Seattle - Kedengarannya hanya ada dalam film dewasa, tetapi kejadian ini benar-benar dialami wanita yang mengidentifikasi dirinya sebagai "Liz dari Seattle". Ia mengalami orgasme yang berlangsung selama tiga jam tanpa henti.
Kejadian bermula setelah ia berhubungan intim dengan sang kekasih. Tampak normal pada awalnya. Namun, tidak seperti orgasme yang normal, kontraksinya tidak mereda dalam hitungan detik atau menit. "Terus dan terus," kata kekasihnya, sesaat setelah keluar dari ruang UGD.
Liz mencoba berbagai taktik untuk meringankan gejala. Pertama, ia mencoba melompat-lompat. Ketika itu tidak berhasil, pacarnya menuangkan segelas besar anggur dan memintanya meminumnya dengan penuh semangat. Namun, ketika langkah itu juga gagal, keduanya mulai panik.
Tampilkan postingan dengan label anggur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anggur. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Januari 2014
Dilarikan ke RS karena Orgasme 3 Jam tanpa Henti
Label:
3 Jam,
anggur,
Dilarikan,
film dewasa,
kekasih,
Liz dari Seattle,
Melahirkan,
menyakitkan,
orgasme,
parah,
penjelasan medis,
Persistent Genital Arousal Disorder,
PGAD,
RS,
tanpa Henti,
Terus dan terus,
TLC
Jumat, 06 September 2013
Makan Buah Segar Lebih Sehat Dibanding Jus Buah
JAKARTA— Mengonsumsi buah segar seperti anggur, apel, dan pir telah banyak diketahui dapat mengurangi risiko terkena diabetes.
Namun, ternyata meminum jus buah justru dapat meningkatkan risiko yang erat kaitannya dengan kolesterol dan kadar gula dalam darah tersebut.. Belum lama ini, gabungan peneliti dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Singapura melakukan investigasi kesehatan besar-besaran yang mengambil tempat di negeri Paman Sam.
Proyek tersebut melibatkan lebih dari 187 ribu orang perawat dan praktisi kesehatan setempat untuk memonitor gaya hidup masyarkat di sana, termasuk salah satu isunya adalah pola makan tidak sehat yang memicu diabetes. Studi tersebut menunjukkan hasil berupa responden yang rutin setidaknya dua kali seminggu mengonsumsi buah segar, khususnya blueberry, anggur, dan apel, mampu mengurangi risiko terkena diabetes hingga 23 persen dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi buah segar setidaknya sebulan sekali.
Di sisi lain, mereka yang sekali atau berkali-kali meminum jus buah setiap harinya justru menunjukkan peningkatan risiko terkena diabetes hingga 21 persen. Laporan ilmiah yang di publikasikan di dalam Bristish Medical Journal menyatakan bahwa hasil studi tersebut membutuhkan kerja yang lebih keras untuk kian membuktikan kejelasan perbedaan manfaat buah segar dan jus buah.
Beberapa spekulasi menyatakan bahwa walaupun kandungan nutrisi pada buah segar dan jus buah itu sama, namun fakta bentuknya jelas berbeda, buah segar berbentuk nutrisi solid, sedangkan jus berupa sari dalam cair.
"Nutrisi dalam bentuk cairan lebih cepat masuk ke dalam saluran pencernaan dan lebih cepat pula diserap oleh usus besar dan mendorong tubuh memproduksi lebih banyak insulin yang mengakibatkan level gula darah meningkat," jelas Qi Sun, asisten profesor di bidang nutrisi pada Sekolah Kesahatan Masyarakat, Universitas Harvard, AS.
Studi ini sendiri dilakukan dengan meneliti data dari Studi Keperawatan Kesehatan yang diambil pada medio tahun 1984 -2008, Studi Keperawatan Kesehatan jilid dua (1991-2009), dan Studi Lanjut Profesional Kesehatan (1986-2008).
Adapun buah-buahan yang digunakan dalam studi ini, baik dalam bentuk buah segar maupun jus buah, adalah anggur, buah persik, aprikot, buah prem, pisang, melon, apel, pir, jeruk, stroberi, dan bluberry. Sumber *
Namun, ternyata meminum jus buah justru dapat meningkatkan risiko yang erat kaitannya dengan kolesterol dan kadar gula dalam darah tersebut.. Belum lama ini, gabungan peneliti dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Singapura melakukan investigasi kesehatan besar-besaran yang mengambil tempat di negeri Paman Sam.
Proyek tersebut melibatkan lebih dari 187 ribu orang perawat dan praktisi kesehatan setempat untuk memonitor gaya hidup masyarkat di sana, termasuk salah satu isunya adalah pola makan tidak sehat yang memicu diabetes. Studi tersebut menunjukkan hasil berupa responden yang rutin setidaknya dua kali seminggu mengonsumsi buah segar, khususnya blueberry, anggur, dan apel, mampu mengurangi risiko terkena diabetes hingga 23 persen dibandingkan mereka yang hanya mengonsumsi buah segar setidaknya sebulan sekali.
Di sisi lain, mereka yang sekali atau berkali-kali meminum jus buah setiap harinya justru menunjukkan peningkatan risiko terkena diabetes hingga 21 persen. Laporan ilmiah yang di publikasikan di dalam Bristish Medical Journal menyatakan bahwa hasil studi tersebut membutuhkan kerja yang lebih keras untuk kian membuktikan kejelasan perbedaan manfaat buah segar dan jus buah.
Beberapa spekulasi menyatakan bahwa walaupun kandungan nutrisi pada buah segar dan jus buah itu sama, namun fakta bentuknya jelas berbeda, buah segar berbentuk nutrisi solid, sedangkan jus berupa sari dalam cair.
"Nutrisi dalam bentuk cairan lebih cepat masuk ke dalam saluran pencernaan dan lebih cepat pula diserap oleh usus besar dan mendorong tubuh memproduksi lebih banyak insulin yang mengakibatkan level gula darah meningkat," jelas Qi Sun, asisten profesor di bidang nutrisi pada Sekolah Kesahatan Masyarakat, Universitas Harvard, AS.
Studi ini sendiri dilakukan dengan meneliti data dari Studi Keperawatan Kesehatan yang diambil pada medio tahun 1984 -2008, Studi Keperawatan Kesehatan jilid dua (1991-2009), dan Studi Lanjut Profesional Kesehatan (1986-2008).
Adapun buah-buahan yang digunakan dalam studi ini, baik dalam bentuk buah segar maupun jus buah, adalah anggur, buah persik, aprikot, buah prem, pisang, melon, apel, pir, jeruk, stroberi, dan bluberry. Sumber *
Sabtu, 16 Maret 2013
Selain Baik Bagi Jantung Buah Anggur Baik Untuk Pendengaran
Buah anggur merah atau anggur merah (red wine) sudah lama dipuji karena kaya akan antioksidan yang baik bagi kesehatan jantung. Namun, penelitan terbaru menyatakan kali ini kalau baik buah anggur merah maupun red wine bisa melindungi efek dari bahaya pendengaran.
Seperti dilansir Huffingtonpost, Sabtu (2/3/2013), peneliti menemukan senyawa Resveratrol dalam buah anggur merah dan red wine.
Studi yang dilakukan pada tikus ini menunjukkan kalau resveratrol memiliki kekuatan pelindung terhadap hilangnya gangguan pendengaran.
"Resveratrol merupakan bahan kimia yang sangat kuat yang tampaknya bisa melindungi proses inflamasi tubuh yang berhubungan dengan hilangnya penuaan, kognisi dan pendengaran," kata peneliti studi, Michael D. Seidman yang sekaligus direktur of the Division of Otologic/Neurotologic Surgery at Henry Ford Hospital.
Untuk membuktikan studi ini, peneliti secara khusus melihat bagaimana protein resveratrol memiliki peran dalam peradangan tubuh dan sel COX-2 dan oksigen reaktif.
Dan peneliti menemukan protein COX-2 naik ketika tikus diberikan suara bising yang mengganggu.
Namun, ketika tikus diberi resveratrol, seolah-olah protein tersebut dihambat dan oksigen dalam gangguan pendengaran menurun. Jadi tikus ini bisa mengurangi gangguan pendengaran.
" Tingkat COX-2 yang diinduksi ini mungkin merupakan mekanisme potensial gangguan pendengaran (NIHL) dan kemungkinan mekanisme kemampuan resveratrol bisa mengurangi NIHL karena kemampuannya untuk mengurangi COX-2,"jelas peneliti.
Karena penelitian ini baru dilakukan pada hewan, penelitian selanjutnya akan melihat apakah temuan ini juga berlaku pada manusia.
Walaupun belum ada pembuktian pada manusia, peneliti senang karena buah anggur maupun red wine memiliki manfaat lain.
"Buah anggur maupun red wine telah dikenal bisa melindungi darah pada tubuh sehingga bisa menurunkan kadar kolesterol 'jahat',"tambah peneliti.
Temuan ini dipublikasikan secara online dalam the journal Otolarnygology-Head and Neck Surgery.
Seperti dilansir Huffingtonpost, Sabtu (2/3/2013), peneliti menemukan senyawa Resveratrol dalam buah anggur merah dan red wine.
Studi yang dilakukan pada tikus ini menunjukkan kalau resveratrol memiliki kekuatan pelindung terhadap hilangnya gangguan pendengaran.
"Resveratrol merupakan bahan kimia yang sangat kuat yang tampaknya bisa melindungi proses inflamasi tubuh yang berhubungan dengan hilangnya penuaan, kognisi dan pendengaran," kata peneliti studi, Michael D. Seidman yang sekaligus direktur of the Division of Otologic/Neurotologic Surgery at Henry Ford Hospital.
Untuk membuktikan studi ini, peneliti secara khusus melihat bagaimana protein resveratrol memiliki peran dalam peradangan tubuh dan sel COX-2 dan oksigen reaktif.
Dan peneliti menemukan protein COX-2 naik ketika tikus diberikan suara bising yang mengganggu.
Namun, ketika tikus diberi resveratrol, seolah-olah protein tersebut dihambat dan oksigen dalam gangguan pendengaran menurun. Jadi tikus ini bisa mengurangi gangguan pendengaran.
" Tingkat COX-2 yang diinduksi ini mungkin merupakan mekanisme potensial gangguan pendengaran (NIHL) dan kemungkinan mekanisme kemampuan resveratrol bisa mengurangi NIHL karena kemampuannya untuk mengurangi COX-2,"jelas peneliti.
Karena penelitian ini baru dilakukan pada hewan, penelitian selanjutnya akan melihat apakah temuan ini juga berlaku pada manusia.
Walaupun belum ada pembuktian pada manusia, peneliti senang karena buah anggur maupun red wine memiliki manfaat lain.
"Buah anggur maupun red wine telah dikenal bisa melindungi darah pada tubuh sehingga bisa menurunkan kadar kolesterol 'jahat',"tambah peneliti.
Temuan ini dipublikasikan secara online dalam the journal Otolarnygology-Head and Neck Surgery.
Label:
anggur,
antioksidan,
COX-2,
hewan,
Huffingtonpost,
inflamasi,
jantung,
kesehatan,
kognisi,
merah,
Michael D. Seidman,
NIHL,
pelindung,
pendengaran,
penuaan,
red wine,
Resveratrol
Senin, 11 Maret 2013
Biji Anggur Berpotensi Membunuh Sel Kanker
Biji anggur belakangan ini banyak diteliti khasiatnya bagi kesehatan. Salah satu yang terbaru adalah kemampuannya dalam mengatasi kanker kulit dan mencegah kebutaan. Tidak hanya itu, sebuah riset teranyar bahkan menunjukkan ekstrak biji anggur mampu untuk membunuh sel kanker di leher dan kepala. Temuan ini diterbitkan dalam journal Carcinogenesis.
Kelebihan dari ekstrak biji anggur ini ialah hanya membunuh sel-sel kanker saja tanpa mengganggu sel yang sehat. "Efeknya cukup dramatis," kata Rajesh Agarwal, PhD, peneliti di University of Colorado Cancer Center dan profesor di Skaggs School of Pharmaceutical Sciences.
Akan tetapi lanjut Agarwal, keefektivan ekstrak biji anggur tetap tergantung dari kemampuan sel sehat untuk bertahan dari kerusakan. "Sel-sel kanker cepat sekali menyebar. Tetapi ada juga kondisi di mana mereka tidak bisa tumbuh, sehingga sel kanker itu akan mati," tambahnya.
Menurut Agarwal, ekstrak biji anggur dapat menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi sel kanker, karena menghambat pertumbuhan sel kanker.
Agarwal berharap agar temuan ini di kembangkan lebih lanjut ke arah uji klinis. Ia mengatakan bahwa riset ini berpotensi sebagai tambahan untuk terapi lini kedua dalam mengobati kanker leher dan kepala.
Kanker kepala dan leher (diluar kanker otak, mata dan tulang belakang) rata-rata muncul pada usia 59 tahun. Penyebab kanker leher dan kepala biasanya disebabkan karena kebiasaan mengunyah tembakau, kebiasaan minum alkohol. Delapan puluh lima persen kanker leher dan kepala dihubungkan dengan penggunaan tembakau.
Kelebihan dari ekstrak biji anggur ini ialah hanya membunuh sel-sel kanker saja tanpa mengganggu sel yang sehat. "Efeknya cukup dramatis," kata Rajesh Agarwal, PhD, peneliti di University of Colorado Cancer Center dan profesor di Skaggs School of Pharmaceutical Sciences.
Akan tetapi lanjut Agarwal, keefektivan ekstrak biji anggur tetap tergantung dari kemampuan sel sehat untuk bertahan dari kerusakan. "Sel-sel kanker cepat sekali menyebar. Tetapi ada juga kondisi di mana mereka tidak bisa tumbuh, sehingga sel kanker itu akan mati," tambahnya.
Menurut Agarwal, ekstrak biji anggur dapat menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi sel kanker, karena menghambat pertumbuhan sel kanker.
Agarwal berharap agar temuan ini di kembangkan lebih lanjut ke arah uji klinis. Ia mengatakan bahwa riset ini berpotensi sebagai tambahan untuk terapi lini kedua dalam mengobati kanker leher dan kepala.
Kanker kepala dan leher (diluar kanker otak, mata dan tulang belakang) rata-rata muncul pada usia 59 tahun. Penyebab kanker leher dan kepala biasanya disebabkan karena kebiasaan mengunyah tembakau, kebiasaan minum alkohol. Delapan puluh lima persen kanker leher dan kepala dihubungkan dengan penggunaan tembakau.
Label:
aggs School of Pharmaceutical Sciences,
alkohol,
anggur,
biji,
Cancer Center,
diteliti,
dramatis,
ekstrak,
kanker,
kepala,
leher,
Rajesh Agarwal,
tembakau,
terapi lini kedua,
uji klinis,
University of Colorado
Langganan:
Postingan (Atom)