Otoritas kesehatan California memperingatkan bahaya dari rokok elektrik. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik seputar keamanan dari vaping, istilah lain untuk menghisap rokok elektrik.
Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat California, Ron Chapman mengatakan melakukan vaping sama saja dengan mengundang 10 jenis zat penyebab kanker.
Chapman telah membuat laporan yang menyimpulkan bahwa rokok elektrik adalah ancaman kesehatan bagi masyarakat.
Bagi para remaja yang menggunakan rokok elektrik menghadapi risiko merusak perkembangan otak mereka.
"Rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan bahan kimia berbahaya lainnya. Nikotin di dalam rokok elektrik tetap menimbulkan kecanduan seperti pada rokok konvensional," kata Chapman.
Chapman menambahkan ada banyak informasi yang salah tentang rokok elektrik. Itu sebabnya Chapman menyarankan masyarakat untuk menghindari penggunaan rokok elektrik dan menjauhkannya dari anak-anak segala usia.
Peringatan tersebut disampaikan setelah peneliti lainnya menemukan bahwa uap dari rokok elektrik mengandung senyawa kimia Formaldehida. Senyawa ini dikenal sebagai agen kanker yang mematikan.
Pekan kemarin, New England Journal of Medicine menerbitkan penelitian mereka yang mengklaim bahwa vaping lebih berbahaya daripada merokok.
Penelitian itu menemukan bahwa menghisap 10 kali rokok elektrik akan membombardir penggunanya 2,5 kali lebih banyak Formaldehida daripada menghabiskan satu pak rokok konvensional.
Disebutkan juga rokok elektrik bisa menimbulkan kebakaran seperti rokok konvensional dan dianggap tidak efektif dalam membantu orang berhenti merokok.
Badan Kesehatan Dunia WHO telah melarang penggunaan rokok elektrik di ruangan tertutup karena menimbulkan risiko bagi anak-anak dan janin.
Sumber: Daily Mail *
Tampilkan postingan dengan label rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rokok. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 31 Januari 2015
Ada banyak informasi yang salah tentang rokok elektrik.
Label:
anak,
Banyak,
California,
elektrik,
Formaldehida,
informasi,
janin,
kanker,
kebakaran,
merusak,
otak,
perkembangan,
remaja,
risiko,
rokok,
Ron Chapman,
salah,
vaping,
WHO
Rabu, 10 Juli 2013
Mumpung Puasa, dr Hakim Ingatkan Darah Babi di Filter Rokok
Jakarta, Seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan puasa kali ini banyak dijadikan momen untuk berhenti merokok. Untuk menguatkan motivasi tersebut, dr Hakim Sorimuda Pohan kembali mengingatkan adanya kandungan darah babi dalam filter rokok.
"Di bulan puasa ini saya mengingatkan, kalau memang ingin mendapat hadiah takwa, ya jangan masukkan barang haram di antara bibir," kata dr Hakim dari Komnas Pengendalian Tembakau saat ditemui di Kantor Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Jl Imam Bonjol Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2013).
"Di bulan puasa ini saya mengingatkan, kalau memang ingin mendapat hadiah takwa, ya jangan masukkan barang haram di antara bibir," kata dr Hakim dari Komnas Pengendalian Tembakau saat ditemui di Kantor Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Jl Imam Bonjol Jakarta Pusat, Rabu (10/7/2013).
Label:
babi,
Berhenti,
bibir,
Darah Babi,
Dewi Motik,
Filter,
Hakim Sorimuda Pohan,
haram,
Hb,
hemoglobin,
Ingatkan,
karbon monoksida,
Komnas Pengendalian Tembakau,
Kowani,
Puasa,
rokok,
takwa
Minggu, 02 Juni 2013
LARANG IKLAN, PROMOSI, DAN SPONSOR ROKOK!
Promosi rokok demikian gencar. Bukan hanya promosi saja, iklan dan sponsor dari produsen rokok juga gencar dilakukan guna memperluas jaringan pemasarannya.
Dikatakan oleh Dr. Seto Mulyadi, Psi., M.Psi., industri rokok memasarkan produknya secara agresif kepada anak dan remaja dengan menciptakan lingkungan yang menganggap rokok sebagai sesuatu hal yang biasa. Materi iklan malah menunjukkan dengan jelas, segmentasi pasar yang dituju. Caranya, dengan mengasosiasikan merokok sebagai hal yang trendi, macho, berani, dan kebersamaan.
Di lain pihak, pemberian sponsor dilakukan untuk berbagai kegiatan yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan anak dan remaja. Untuk sponsor pendidikan, olah raga, kegiatan remaja, konser musik, dan lain sebagainya.
Kesemua cara tersebut, dilakukan untuk menarik dan mempertahankan konsumen rokok. Namun, di Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara untuk melarang segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok guna membantu menurunkan jumlah pengguna rokok.
Dalam situs WHO disebutkan kalau larangan terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok merupakan satu cara paling efektif untuk mengurangi konsumsi rokok. Di negara yang telah memulai larangan tersebut, menunjukkan penurunan konsumsi rokok rata-rata sebesar 7 persen.
Larangan tersebut diberlakukan mengingat penelitian menunjukkan sekitar sepertiga dari pengalaman remaja dengan rokok diakibatkan paparan terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok. "Peringkat pemakaian rokok ini tepat di bagian paling atas dari daftar ancaman kesehatan universal yang secara keseluruhan dapat dicegah," ujar Direktur Umum WHO Dr. Margaret Chan, dalam rilisnya.
Karenanya, lanjut Dr. Douglas Bettcher, Direktur WHO untuk Bagian Pencegahan Penyakit Tidak Menular, melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok menjadi langkah terbaik untuk melindungi orang-orang muda untuk mulai merokok serta menurunkan konsumsi rokok di seluruh populasi.
Meski demikian, Dr. Douglas mewanti-wanti bahwa meski larangan dilakukan, industri rokok secara konstan akan menemukan taktik baru untuk menyasar perokok potensial. Sejumlah cara yang ditempuh, di antaranya, adalah dengan memberikan hadiah dan menjual produk mereka seperti pakaian, dengan sasaran utama orang muda, melakukan pemasaran sembunyi-sembunyi di tempat pencetus tren seperti kafe dan klub malam, melakukan tanggung jawab sosial perusahaan seperti memberikan donasi melalui kegiatan amal, dan yang lainnya.
"Itu sebabnya, alasan pelarangan harus menyeluruh agar benar-benar efektif," ujar Dr. Douglas.
Laporan WHO terhadap epidemik rokok global tahun 2011 menunjukkan hanya 19 negara (yang menggambarkan hanya 6 persen dari populasi dunia) telah mendapat level pencapaian tertinggi dalam pelaranan iklan, promosi, dan sponsor rokok.
Dikatakan oleh Dr. Seto Mulyadi, Psi., M.Psi., industri rokok memasarkan produknya secara agresif kepada anak dan remaja dengan menciptakan lingkungan yang menganggap rokok sebagai sesuatu hal yang biasa. Materi iklan malah menunjukkan dengan jelas, segmentasi pasar yang dituju. Caranya, dengan mengasosiasikan merokok sebagai hal yang trendi, macho, berani, dan kebersamaan.
Di lain pihak, pemberian sponsor dilakukan untuk berbagai kegiatan yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan anak dan remaja. Untuk sponsor pendidikan, olah raga, kegiatan remaja, konser musik, dan lain sebagainya.
Kesemua cara tersebut, dilakukan untuk menarik dan mempertahankan konsumen rokok. Namun, di Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) meminta negara-negara untuk melarang segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok guna membantu menurunkan jumlah pengguna rokok.
Dalam situs WHO disebutkan kalau larangan terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok merupakan satu cara paling efektif untuk mengurangi konsumsi rokok. Di negara yang telah memulai larangan tersebut, menunjukkan penurunan konsumsi rokok rata-rata sebesar 7 persen.
Larangan tersebut diberlakukan mengingat penelitian menunjukkan sekitar sepertiga dari pengalaman remaja dengan rokok diakibatkan paparan terhadap iklan, promosi, dan sponsor rokok. "Peringkat pemakaian rokok ini tepat di bagian paling atas dari daftar ancaman kesehatan universal yang secara keseluruhan dapat dicegah," ujar Direktur Umum WHO Dr. Margaret Chan, dalam rilisnya.
Karenanya, lanjut Dr. Douglas Bettcher, Direktur WHO untuk Bagian Pencegahan Penyakit Tidak Menular, melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok menjadi langkah terbaik untuk melindungi orang-orang muda untuk mulai merokok serta menurunkan konsumsi rokok di seluruh populasi.
Meski demikian, Dr. Douglas mewanti-wanti bahwa meski larangan dilakukan, industri rokok secara konstan akan menemukan taktik baru untuk menyasar perokok potensial. Sejumlah cara yang ditempuh, di antaranya, adalah dengan memberikan hadiah dan menjual produk mereka seperti pakaian, dengan sasaran utama orang muda, melakukan pemasaran sembunyi-sembunyi di tempat pencetus tren seperti kafe dan klub malam, melakukan tanggung jawab sosial perusahaan seperti memberikan donasi melalui kegiatan amal, dan yang lainnya.
"Itu sebabnya, alasan pelarangan harus menyeluruh agar benar-benar efektif," ujar Dr. Douglas.
Laporan WHO terhadap epidemik rokok global tahun 2011 menunjukkan hanya 19 negara (yang menggambarkan hanya 6 persen dari populasi dunia) telah mendapat level pencapaian tertinggi dalam pelaranan iklan, promosi, dan sponsor rokok.
Lebih dari sepertiga dari negara-negara memiliki pembatasan minimal atau tidak sama sekali. Negara-negara yang membuat perkembangan kuat dalam pelarangan bentuk iklan termasuk Albania, Brasil, Kolombia, Ghana, Iran, Mauritius, Panama, dan Vietnam.
Survei terbaru terhadap penggunaan rokok di Turki menunjukkan larangan terhadap iklan, promosi, dan sponsor, digabung dengan ukuran kontrol rokok lainnya, berkontribusi dalam memangkas penggunaan rokok hingga lebih dari 13 persen, atau sekitar 1,2 juta lebih sedikit pengguna rokok, sejak tahun 2008.
Fakta menunjukkan, rokok membunuh hingga setengah dari penggunanya. Di tahun 2030, WHO memperkirakan bahwa rokok akan membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun, dengan empat dari lima kematian terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan menengah.
Rokok juga merupakan faktor risiko utama dari penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta saluran napas kronis.
Survei terbaru terhadap penggunaan rokok di Turki menunjukkan larangan terhadap iklan, promosi, dan sponsor, digabung dengan ukuran kontrol rokok lainnya, berkontribusi dalam memangkas penggunaan rokok hingga lebih dari 13 persen, atau sekitar 1,2 juta lebih sedikit pengguna rokok, sejak tahun 2008.
Fakta menunjukkan, rokok membunuh hingga setengah dari penggunanya. Di tahun 2030, WHO memperkirakan bahwa rokok akan membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun, dengan empat dari lima kematian terjadi di negara dengan pendapatan rendah dan menengah.
Rokok juga merupakan faktor risiko utama dari penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes, serta saluran napas kronis.
Label:
agresif,
amal,
diabetes,
Douglas Bettcher,
iklan,
kanker,
LARANG,
membunuh,
penyakit jantung,
PROMOSI,
remaja,
rokok,
saluran napas kronis,
Seto Mulyadi,
SPONSOR,
taktik baru,
Turki,
WHO
Sabtu, 18 Februari 2012
Berawal Dari Gerakan Bebas Rokok: Menang Lomba PHBS Kabupaten Sukoharjo
Prestasi besar seringkali berawal dari sesuatu hal kecil. Hal itu lah yang diraih warga Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Dimulai dengan adanya gerakan bebas rokok, satu dari tiga desa yang mewakili Kota Makmur dalam tiga kategori lomba berbeda tingkat provinsi ini berhasil menembus nominasi enam besar desa yang mampu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di Jawa Tengah (Jateng).
“Awalnya memang dari gerakan bebas rokok yang dilakukan di Dukuh Kedungdowo, lalu didukung oleh masyarakat dan akhirnya Kepuh di menang lomba PHBS di kabupaten,” ungkap Kepala Desa (Kades) Kepuh, Suwito, kepada Espos di sela-sela kesibukannya di Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Jumat (17/2/2012).
Suwito menuturkan kemenangan dalam lomba PHBS tingkat Kabupaten Sukoharjo menjadi pintu masuk bagi desanya mengikuti lomba serupa Provinsi Jateng. Hasilnya, meski masih dalam proses dan belum dapat diketahui, Kepuh dinyatakan masuk nominasi enam besar dari seluruh desa peserta di tingkat provinsi.
Ia menambahkan, gerakan bebas rokok di Kepuh semula digalakkan di tempat orang-orang yang menggelar pesta perkawinan atau kegiatan hajatan lain. Selain dengan alasan ekonomis, program itu dalam rangka promosi kesehatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat. Gerakan itu pun kemudian mendapatkan dukungan dari warga dan segenap elemen masyarakat tingkat desa di Kepuh.
“Mulai dari PKK, puskesmas, kader-kader kesehatan, dan elemen-elemen lain masyarakat menyambut baik dan bahkan tergerak untuk ikut mendorong keberhasilan program gerakan bebas rokok Kepuh,” ulasnya.
Namun Suwito menyampaikan upaya penerapan PHBS tidak hanya berhenti pada sosialisasi dan penerapan gerakan bebas rokok. Pemerintah Desa Kepuh dengan dukungan warga dan elemen lain masyarakat desa juga mengembangkan ke kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk program Jumat bersih yang dilakukan rutin.
Salah satu warga Plumbungan, Desa Kepuh, Agung, 21, menyebutkan setelah disosialisasikan dalam berbagai acara dan kesempatan, gerakan bebas rokok mulai membuahkan hasil. Dengan kesadaran dan kemauan sendiri warga saat ini telah mengurangi aktivitas merokok saat kegiatan-kegiatan keramaian.
“Barangkali belum semua berhenti (merokok), tapi sudah jarang terlihat saat ada keramaian. Kalau pun ada justru mereka yang datang dari luar daerah,” papar pemuda yang mengaku hanya sesekali pulang kampung karena sedang menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.
Secara terpisah, Camat Nguter, Setyo Aji Nugroho, mengemukakan penilaian Desa Kepuh dalam lomba PHBS tingkat Jateng dilakukan Sabtu (4/2) lalu. Ia juga menyatakan unsur yang dinilai lebih menekankan kepada aspek perilaku. Selain keadaan rumah, tuturnya, tim melihat tempat-tempat dan fasilitas umum.
“Aspek penekanannya memang lebih kepada perilaku. Sehingga dengan adanya lomba ini diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya berperilaku hidup bersih dalam rangka kesehatan,” paparnya. Ia menambahkan prestasi Kepuh diharapkan menginspirasi desa-desa lain di Nguter dan Sukoharjo secara umum. Dengan alasan itu, Setyo Aji mengatakan seluruh Kades di Nguter ikut diundang ketika penilaian.
“Awalnya memang dari gerakan bebas rokok yang dilakukan di Dukuh Kedungdowo, lalu didukung oleh masyarakat dan akhirnya Kepuh di menang lomba PHBS di kabupaten,” ungkap Kepala Desa (Kades) Kepuh, Suwito, kepada Espos di sela-sela kesibukannya di Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Jumat (17/2/2012).
Suwito menuturkan kemenangan dalam lomba PHBS tingkat Kabupaten Sukoharjo menjadi pintu masuk bagi desanya mengikuti lomba serupa Provinsi Jateng. Hasilnya, meski masih dalam proses dan belum dapat diketahui, Kepuh dinyatakan masuk nominasi enam besar dari seluruh desa peserta di tingkat provinsi.
Ia menambahkan, gerakan bebas rokok di Kepuh semula digalakkan di tempat orang-orang yang menggelar pesta perkawinan atau kegiatan hajatan lain. Selain dengan alasan ekonomis, program itu dalam rangka promosi kesehatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat. Gerakan itu pun kemudian mendapatkan dukungan dari warga dan segenap elemen masyarakat tingkat desa di Kepuh.
“Mulai dari PKK, puskesmas, kader-kader kesehatan, dan elemen-elemen lain masyarakat menyambut baik dan bahkan tergerak untuk ikut mendorong keberhasilan program gerakan bebas rokok Kepuh,” ulasnya.
Namun Suwito menyampaikan upaya penerapan PHBS tidak hanya berhenti pada sosialisasi dan penerapan gerakan bebas rokok. Pemerintah Desa Kepuh dengan dukungan warga dan elemen lain masyarakat desa juga mengembangkan ke kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk program Jumat bersih yang dilakukan rutin.
Salah satu warga Plumbungan, Desa Kepuh, Agung, 21, menyebutkan setelah disosialisasikan dalam berbagai acara dan kesempatan, gerakan bebas rokok mulai membuahkan hasil. Dengan kesadaran dan kemauan sendiri warga saat ini telah mengurangi aktivitas merokok saat kegiatan-kegiatan keramaian.
“Barangkali belum semua berhenti (merokok), tapi sudah jarang terlihat saat ada keramaian. Kalau pun ada justru mereka yang datang dari luar daerah,” papar pemuda yang mengaku hanya sesekali pulang kampung karena sedang menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.
Secara terpisah, Camat Nguter, Setyo Aji Nugroho, mengemukakan penilaian Desa Kepuh dalam lomba PHBS tingkat Jateng dilakukan Sabtu (4/2) lalu. Ia juga menyatakan unsur yang dinilai lebih menekankan kepada aspek perilaku. Selain keadaan rumah, tuturnya, tim melihat tempat-tempat dan fasilitas umum.
“Aspek penekanannya memang lebih kepada perilaku. Sehingga dengan adanya lomba ini diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya berperilaku hidup bersih dalam rangka kesehatan,” paparnya. Ia menambahkan prestasi Kepuh diharapkan menginspirasi desa-desa lain di Nguter dan Sukoharjo secara umum. Dengan alasan itu, Setyo Aji mengatakan seluruh Kades di Nguter ikut diundang ketika penilaian.
Label:
bebas,
Desa,
Dukuh,
gerakan,
Jawa Tengah,
Kecamatan,
kecil,
Kedungdowo,
Kepala Desa,
Kepuh,
Kota,
Makmur,
Nguter,
PHBS,
PKK,
Propinsi,
Puskesmas,
rokok,
Sukoharjo,
Suwito
Langganan:
Postingan (Atom)