Tampilkan postingan dengan label langsung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label langsung. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2013

Dokter Jiwa: Dalam 20 Detik, Racun Rokok Langsung Pengaruhi Otak

Jakarta, Merokok memang membahayakan bagi kesehatan tubuh anda. Bukan cuma menyebabkan penyakit paru-paru dan serangan jantung, ternyata rokok juga dapat berpengaruh langsung pada otak anda!

Dr dr Nurmiati Amir, SpKJ, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan bagaimana proses nikotin pada rokok mempengaruhi otak Anda.

"Dari pertama kali dihisap, nikotin dapat langsung mencapai otak hanya dalam waktu 20 detik," ujarnya pada Seminar Rokok, Neurosains dan Spiritualitas di Auditorium Lembaga Farmasi Angkatan Laut, Bendungan Hilir, Jakarta, Minggu (15/12/2013).

Kamis, 31 Januari 2013

Disfungsi Ereksi Terkait Penyakit Jantung & Kematian Dini?

Sebuah penelitian di Australia menemukan bukti bahwa pria dengan disfungsi ereksi (ED) memiliki risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung, bahkan meski tidak memiliki sejarah masalah jantung sekalipun, dan juga berisiko lebih besar alami kematian dini.

Penelitian dari Australian National University, The University of Sydney, Victor Chang Cardiac Research Institute, dan The George Institute for Global Health, ini adalah yang pertama kalinya menunjukkan hubungan langsung antara masalah disfungsi ereksi dan risiko kematian dini atau penyakit jantung.

“Risiko penyakit jantung di kemudian hari dan kematian dini bisa terus meningkat seiring dengan tingkat keparahan disfungsi ereksi, baik pada pria dengan dan tanpa sejarah penyakit kardiovaskular,” ujar penulis studi 45 and Up Study, Profesor Emily Banks, seperti dikutip Zeenews.com.

“Disfungsi ereksi (ED) lebih cenderung menjadi gejala atau ‘silent signal’ adanya penyakit jantung. Di masa depan, sinyal ini bisa menjadi penanda yang berguna untuk membantu dokter dalam memprediksi risiko masalah kardiovaskular. Ini memang topik sensitif, tetapi pria yang menderita ED jangan malu dan diam saja, karena ada pengobatan yang efektif, baik untuk ED dan penyakit jantung,” tambahnya.

Masalah ereksi termasuk salah satu penyakit yang sangat umum. Sekitar 1 dari 5 pria berusia 40 ke atas dilaporkan mengalami disfungsi ereksi sedang atau parah. Dalam penelitian ini, para ilmuwan meneliti data kematian sekitar 95.000 pria.

“Kami menemukan bahwa pria dengan ED lebih berisiko terkena serangan jantung, gagal jantung, penyakit pembuluh darah perifer, dan masalah jantung konduksi,” kata Prof. Banks.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional PLOS Medicine.

Senin, 23 Juli 2012

Pria Tidur Pasca Berhubungan Intim

Bukan rahasia lagi jika para pria biasanya langsung tertidur setelah menikmati seks. Tentu saja, hal ini kerap membuat para istri kesal bukan kepalang. Rasanya seperti habis manis sepah dibuang.

Tapi sebelum Anda para istri naik pitam, simak dulu penelitian yang satu ini.

Para ilmuwan rupanya menemukan bukti yang mendukung para suami. Penelitian yang dilakukan pemerintah Prancis dengan memindai otak para pria sebelum dan sesudah hubungan seksual menemukan bahwa otak bagian cerebral cortex, yang berperan untuk fokus, persepsi dan kesadaran; langsung istirahat setelah mencapai orgasme.

“Ini menjadi temuan terbaru tentang otak pria selama hubungan seksual,” kata Serge Stoleru, salah seorang peneliti kepada Sunday Times, Ahad 22 Juli 2012. Penyebab pria tertidur juga ditunjang oleh hormon serotonin yang membanjiri otak setelah seks hebat.

Namun menurut Stoleru, hal berbeda terjadi pada perempuan. “Otak perempuan tidak membutuhkan jeda setelah orgasme. Bahkan mereka meminta lagi meski pasangan membutuhkan istirahat,” ujarnya.

Penelitian serupa pernah dilakukan pada 2005. Hasilnya menunjukkan bahwa kencangnya laju darah pasca-klimaks memicu otot menghasilkan glycogen. Karena pria memiliki lebih banyak otot ketimbang perempuan, mereka merasa lebih cepat lelah setelah olah raga ranjang.

“Manusia adalah satu-satunya mahluk hidup dimana tidur dan seks sangat berkaitan,” ujar Dr Neil Stanley, Direktur Kajian Tidur di University of Surrey, Inggris.

Kamis, 22 Maret 2012

Misteri Outbreake (Ledakan Populasi) Tomcat, Kenapa?

Tahun 2011 lalu, Indonesia disibukkan dengan ledakan populasi ulat bulu. Kini, pada tahun 2012, Indonesia kembali disibukkan dengan serangga Paederus atau kumbang Tomcat.

Keduanya memang sama-sama serangga. Namun, apakah ledakan populasi keduanya memiliki kesamaan sebab?

Pakar serangga dan hama dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Suputa mengatakan ledakan populasi kedua serangga tersebut bisa dilihat kaitannya.

"Secara langsung, kaitan ledakan populasi keduanya tidak ada. Tapi secara tidak langsung, ada," kata Suputa saat dihubungi Kompas.com, Kamis (22/3/2012).

Suputa menjelaskan, populasi setiap jenis serangga selalu bisa mengalami ledakan setiap periode tertentu. Periode ini berbeda pada tiap jenis serangga.

"Ulat bulu juga punya periode outbreak. Di satu tempat dengan tempat lain berbeda. Ada yang setiap 10 tahun, 100 tahun atau lebih," jelas Suputa saat dihubungi.

Outbreak atau ledakan populasi tomcat juga bervariasi di satu tempat dengan tempat lain. Di wilayah Indonesia, belum diketahui periode outbreak-nya secara pasti.

Adanya periode outbreak inilah yang menjadi kesamaan antara ledakan populasi tomcat dan ulat bulu. Di sini, dipahami bahwa ledakan ialah sesuatu yang wajar dan alamiah.

Lalu, mengapa tak terjadi tiap tahun atau sesuai dengan umur tomcat atau spesies serangga lain?

"Ini terkait dengan jejaring makanan yang kompleks, musuh alami dan ketersediaan makanan," kata Suputa.

Dinamika populasi predator dan hewan yang dimangsa pada jangka panjang selalu naik turun. Pada waktu tertentu, akan ada saat dan kondisi lingkungan yang pas yang mendukung outbreak.

"Sebenarnya ada faktor intrinsik yang menyebabkan outbreak. Ini faktor pada serangga itu sendiri. Inilah yang masih misteri," cetus Suputa.

Suputa mengatakan, hingga kini pakar serangga dunia pun belum mampu menguraikan secara pasti sebab utama outbreak suatu spesies serangga.

Di luar hal tersebut, faktor lingkungan juga menjadi perhatian. Kondisi lingkungan, peningkatan karbon dioksida di atmosfer, diduga menjadi salah satu sebab outbreak, walau masih perlu dikaji.

Masih perlu penelitian lebih seksama untuk memahami kehidupan liar kedua makhluk tersebut. Anda tertarik meneliti tomcat dan ulat bulu?



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...