesitas saja yang mengancam, risiko kanker usus juga membututi Anda.

Dalam studi terbaru di Aberdeen dan Edinburgh University diketahui bahwa makanan manis dan berlemak bisa mengalami kanker usus 18 kali lipat lebih tinggi dibandingkan makanan sehat seperti sayur dan buah.

"Makan terlalu banyak sudah bisa menyebabkan berat badan naik. Kita tahu bahwa hal itu berkaitan dengan risiko kanker usus yang lebih tinggi," jelas Jessica Harris dari Cancer Research UK, seperti dikutip dari Daily Mail (18/7).

Belum jelas bagaimana makanan tersebut bisa menyebabkan kanker usus. Namun tak ada salahnya mulai mengurangi mengonsumsi makanan manis dan berlemak. Menurut peneliti, cara terbaik mengurangi risiko kanker usus adalah dengan rajin olahraga, mengurangi alkohol dan makan makanan seimbang demi menjaga kestabilan berat badan.

Senin, 03 Juni 2013

Melupakan Sejarah Keluarga Anda

Untuk mengetahui risiko jantung pada diri sendiri, Anda perlu mengetahui sejarah keluarga. Anda harus tahu penyakit apa saja yang pernah keluarga Anda derita dan ketahui pula sejarah tentang kakek Anda, jika sudah meninggal. Cobalah cari tahu, bagaimana kakek Anda meninggal, pada usia berapa, dan ketahui juga gaya hidup mereka. Jika saudara kandung Anda memiliki tanda-tanda penyakit jantung, terutama pada usia dini, risiko Anda mungkin juga lebih tinggi.

Jadi, ayo koreksi kembali gaya hidup Anda karena sangat berpengaruh pada kesehatan tubuh Anda.

Sumber: *

Mengabaikan Kacang

Kacang diketahui sebagai sumber protein bebas lemak jenuh dan salah satu sumber serat larut terbaik yang penting dalam mengurangi kolesterol jahat LDL sehingga akan menurunkan risiko penyakit jantung koroner.

Jadi, saat butuh camilan sehat, pilihlah kacang kulit!

Kurang Konsumsi Susu

Dalam penelitian terbaru, dokter telah meneliti lebih dari 82.000 wanita setelah masa menopause selama 8 tahun dan menemukan bahwa wanita yang mendapatkan asupan susu tertinggi mengurangi 50% risiko mereka terhadap penyakit diabetes, dibandingkan dengan wanita yang kurang menerima asupan susu.

Jadi jika Anda mengurangi konsumsi susu, berarti Anda telah memilih untuk “pergi” lebih cepat.

3. Mengabaikan Kacang

Selasa, 02 April 2013

Makan Lebih Banyak Serat Dapat Menurunkan Risiko Stroke Yang Pertama Kali

Studi Highlights:
  • Mengonsumsi makanan dengan serat lebih banyak dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah dari pertama kali stroke.
  • Setiap kenaikan tujuh gram serat makanan total dikaitkan dengan risiko 7 persen lebih rendah dari pertama kali stroke.
  • Hasil memperkuat pentingnya diet yang mencakup setidaknya 25 gram serat setiap hari.

DALLAS, 28 Maret 2013 - Makan lebih banyak serat dapat menurunkan risiko stroke yang pertama kali, menurut penelitian baru dalam Stroke jurnal American Heart Association.

Serat pangan adalah bagian dari tanaman yang tubuh tidak menyerap selama proses pencernaan. Serat dapat larut, yang berarti larut dalam air, atau tidak larut.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa serat makanan dapat membantu mengurangi faktor risiko untuk stroke, termasuk tekanan darah tinggi dan  tingkat low-density lipoprotein (LDL) "buruk" kolesterol dalam darah tinggi.

Dalam studi baru, para peneliti menemukan bahwa setiap kenaikan tujuh gram serat dalam asupan harian total dikaitkan dengan penurunan 7 persen pada pertama kali risiko stroke. Satu porsi pasta gandum, ditambah dua porsi buah atau sayuran, menyediakan sekitar 7 gram serat, kata para peneliti.

"Asupan yang lebih besar dari makanan kaya serat - seperti secara keseluruhan-biji-bijian, buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan - yang penting bagi semua orang, dan terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko stroke seperti kelebihan berat badan, merokok, dan memiliki tekanan darah tinggi," Diane Threapleton, M Sc.., dan kandidat Ph.D. di University of Leeds Sekolah 'Ilmu Pangan & Gizi di Leeds, Inggris Raya.

Peneliti menganalisis delapan penelitian yang diterbitkan antara 1.990-2.012. Studi yang dilaporkan pada semua jenis stroke dengan empat khusus memeriksa risiko stroke iskemik, yang terjadi ketika blok bekuan pembuluh darah ke otak. Tiga stroke hemoragik dinilai, yang terjadi ketika pendarahan pembuluh darah ke otak atau pada permukaannya.

Temuan dari studi observasi digabungkan dan menyumbang faktor-faktor risiko stroke seperti usia dan merokok.

Hasil didasarkan pada serat makanan total. Para peneliti tidak menemukan hubungan dengan serat larut dan risiko stroke, dan tidak memiliki cukup data pada serat larut untuk membuat kesimpulan.

Asupan serat harian rata-rata antara orang dewasa AS lebih rendah dari rekomendasi American Heart Association of setidaknya 25 gram per hari. Enam sampai delapan porsi biji-bijian dan delapan sampai 10 porsi buah dan sayuran dapat memberikan jumlah yang disarankan.

Kebanyakan orang tidak mendapatkan tingkat yang direkomendasikan serat, dan meningkatkan serat dapat menyebabkan risiko lebih rendah untuk stroke, "kata Threapleton. "Kita harus mendidik konsumen tentang pentingnya terus meningkatkan asupan serat dan membantu mereka belajar bagaimana meningkatkan serat dalam diet mereka."

Di Amerika Serikat, stroke adalah penyebab utama keempat kematian, menewaskan lebih dari 137.000 orang setiap tahunnya. Di antara korban selamat, penyakit ini merupakan penyebab utama kecacatan.

Selain mengikuti diet bergizi, American Heart Association merekomendasikan secara fisik aktif dan menghindari rokok untuk membantu mencegah stroke dan jantung lainnya dan penyakit pembuluh darah.

Selasa, 26 Maret 2013

Isolasi, Kesepian Bisa Naikkan Risiko Kematian untuk Lansia



Studi menemukan kurangnya kontak sosial prediktor yang lebih besar dari kematian dini daripada hanya merasa sendirian

Senin, 25 Maret (HealthDay News) - Orang tua yang terisolasi secara sosial dan kesepian mungkin menghadapi risiko yang lebih besar kematian dini, peneliti Inggris melaporkan.

Kurangnya kontak sosial mungkin menjadi faktor risiko yang lebih besar daripada kesepian, mereka menambahkan. Kenapa, bagaimanapun, isolasi adalah suatu prediktor kuat kematian yang belum jelas.

"Kontak sosial merupakan aspek fundamental dari eksistensi manusia. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa menjadi terisolasi secara sosial mungkin buruk bagi kesehatan Anda, dan dapat menyebabkan perkembangan penyakit serius dan masa hidup berkurang," kata pemimpin peneliti Andrew Steptoe, direktur Institut Perawatan Epidemiologi dan Kesehatan di University College London.

Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa kesepian memiliki asosiasi yang sama dengan kesehatan yang buruk, katanya.

"Dalam banyak hal, isolasi sosial dan kesepian adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Isolasi sosial menunjukkan kurangnya kontak dengan teman-teman, kerabat dan organisasi, sementara kesepian adalah pengalaman subjektif dari kurangnya kontak persahabatan dan sosial," kata Steptoe.

Para peneliti menemukan bahwa isolasi sosial adalah prediktor yang lebih konsisten daripada yang tidak hidup kesepian, dan berkaitan dengan risiko yang lebih besar kematian bahkan setelah usia dan latar belakang kesehatan yang diperhitungkan, katanya.

Seorang pakar mengatakan temuan yang agak tak terduga.

"Anda akan berpikir bahwa kesepian akan menambah risiko untuk kematian, dibandingkan dengan hanya isolasi - itu adalah sedikit kejutan," kata Dr Bryan Bruno, kursi bertindak psikiatri di Lenox Hill Hospital di New York City, yang tidak terlibat dengan studi.

Namun, Steptoe menjelaskan, "Mengetahui tentang bagaimana peserta kesepian merasa tidak menambah kemampuan kita untuk memprediksi kematian masa depan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kesepian tidak penting, atau bahwa kita tidak harus berusaha untuk mengurangi kesepian pada pria usia lanjut dan wanita," katanya kata.

"Tapi, kita perlu mengawasi pada koneksi sosial orang tua, karena mempertahankan kontak sosial antara senior dan mengurangi isolasi mungkin sangat penting untuk kelangsungan hidup masa depan mereka," tambah Steptoe.

Bruno setuju bahwa isolasi adalah faktor yang signifikan dalam kualitas hidup berkurang dan kematian. "Ini adalah masalah, sulit menantang," katanya.

"Untuk pasien tua saya, saya sering melakukan banyak pendidikan tentang risiko yang terkait dengan terisolasi dan mendorong mereka untuk menghabiskan banyak waktu dengan orang lain mungkin, apakah itu keluarga, teman atau kelompok bergabung, organisasi masyarakat atau pekerjaan sukarela melakukan , "kata Bruno.

Laporan ini diterbitkan tanggal 25 Maret di edisi online dari Prosiding National Academy of Sciences.

Untuk melihat risiko kesepian dan isolasi sosial pada sekarat, tim Steptoe mengumpulkan data dari 6.500 pria dan wanita berusia 52 dan lebih tua yang mengambil bagian dalam studi longitudinal Inggris Penuaan pada tahun 2004.

Orang-orang yang telah membatasi kontak dengan keluarga atau teman atau masyarakat yang tergolong terisolasi secara sosial. Para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai kesepian, yang dijelaskan dalam informasi latar belakang dalam penelitian sebagai "ketidakpuasan seseorang dengan frekuensi dan kedekatan kontak sosial mereka, atau perbedaan antara hubungan yang mereka miliki dan hubungan yang mereka ingin memiliki. "

Selama hampir delapan tahun masa tindak lanjut, 918 orang meninggal dan isolasi sosial dan kesepian keduanya memprediksi kematian dini.

Isolasi sosial, bagaimanapun, meningkatkan risiko kematian terlepas dari kesehatan seseorang dan faktor lainnya, sedangkan kesepian meningkatkan risiko kematian di antara mereka hanya dengan masalah mental atau fisik yang mendasari, para peneliti menemukan.

SUMBER: Andrew Steptoe, Ph.D., direktur, Institut Epidemiologi dan Kesehatan, Universitas College London, Inggris, Bryan Bruno, MD, kursi bertindak psikiatri, Lenox Hill Hospital, New York City, 25 Maret 2013, Prosiding Nasional Academy of Sciences, online

Sumber: *

Faktor Gaya Hidup Tertentu Terkait dengan Arthritis



Skrining untuk merokok, obesitas dan diabetes dapat membantu mengidentifikasi mereka yang berisiko lebih besar untuk rheumatoid arthritis

Senin, 25 Maret (HealthDay News) - Merokok, obesitas dan diabetes semua dikaitkan dengan peningkatan risiko perkembangan rheumatoid arthritis, sebuah studi baru menunjukkan.

Para peneliti mengatakan temuan mereka bisa digunakan untuk membuat alat skrining sederhana untuk mengidentifikasi orang yang berisiko tinggi untuk rheumatoid arthritis, penyakit autoimun yang menyebabkan rasa sakit, bengkak, kekakuan dan kehilangan fungsi pada sendi, dan juga dapat mempengaruhi organ tubuh lainnya.

Tim di Unit Penelitian Epidemiologi Arthritis Inggris mengkaji data dari lebih dari 25.000 orang, berusia 40 sampai 79 tahun, yang diikuti selama beberapa tahun. Ketika mereka membandingkan 184 orang yang menderita rheumatoid arthritis dengan orang-orang yang tidak, para peneliti menemukan bahwa merokok, obesitas dan diabetes semua terkait dengan peningkatan risiko.

Para peneliti juga menemukan bahwa minum alkohol dalam jumlah sedikit dan berada di kelas sosial yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko perkembangan penyakit sendi yang menyakitkan.

Perempuan yang memiliki lebih dari dua anak dan menyusui untuk jumlah waktu yang lebih singkat juga ditemukan memiliki risiko lebih tinggi terkena rheumatoid arthritis, penulis penelitian mengatakan.

"Faktor-faktor yang kita pelajari memberi kita petunjuk penting untuk peristiwa awal dalam proses yang berakhir pada seseorang perkembangan rheumatoid arthritis. Hal-hal itu adalah masalah sederhana dan dapat digunakan sebagai bagian dari program pencegahan," kata pemimpin studi Ian Bruce, seorang profesor dari Pra di University of Manchester dan peneliti senior di Institut Nasional untuk Penelitian Kesehatan di Inggris, mengatakan dalam sebuah rilis berita universitas.

Studi ini diterbitkan dalam edisi 17 Maret jurnal Annals dari Penyakit rematik.

Meskipun studi ini menemukan hubungan antara faktor-faktor gaya hidup tertentu dan pengembangan rheumatoid arthritis pada populasi penelitian, itu tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

University of Manchester, siaran pers, 18 Maret 2013

Sumber: *

Rabu, 20 Maret 2013

Kurangi Risiko Kanker Hingga Separuh dengan 7 Langkah Ini

Sebelumnya American Heart Association pernah mengeluarkan 7 langkah efektif untuk menjaga kesehatan jantung yang disebut dengan Life's Simple 7. Namun tak hanya itu menurut sebuah studi baru, ketujuh langkah itu ternyata juga dapat menurunkan risiko kanker pada seseorang.

"Bahkan jika Anda hanya mempraktikkan 6 saja, risiko kanker Anda akan berkurang hingga separuh," ungkap peneliti Laura Rasmussen-Torvik yang juga profesor di bidang kedokteran preventif dari Feinberg School of Medicine, Northwestern University, AS.

American Heart Association (AHA) mengembangkan metode 7 langkah ini pada tahun 2010 dengan tujuan mengurangi kasus kematian akibat serangan jantung dan stroke hingga 20 persen pada tahun 2020.

Inilah ke-7 langkah yang tergabung ke dalam Life's Simple 7:
1. Aktif bergerak - AHA merekomendasikan olahraga sedikitnya 150 menit perminggu
2. Mengendalikan kolesterol - kadar kolesterol seseorang tak boleh lebih dari 200 miligram perdesiliter.
3. Memperbaiki pola makan - mengonsumsi makanan seperti gandum utuh, buah-buahan, sayuran dan lean protein seperti ikan, termasuk membatasi asupan sodium atau garam, gula tambahan, lemak trans dan lemak jenuh.
4. Mengatur tekanan darah - tekanan darah tak boleh lebih dari 120/80
5. Menurunkan berat badan - indeks massa tubuh (BMI) harus di bawah 25
6. Mengurangi gula darah - fasting blood sugar (FBS)-nya harus di bawah 100 yang dapat dicapai dengan menghindari soda, permen dan makanan penutup lainnya, termasuk aktif berolahraga
7. Berhenti merokok, bagaimanapun caranya.

"Kami hanya ingin menguji hipotesis tersebut, lalu dari situ kami berharap informasi ini akan memberikan motivasi ekstra pada publik agar menjalankan Life's Simple 7 ini," tandas Rasmussen-Torvik seperti dilansir dari abcnews, Selasa (19/3/2013).

Untuk memastikan efektivitas ke-7 langkah itu, Rasmussen-Torvik dan rekan-rekannya mengamati data dari Atherosclerosis Risk in Communities selama dua dekade. Studi tersebut berisi tentang analisis rekam medis dari 13.253 pasien dalam kurun waktu 1987-2006. Dari situ peneliti menemukan bahwa semakin banyak langkah yang diadopsi oleh pasien, semakin kecil peluang mereka untuk terserang kanker.

Secara rinci jika seseorang menjalankan 4 langkah dari Life's Simple 7 tersebut maka risiko kankernya akan berkurang hingga 33 persen. Sedangkan jika yang diikuti 6-7 langkah, penurunan risiko kankernya dapat mencapai 51 persen.

Menurut peneliti, kesemua langkah tersebut bersifat kumulatif, tapi berhenti merokok dapat memberikan peranan yang sangat signifikan bagi pencegahan kanker.

Meski Rasmussen-Torvik tak dapat menjelaskan mengapa langkah-langkah ini dapat menurunkan risiko kanker karena itu bukanlah bagian dari studinya, ia berharap pasien berkenan mengikuti Life's Simple 7 ini karena kesemuanya dapat menurunkan risiko dua penyakit paling mematikan yang pernah ada.

"Sedikit dorongan tambahan untuk orang-orang yang mengadopsi rekomendasi ini hasilnya akan luar biasa," pungkasnya.

Kamis, 31 Januari 2013

Disfungsi Ereksi Terkait Penyakit Jantung & Kematian Dini?

Sebuah penelitian di Australia menemukan bukti bahwa pria dengan disfungsi ereksi (ED) memiliki risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung, bahkan meski tidak memiliki sejarah masalah jantung sekalipun, dan juga berisiko lebih besar alami kematian dini.

Penelitian dari Australian National University, The University of Sydney, Victor Chang Cardiac Research Institute, dan The George Institute for Global Health, ini adalah yang pertama kalinya menunjukkan hubungan langsung antara masalah disfungsi ereksi dan risiko kematian dini atau penyakit jantung.

“Risiko penyakit jantung di kemudian hari dan kematian dini bisa terus meningkat seiring dengan tingkat keparahan disfungsi ereksi, baik pada pria dengan dan tanpa sejarah penyakit kardiovaskular,” ujar penulis studi 45 and Up Study, Profesor Emily Banks, seperti dikutip Zeenews.com.

“Disfungsi ereksi (ED) lebih cenderung menjadi gejala atau ‘silent signal’ adanya penyakit jantung. Di masa depan, sinyal ini bisa menjadi penanda yang berguna untuk membantu dokter dalam memprediksi risiko masalah kardiovaskular. Ini memang topik sensitif, tetapi pria yang menderita ED jangan malu dan diam saja, karena ada pengobatan yang efektif, baik untuk ED dan penyakit jantung,” tambahnya.

Masalah ereksi termasuk salah satu penyakit yang sangat umum. Sekitar 1 dari 5 pria berusia 40 ke atas dilaporkan mengalami disfungsi ereksi sedang atau parah. Dalam penelitian ini, para ilmuwan meneliti data kematian sekitar 95.000 pria.

“Kami menemukan bahwa pria dengan ED lebih berisiko terkena serangan jantung, gagal jantung, penyakit pembuluh darah perifer, dan masalah jantung konduksi,” kata Prof. Banks.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional PLOS Medicine.

Selasa, 18 Desember 2012

7 Hal Mengejutkan Ini Menjadi Faktor Risiko Penyakit Jantung

Seseorang mungkin telah berusaha menjauhi faktor penyebab penyakit jantung seperti makanan berlemak, merokok dan kurangnya aktivitas fisik. Tetapi risiko penyakit jantung ternyata dapat meningkat karena faktor lain yang mungkin mengejutkan Anda.

Berdasarkan beberapa studi, 7 hal ini juga dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung. Seperti dilansir Besthealth, Selasa (18/12/2012), ketujuh faktor tersebut antara lain:

1. Golongan darah A, B atau AB
Menurut Harvard School of Public Health, orang dengan tipe darah A, B atau AB memiliki risiko penyakit jantung yang sedikit lebih tinggi dibanding orang dengan tipe darah O. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa risiko meningkat hingga 5 persen pada orang dengan golongan darah A, 11 persen pada orang dengan golongan darah B, dan 23 persen pada orang dengan golongan darah AB.

Para peneliti belum yakin mengapa ada perbedaan tersebut, tetapi ada bukti bahwa golongan darah O memiliki aliran darah yang lebih baik dan jenis golongan darah lainnya mungkin mengandung kolesterol jahat yang kadarnya lebih tinggi.

2. Sleep apnea yang tidak diobati
Para ilmuwan menemukan lebih banyak bukti bahwa sleep apnea, gangguan tidur di mana pernapasan berhenti secara periodik ketika tidur, terkait dengan penyakit kardiovaskuler. Orang dengan sleep apnea lebih mungkin memiliki faktor risiko lain untuk penyakit jantung seperti obesitas dan diabetes.

Namun, dokter di La Fe University dan Polytechnic Hospital di Valencia, Spanyol, baru-baru ini menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan pengobatan terhadap sleep apnea, risiko kematian pasien kardiovaskular yang sedang dirawat di rumah sakit akan berkurang dan kembali normal.

3. Menopause dini
Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, baru-baru ini menemukan bahwa wanita yang mengalami menopause dini atau sebelum usia 46 tahun, memiliki kemungkinan serangan jantung atau stroke hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan wanita yang mengalami menopause pada usia lebih tua.

Meskipun hal ini tidak berarti menopause dapat menyebabkan penyakit jantung, wanita dalam kelompok menopause dini juga lebih cenderung memiliki faktor risiko panyakit jantung lainnya seperti BMI tinggi, diabetes dan kebiasaan merokok.

4. Perut buncit
Gemuk hanya di bagian perut lebih berbahaya daripada gemuk seluruh badan. Menurut penelitian terbaru dari Mayo Clinic menunjukkan bahwa orang yang memiliki berat badan normal bisa berisiko tinggi terhadap penyakit jantung jika memiliki perut yang buncit dan lingkar pinggang yang besar karena lemak yang menumpuk.

5. Bekerja shift malam
Orang yang bekerja shift malam, 23 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung daripada orang yang bekerja hanya di siang hari. Hal ini dikemukakan oleh para peneliti di Western University, di mana alasannya adalah jadwal kerja di malam hari dapat mengacaukan ritme sirkadian tubuh.

6. Sejarah kekerasan saat masih anak-anak
Menurut penelitian terbaru dari American Psychological Association, wanita paruh baya yang pernah mengalami kekerasan secara fisik di masa kecil berada pada risiko yang lebih besar terhadap penyakit jantung.

Dalam studi tersebut, para wanita korban kekerasan fisik di masa lalu, 2 kali lebih mungkin memiliki tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, ukuran pinggang lebih besar dan tingkat kolesterol yang tidak sehat, yang semuanya adalah faktor risiko penyakit jantung. Alasannya adalah trauma masa kecil dapat menyebabkan stres yang lebih tinggi dan pola makan yang buruk, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.

7. Asupan vitamin D yang rendah
Para peneliti dari University of Copenhagen melakukan sebuah studi yang melibatkan lebih dari 10.000 orang di Denmark dan menemukan bukti bahwa tingkat rendah vitamin D terkait dengan risiko penyakit jantung, serangan jantung dan kematian.

Para peneliti tidak yakin apakah kekurangan vitamin D sebenarnya mengarah ke penyakit jantung atau hanya sebuah indikator kesehatan yang buruk dan berpengaruh pada kondisi jantung.

Kamis, 16 Agustus 2012

Golongan Darah AB Paling Rentan Terhadap Risiko Penyakit Jantung

Golongan darah seseorang ternyata membantu menentukan risiko penyakit jantung.

Penelitian terbaru dari Harvard University menyimpulkan bahwa orang-orang yang bergolongan darah AB, tak hanya menjadi orang dengan golongan darah paling langka, tetapi juga paling rentan terhadap risiko penyakit jantung.

Temuan dalam journal Arteriosclerosis, Thrombosis and Vascular Biology ini juga mengklaim orang dengan golongan darah O memiliki risiko terendah terhadap salah satu penyakit mematikan ini.

"Jika Anda tahu Anda berisiko tinggi, maka kurangi risikonya dengan menerapkan gaya hidup sehat, seperti makan yang benar, berolahraga dan tidak merokok," jelas peneliti Profesor Lu Qi, dilansir melalui Dailymail (14/8).

Menurut peneliti, golongan darah AB amat terkait dengan peradangan, yang menyebabkan kerusakan arteri. Sedangkan orang dengan golongan darah O memiliki zat alami yang diduga membantu aliran darah dan mengurangi pembekuan.

Senin, 05 Maret 2012

Mengonsumsi Vitamin E Secara Berlebihan Kurang Baik Untuk Kesehatan

Sebagai salah satu suplemen paling populer di dunia, ternyata vitamin E menyimpan 'keganasan', yakni bisa membuat tulang tua dan rapuh sebelum waktunya.

"Hewan yang diberikan vitamin E, 20 persen tulangnya menjadi lebih lemah dibandingkan dengan yang tidak diberi vitamin E, dan hal ini sangat mengkhawatirkan, karena efeknya terlihat hanya delapan minggu setelah pemberian vitamin," tulis sebuah studi di London, Inggris.

Bukan tanpa alasan para ilmuwan London, Inggris meneliti vitamin E. Pasalnya, popularitas suplemen vitamin E semakin mendunia dan semakin populer karena dikonsumsi ratusan ribu hingga jutaan orang di Inggris setiap harinya. Bahkan, satu dari sepuluh orang dewasa di Amerika Serikat diketahui rutin mengonsumsi suplemen vitamin E setiap harinya.

Hal itu terjadi, karena vitamin E diyakini dapat mencegah risiko penyakit jantung, kanker dan katarak. Selain itu, tak sedikit orang percaya vitamin E membantu menjaga pikiran tetap tajam di usia tua dan menjaga kelenturan kulit.

Selain di dalam suplemen, secara alami vitamin E dapat ditemukan di dalam sereal, kacang-kacangan, minyak Zaitun dan kuning telur.

Namun, dibalik kegunaannya, mengonsumsi vitamin E secara berlebihan ternyata kurang baik untuk kesehatan. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Nature Medicine dijelaskan, vitamin E memiliki efek alfa-tokoferol yang mempengaruhi kekuatan tulang.


Dosis dan pengaruh

Bila vitamin E digunakan sebagai antioksidan, maka seorang perempuan membutuhkan sedikitnya 120 IU (international unit) per hari[3]. Namun menurut catatan medis, kebanyakan perempuan Indonesia hanya mengonsumsi makanan yang mengandung 10.4 - 13,4 IU per hari[3]. Untuk mencukupi kebutuhan itu, vitamin E dapat dikonsumsi dari vitamin E sintetis (dl-a tokoferol)[3].

Dosis vitamin E yang besar bisa memperbaiki dan mencegah terjadinya perkembangan kelainan saraf[6]. Beberapa penelitian menunjukan bahwa peningkatan konsumsi vitamin E dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh[6]. Asupan vitamin E harian sebesar 10-30 mg dianggap cukup untuk mempertahankan kadar viamin E dalam darah[7]. Namun batas konsumsi vitamin E yang dianjurkan adalah 8 sampai 10 IU(International Units)- suatu batas dimana sepertiga orang Amerika menggunakannya[7]. Untuk keuntungan maksimal vitamin E, diperlukan 100 sampai 400 IU setiap hari[7]. Sebagian besar penelitian menunjukan bahwa ini merupakan konsumsi optimal untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Sedangkan dalam bahan makanan yang kita konsumsi setiap harinya diperkirakan mengandung 25 IU vitamin E[7].
Kekurangan

Kekurangan vitamin E akan menyeabkan sel darah merah terbelah. Proses ini disebut hemolisis eritrodit dan dapat dihindari dengan vitamin E.[1]

Akibat lain kekurangan vitamin E adalah[1]:
  • perubahan degeneratif pada sistem saraf dan otot
  • kelemahan dan kesulitan berjalan 
  • nyeri pada otot betis
  • gangguan penglihatan 
  • anemia
  • retensi cairan (odem) 
  • kelainan kulit 
Pada bayi, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan kelainan yang mengganggu penyerapan lemak pada bayi yang prematur dan kekurangan gizi.[6] Namun kekurangan vitamin E sesungguhnya sangat jarang terjadi karena vitamin ini banyak terdapat dalam makanan, terutama dalam minyak sayur.[6] Pada manusia kekurangan vitamin E bisa disebabkan karena diet yang sangat buruk dalam jangka waktu lama.[6]
Kelebihan

Pada umumnya vitamin E dianggap sebagai bahan yang cukup aman.[3] Dalam beberapa kasus, kelebihan vitamin E menimbulkan gangguan pada kinerja sistem imun terhadap infeksi[7]. Gejala yang akan dirasakan adalah sakit kepala, lemah dan selalu lelah, serta pusing yang disertai gangguan penglihatan[3]. Untuk itu, jumlah vitamin E dalam tubuh harus berada dalam batasan yang ketat.[3]

Yahoo News & Wikipedia Indonesia

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...