Selain serat, vitamin, mineral, dan antioksidan, buah dan sayur juga kaya akan kalium. Kalium adalah elektrolit penting bagi fungsi jantung dan juga membantu menyeimbangkan kadar asam-basa dalam tubuh.
Kalium juga dapat mengurangi kadar sodium yang terdapat pada zat pewarna dalam makanan yang Anda konsumsi dan menambah nutrisi untuk menjaga tekanan darah. Buah jeruk, pisang, kentang, tomat, dan kacang-kacangan adalah sumber makanan kaya kalium.
Sebuah penelitian baru menemukan, orang yang cukup mendapatkan asupan gizi dari buah dan sayur dapat menurunkan risiko terserang stroke hingga 52%.
8. Kurang berjalan kaki
Tampilkan postingan dengan label kacang-kacangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kacang-kacangan. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 Juni 2013
Minim konsumsi sayur dan buah kaya kalium
Label:
antioksidan,
asam-basa,
buah,
elektrolit,
jalan kaki,
jantung,
jeruk,
kacang-kacangan,
kalium,
kentang,
menyeimbangkan,
penelitian,
pising,
sayur,
serat,
sodium,
stroke,
tekanan darah,
tomat,
zat pewarna
Senin, 29 April 2013
Ingin Sehatkan Jantung Mantan Perokok? Konsumsilah Vitamin E!
Sakit jantung adalah konsekuensi terburuk dari merokok! Tetapi tahukah Anda, ada suplementasi vitamin yang mampu sehatkan kembali jantung para mantan perokok?
Dalam sebuah penelitian kecil di The Ohio State University, para peneliti mengumpulkan sebanyak 30 mantan perokok yang berusia 20 tahun sebagai responden. Para perokok itu sebelumnya merokok sebanyak setengah bungkus rokok per hari selama satu tahun sebelum mengikuti penelitian ini. Lalu seluruh peserta diminta berhenti merokok dengan pembagian 16 perokok menerima 500 miligram gamma-Tocopherol setiap harinya dan sisa 14 perokok lainnya hanya menerima plasebo.
Pada proses penelitian ini responden diminta untuk berhenti merokok selama tujuh hari dengan penanda darah peradangan dan fungsi pembuluh darah yang diukur sebelum dan sesudah percobaan. Setelah tujuh hari, peserta melihat peningkatan fungsi pembuluh darah mereka rata-rata 2,8 persen. Mereka yang berhenti merokok dan mengonsumsi gamma-Tocopherol dari vitamin E menghasilkan peningkatan tambahan 1,5 persen pada fungsi vaskular.
Richard Bruno, sang peneliti dan profesor nutrisi manusia di The Ohio State University, menyatakan, “Kami berharap dapat mengembangkan terapi berhenti merokok yang bisa mempercepat pemulihan fungsi pembuluh darah dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.”
Para peneliti menggunakan suplementasi vitamin E yang sama dengan yang dijual bebas di pasaran. Para peneliti ingin menguji efek dari konsumsi gamma-Tocopherol. Bentuk yang paling umum dari vitamin E dan salah satu yang dibutuhkan dalam diet manusia adalah alpha-Tocopherol.
Sebagai tambahan, para peneliti mengambil sampel darah untuk mengukur fungsi vaskular dengan mendapatkan gambar USG dari arteri di lengan atas sebagai alat yang merespon lonjakan aliran darah setelah sirkulasi di lengan dihentikan selama lima menit.
“Pelebaran pembuluh darah kardiovaskular menunjukkan peningkatan kesehatan jantung. Para perokok berat cenderung mengalami penyempitan pembuluh darah jantung,” ujar Bruno.
Para responden yang mengonsumsi suplemen vitamin E menunjukkan peningkatkan fungsi vaskular dan menunjukkan penurunan dua jenis protein yang terkait peradangan dalam darah dibandingkan para responden yang hanya mengonsumsi plasebo. Artinya, menurut Bruno, konsumsi vitamin E telah mengembalikan fungsi vaskular setidaknya dengan mengurangi peradangan.
Jadi, bagi Anda mantan perokok, jangan lupa ya, konsumsilah vitamin E dalam menu diet sehat sehari-hari supaya jantung kembali sehat. Sumber alami vitamin E adalah kacang kedelai, minyak kanola, dan kacang-kacangan.
Dalam sebuah penelitian kecil di The Ohio State University, para peneliti mengumpulkan sebanyak 30 mantan perokok yang berusia 20 tahun sebagai responden. Para perokok itu sebelumnya merokok sebanyak setengah bungkus rokok per hari selama satu tahun sebelum mengikuti penelitian ini. Lalu seluruh peserta diminta berhenti merokok dengan pembagian 16 perokok menerima 500 miligram gamma-Tocopherol setiap harinya dan sisa 14 perokok lainnya hanya menerima plasebo.
Pada proses penelitian ini responden diminta untuk berhenti merokok selama tujuh hari dengan penanda darah peradangan dan fungsi pembuluh darah yang diukur sebelum dan sesudah percobaan. Setelah tujuh hari, peserta melihat peningkatan fungsi pembuluh darah mereka rata-rata 2,8 persen. Mereka yang berhenti merokok dan mengonsumsi gamma-Tocopherol dari vitamin E menghasilkan peningkatan tambahan 1,5 persen pada fungsi vaskular.
Richard Bruno, sang peneliti dan profesor nutrisi manusia di The Ohio State University, menyatakan, “Kami berharap dapat mengembangkan terapi berhenti merokok yang bisa mempercepat pemulihan fungsi pembuluh darah dan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.”
Para peneliti menggunakan suplementasi vitamin E yang sama dengan yang dijual bebas di pasaran. Para peneliti ingin menguji efek dari konsumsi gamma-Tocopherol. Bentuk yang paling umum dari vitamin E dan salah satu yang dibutuhkan dalam diet manusia adalah alpha-Tocopherol.
Sebagai tambahan, para peneliti mengambil sampel darah untuk mengukur fungsi vaskular dengan mendapatkan gambar USG dari arteri di lengan atas sebagai alat yang merespon lonjakan aliran darah setelah sirkulasi di lengan dihentikan selama lima menit.
“Pelebaran pembuluh darah kardiovaskular menunjukkan peningkatan kesehatan jantung. Para perokok berat cenderung mengalami penyempitan pembuluh darah jantung,” ujar Bruno.
Para responden yang mengonsumsi suplemen vitamin E menunjukkan peningkatkan fungsi vaskular dan menunjukkan penurunan dua jenis protein yang terkait peradangan dalam darah dibandingkan para responden yang hanya mengonsumsi plasebo. Artinya, menurut Bruno, konsumsi vitamin E telah mengembalikan fungsi vaskular setidaknya dengan mengurangi peradangan.
Jadi, bagi Anda mantan perokok, jangan lupa ya, konsumsilah vitamin E dalam menu diet sehat sehari-hari supaya jantung kembali sehat. Sumber alami vitamin E adalah kacang kedelai, minyak kanola, dan kacang-kacangan.
Label:
alpha-Tocopherol,
e,
fungsi pembuluh darah,
gamma-Tocopherol,
jantung,
kacang kedelai,
kacang-kacangan,
kardiovaskular,
mantan,
minyak kanola,
peradangan,
Perokok,
plasebo,
responden,
Richard Bruno,
sehat,
vitamin
Senin, 05 Maret 2012
Mengonsumsi Vitamin E Secara Berlebihan Kurang Baik Untuk Kesehatan
Sebagai salah satu suplemen paling populer di dunia, ternyata vitamin E menyimpan 'keganasan', yakni bisa membuat tulang tua dan rapuh sebelum waktunya.
"Hewan yang diberikan vitamin E, 20 persen tulangnya menjadi lebih lemah dibandingkan dengan yang tidak diberi vitamin E, dan hal ini sangat mengkhawatirkan, karena efeknya terlihat hanya delapan minggu setelah pemberian vitamin," tulis sebuah studi di London, Inggris.
Bukan tanpa alasan para ilmuwan London, Inggris meneliti vitamin E. Pasalnya, popularitas suplemen vitamin E semakin mendunia dan semakin populer karena dikonsumsi ratusan ribu hingga jutaan orang di Inggris setiap harinya. Bahkan, satu dari sepuluh orang dewasa di Amerika Serikat diketahui rutin mengonsumsi suplemen vitamin E setiap harinya.
Hal itu terjadi, karena vitamin E diyakini dapat mencegah risiko penyakit jantung, kanker dan katarak. Selain itu, tak sedikit orang percaya vitamin E membantu menjaga pikiran tetap tajam di usia tua dan menjaga kelenturan kulit.
Selain di dalam suplemen, secara alami vitamin E dapat ditemukan di dalam sereal, kacang-kacangan, minyak Zaitun dan kuning telur.
Namun, dibalik kegunaannya, mengonsumsi vitamin E secara berlebihan ternyata kurang baik untuk kesehatan. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Nature Medicine dijelaskan, vitamin E memiliki efek alfa-tokoferol yang mempengaruhi kekuatan tulang.
Dosis dan pengaruh
Bila vitamin E digunakan sebagai antioksidan, maka seorang perempuan membutuhkan sedikitnya 120 IU (international unit) per hari[3]. Namun menurut catatan medis, kebanyakan perempuan Indonesia hanya mengonsumsi makanan yang mengandung 10.4 - 13,4 IU per hari[3]. Untuk mencukupi kebutuhan itu, vitamin E dapat dikonsumsi dari vitamin E sintetis (dl-a tokoferol)[3].
Dosis vitamin E yang besar bisa memperbaiki dan mencegah terjadinya perkembangan kelainan saraf[6]. Beberapa penelitian menunjukan bahwa peningkatan konsumsi vitamin E dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh[6]. Asupan vitamin E harian sebesar 10-30 mg dianggap cukup untuk mempertahankan kadar viamin E dalam darah[7]. Namun batas konsumsi vitamin E yang dianjurkan adalah 8 sampai 10 IU(International Units)- suatu batas dimana sepertiga orang Amerika menggunakannya[7]. Untuk keuntungan maksimal vitamin E, diperlukan 100 sampai 400 IU setiap hari[7]. Sebagian besar penelitian menunjukan bahwa ini merupakan konsumsi optimal untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Sedangkan dalam bahan makanan yang kita konsumsi setiap harinya diperkirakan mengandung 25 IU vitamin E[7].
"Hewan yang diberikan vitamin E, 20 persen tulangnya menjadi lebih lemah dibandingkan dengan yang tidak diberi vitamin E, dan hal ini sangat mengkhawatirkan, karena efeknya terlihat hanya delapan minggu setelah pemberian vitamin," tulis sebuah studi di London, Inggris.
Bukan tanpa alasan para ilmuwan London, Inggris meneliti vitamin E. Pasalnya, popularitas suplemen vitamin E semakin mendunia dan semakin populer karena dikonsumsi ratusan ribu hingga jutaan orang di Inggris setiap harinya. Bahkan, satu dari sepuluh orang dewasa di Amerika Serikat diketahui rutin mengonsumsi suplemen vitamin E setiap harinya.
Hal itu terjadi, karena vitamin E diyakini dapat mencegah risiko penyakit jantung, kanker dan katarak. Selain itu, tak sedikit orang percaya vitamin E membantu menjaga pikiran tetap tajam di usia tua dan menjaga kelenturan kulit.
Selain di dalam suplemen, secara alami vitamin E dapat ditemukan di dalam sereal, kacang-kacangan, minyak Zaitun dan kuning telur.
Namun, dibalik kegunaannya, mengonsumsi vitamin E secara berlebihan ternyata kurang baik untuk kesehatan. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Nature Medicine dijelaskan, vitamin E memiliki efek alfa-tokoferol yang mempengaruhi kekuatan tulang.
Dosis dan pengaruh
Bila vitamin E digunakan sebagai antioksidan, maka seorang perempuan membutuhkan sedikitnya 120 IU (international unit) per hari[3]. Namun menurut catatan medis, kebanyakan perempuan Indonesia hanya mengonsumsi makanan yang mengandung 10.4 - 13,4 IU per hari[3]. Untuk mencukupi kebutuhan itu, vitamin E dapat dikonsumsi dari vitamin E sintetis (dl-a tokoferol)[3].
Dosis vitamin E yang besar bisa memperbaiki dan mencegah terjadinya perkembangan kelainan saraf[6]. Beberapa penelitian menunjukan bahwa peningkatan konsumsi vitamin E dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh[6]. Asupan vitamin E harian sebesar 10-30 mg dianggap cukup untuk mempertahankan kadar viamin E dalam darah[7]. Namun batas konsumsi vitamin E yang dianjurkan adalah 8 sampai 10 IU(International Units)- suatu batas dimana sepertiga orang Amerika menggunakannya[7]. Untuk keuntungan maksimal vitamin E, diperlukan 100 sampai 400 IU setiap hari[7]. Sebagian besar penelitian menunjukan bahwa ini merupakan konsumsi optimal untuk mengurangi risiko penyakit kronis. Sedangkan dalam bahan makanan yang kita konsumsi setiap harinya diperkirakan mengandung 25 IU vitamin E[7].
Kekurangan
Kekurangan vitamin E akan menyeabkan sel darah merah terbelah. Proses ini disebut hemolisis eritrodit dan dapat dihindari dengan vitamin E.[1]
Akibat lain kekurangan vitamin E adalah[1]:
Kekurangan vitamin E akan menyeabkan sel darah merah terbelah. Proses ini disebut hemolisis eritrodit dan dapat dihindari dengan vitamin E.[1]
Akibat lain kekurangan vitamin E adalah[1]:
- perubahan degeneratif pada sistem saraf dan otot
- kelemahan dan kesulitan berjalan
- nyeri pada otot betis
- gangguan penglihatan
- anemia
- retensi cairan (odem)
- kelainan kulit
Kelebihan
Pada umumnya vitamin E dianggap sebagai bahan yang cukup aman.[3] Dalam beberapa kasus, kelebihan vitamin E menimbulkan gangguan pada kinerja sistem imun terhadap infeksi[7]. Gejala yang akan dirasakan adalah sakit kepala, lemah dan selalu lelah, serta pusing yang disertai gangguan penglihatan[3]. Untuk itu, jumlah vitamin E dalam tubuh harus berada dalam batasan yang ketat.[3]
Yahoo News & Wikipedia Indonesia
Pada umumnya vitamin E dianggap sebagai bahan yang cukup aman.[3] Dalam beberapa kasus, kelebihan vitamin E menimbulkan gangguan pada kinerja sistem imun terhadap infeksi[7]. Gejala yang akan dirasakan adalah sakit kepala, lemah dan selalu lelah, serta pusing yang disertai gangguan penglihatan[3]. Untuk itu, jumlah vitamin E dalam tubuh harus berada dalam batasan yang ketat.[3]
Yahoo News & Wikipedia Indonesia
Label:
8 minggu,
hewan,
jantung,
kacang-kacangan,
kanker,
katarak,
kuning telur,
minyak Zaitun,
penyakit,
pikiran,
populer,
risiko,
sereal,
suplemen,
tulang rapuh,
vitamin E
Langganan:
Postingan (Atom)