Selasa, 18 Desember 2012

7 Hal Mengejutkan Ini Menjadi Faktor Risiko Penyakit Jantung

Seseorang mungkin telah berusaha menjauhi faktor penyebab penyakit jantung seperti makanan berlemak, merokok dan kurangnya aktivitas fisik. Tetapi risiko penyakit jantung ternyata dapat meningkat karena faktor lain yang mungkin mengejutkan Anda.

Berdasarkan beberapa studi, 7 hal ini juga dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung. Seperti dilansir Besthealth, Selasa (18/12/2012), ketujuh faktor tersebut antara lain:

1. Golongan darah A, B atau AB
Menurut Harvard School of Public Health, orang dengan tipe darah A, B atau AB memiliki risiko penyakit jantung yang sedikit lebih tinggi dibanding orang dengan tipe darah O. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa risiko meningkat hingga 5 persen pada orang dengan golongan darah A, 11 persen pada orang dengan golongan darah B, dan 23 persen pada orang dengan golongan darah AB.

Para peneliti belum yakin mengapa ada perbedaan tersebut, tetapi ada bukti bahwa golongan darah O memiliki aliran darah yang lebih baik dan jenis golongan darah lainnya mungkin mengandung kolesterol jahat yang kadarnya lebih tinggi.

2. Sleep apnea yang tidak diobati
Para ilmuwan menemukan lebih banyak bukti bahwa sleep apnea, gangguan tidur di mana pernapasan berhenti secara periodik ketika tidur, terkait dengan penyakit kardiovaskuler. Orang dengan sleep apnea lebih mungkin memiliki faktor risiko lain untuk penyakit jantung seperti obesitas dan diabetes.

Namun, dokter di La Fe University dan Polytechnic Hospital di Valencia, Spanyol, baru-baru ini menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan pengobatan terhadap sleep apnea, risiko kematian pasien kardiovaskular yang sedang dirawat di rumah sakit akan berkurang dan kembali normal.

3. Menopause dini
Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, baru-baru ini menemukan bahwa wanita yang mengalami menopause dini atau sebelum usia 46 tahun, memiliki kemungkinan serangan jantung atau stroke hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan wanita yang mengalami menopause pada usia lebih tua.

Meskipun hal ini tidak berarti menopause dapat menyebabkan penyakit jantung, wanita dalam kelompok menopause dini juga lebih cenderung memiliki faktor risiko panyakit jantung lainnya seperti BMI tinggi, diabetes dan kebiasaan merokok.

4. Perut buncit
Gemuk hanya di bagian perut lebih berbahaya daripada gemuk seluruh badan. Menurut penelitian terbaru dari Mayo Clinic menunjukkan bahwa orang yang memiliki berat badan normal bisa berisiko tinggi terhadap penyakit jantung jika memiliki perut yang buncit dan lingkar pinggang yang besar karena lemak yang menumpuk.

5. Bekerja shift malam
Orang yang bekerja shift malam, 23 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung daripada orang yang bekerja hanya di siang hari. Hal ini dikemukakan oleh para peneliti di Western University, di mana alasannya adalah jadwal kerja di malam hari dapat mengacaukan ritme sirkadian tubuh.

6. Sejarah kekerasan saat masih anak-anak
Menurut penelitian terbaru dari American Psychological Association, wanita paruh baya yang pernah mengalami kekerasan secara fisik di masa kecil berada pada risiko yang lebih besar terhadap penyakit jantung.

Dalam studi tersebut, para wanita korban kekerasan fisik di masa lalu, 2 kali lebih mungkin memiliki tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, ukuran pinggang lebih besar dan tingkat kolesterol yang tidak sehat, yang semuanya adalah faktor risiko penyakit jantung. Alasannya adalah trauma masa kecil dapat menyebabkan stres yang lebih tinggi dan pola makan yang buruk, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.

7. Asupan vitamin D yang rendah
Para peneliti dari University of Copenhagen melakukan sebuah studi yang melibatkan lebih dari 10.000 orang di Denmark dan menemukan bukti bahwa tingkat rendah vitamin D terkait dengan risiko penyakit jantung, serangan jantung dan kematian.

Para peneliti tidak yakin apakah kekurangan vitamin D sebenarnya mengarah ke penyakit jantung atau hanya sebuah indikator kesehatan yang buruk dan berpengaruh pada kondisi jantung.

Selasa, 30 Oktober 2012

Negara Berkembang: Kanker Pada Golongan Tidak Mampu

Suplemen Herbal Untuk Kanker, Mencegah Lebih Baik
Belakangan ini tingkat penderita kanker payudara di Negara berkembang makin meningkat. Yang menyedihkan, peningkatan ini justru terjadi pada golongan yang tidak mampu seara ekonomi.

“Kanker makin banyak di derita negara berkembang, yang jumlahnya terus meningkat dibandingkan negara maju yang cenderung mendatar,” ujar DR. Dr. Aru Sudoyo, SpPD-KHOM, FACP, ahli penyakit dalam, onkologi serta hematologi dalam rangkaian acara Pink Shimmerinc di Plaza Senayan beberapa waktu lalu.

Menurut DR. Aru, di Indonesia peningkatan jumlah penderita kanker terjadi pada golongan yang justru secara ekonomi tidak mampu. “Hal ini menyedihkan, sebab semakin banyak penderita kanker yang tidak mampu membiayai pengobatan.”

Ditenggarai, gaya hidup dan faktor lingkungan yang meningkatkan risiko seseorang terserang kanker payudara. “Faktor gen hanya enam persen yang paling besar yang faktor lingkungan serta gaya hidup.”

Menurut DR. Aru meningkatnya risiko dari faktor lingkungan dan gaya hidup ini yang meyebabkan banyak orang yang tak mampu justru terserang kanker. “Mereka tak punya pilihan gaya hidup. Coba lihat makanan olahan, mulai dari zat serta pengawet dari makanan tersebut,” jelas DR. Aru.

Menurutnya, saat ini sulit mendapat angka pasti berapa jumlah penderita kanker payudara di negara ini. Indonesia mempunyai wilayah luas, penduduk beragam serta sistem pendataan yang belum rapi, membuat masyarakat kesulitan mendapat data akurat perempuan yang terserang kanker payudara. “Indonesia negara dengan banyak kepulauan, bisa saja sebenarnya lebih banyak lagi perempuan yang tak terdeteksi menderita kanker payudara“

DR. Aru menambahkan, fenomena meningkatnya jumlah penderita kanker dari golongan yang tidak mampu adalah hal yang harus segera ditangani dan mendapat perhatian besar semua pihak. “Sebab belakangan ini banyak pasien yang tidak mampu membiayai pengobatan. Padahal pengobatan secepatnya akan meningkatkan harapan hidup seorang penderita kanker.”

“Gerakan kesadaran terhadap kanker payudara harus menjadi gerakan masyarakat bersama. Agar lebih menjaga kesehatan,” pungkasnya.

Sabtu, 29 September 2012

8 Gaya Hidup Sehat Pencegah Kanker

Faktor genetik memang punya peran dalam terjadinya kanker, tetapi bukan berarti kanker pasti diwariskan dan kita cuma bisa pasrah menerima takdir. Gaya hidup sehat telah terbukti bisa mencegah kanker.

Menurut American Cancer Society, pola hidup sehat juga bisa mencegah hampir separuh kematian akibat kanker. Dan berikut adalah 8 gaya hidup sehat yang dianjurkan untuk menghindari kanker.

1. Tidak merokok
Hindari merokok atau menggunakan produk tembakau lainnya. Merokok adalah penyebab berbagai jenis kanker, mulai dari kanker paru, kerongkongan, mulut, tenggorokan, perut, dan pankreas. Merokok juga menjadi penyebab utama kematian yang bisa dicegah.

2. Skrining teratur
Jadikan skrining kanker sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Skrining kanker bisa mendeteksi kanker payudara, serviks, dan kanker kulit dalam stadium dini. Skrining kanker bisa dilakukan melalui cek darah, pemeriksaan fisik, tes genetik, hingga pemeriksaan X-ray.

3. Kurangi alkohol
Kanker mulut enam kali lebih sering diderita para pecandu alkohol dibandingkan dengan orang yang tidak minum alkohol.

4. Lindungi dari matahari
Sinar ultraviolet bisa merusak DNA kulit dan bisa menyebabkan mutasi genetik yang memicu kanker. Gunakan tabir surya jika Anda ingin beraktivitas lama di bawah matahari.

5. Olahraga
Riset menunjukkan orang yang aktif dan rutin berolahraga memiliki risiko lebih kecil terkena kanker kolon dan kanker payudara. Anda tak perlu berolahraga seperti atlet untuk mencegah kanker, aktivitas moderat seperti jogging, bersepeda, atau senam, sudah cukup.

6. Jaga berat badan
Berat badan berlebih terkait erat dengan beberapa jenis kanker seperti kanker kolon, tiroid, payudadara, dan endometrial.

7. Waspada terapi sulih hormon
Beberapa penelitian menunjukkan terapi sulih hormon di masa menopause meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. Bila Anda sudah terlanjur mendapatkan terapi tersebut, batasi hanya kurang dari lima tahun.

8. Hindari radiasi
Hindari paparan radiasi dan beberapa zat kimia. Pada orang yang memang memiliki faktor risiko kanker, paparan radiasi diketahui akan menyebabkan mutasi gen yang bisa memicu sel-sel kanker menjadi aktif.

Rabu, 12 September 2012

Hindari Bahaya Radiasi Telepon Genggam

Ketergantungan masyarakat terhadap teknologi, khususnya telepon selular atau ponsel, boleh dikata sudah sangat tinggi. Padahal, radiasi yang dikeluarkan oleh ponsel sangat berbahaya, terutama bagi kesuburan pria dan jaringan syaraf di otak.

Prof. Dr. dr. Susy Tjahjani, Mkes., dosen Universitas Kristen Maranatha Bandung juga merasakan bahwa masyarakat modern sekarang ini sangat tergantung dengan peralatan ponsel. Padahal, dia menegaskan bahwa kehidupan yang terlalu erat dengan ponsel bisa berpengaruh negatif kepada penggunanya. Penyebabnya adalah efek radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan.

Radiasi elektromagnetik merupakan kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam hal ini, radiasi datang dari ponsel dan masuk ke dalam tubuh manusia.

Apa dampak buruk radiasi ponsel ini?

Menurut Susy, yang jelas, penggunaan alat tersebut secara terus-menerus bisa memengaruhi tingkat kesuburan. Itu sudah ada penelitiannya meski baru diujicobakan pada hewan. “Efek radiasi mengganggu pergerakan sel kelamin jantan (spermatozoa),” ujarnya, saaat berbincang dengan Vista.

Artinya, informasi yang menyebut bahwa radiasi ponsel menyebabkan kesuburan terganggu bukanlah mitos. “Bukan mitos, karena penelitian terhadap hewan sudah dilakukan. Untuk penelitian kepada manusia, dari lingkungan kita sendiri belum melakukan itu,” ujar guru besar di bidang kesehatan ini.

Selain dapat memengaruhi kesuburan, efek radiasi juga bisa memengaruhi kesehatan otak.
Namun demikian, lanjut peneliti pada kampus tempatnya mengajar itu, efek radiasi dapat dicegah melalui berbagai cara. Jadi, Anda bisa tetap sehat meski menggunakan ponsel.

“Misalkan daripada bicara melalui handphone, ada baiknya kita melakukan komunikasi melalui SMS saja. Terlalu lama bertelepon akan memengaruhi kesehatan otak,” ujarnya.

Bagi pasangan yang telah berumah tangga dan ingin segera memiliki keturunan, sebaiknya tidak terlalu sering menggunakan peralatan ponsel. Kurangi berbicara lewat telepon, dan tidak meletakkan benda-benda tersebut di tubuh, misalnya di kantong celana.

Ketika tidur, lanjut Susy, sebaiknya jauhkan tubuh dari peralatan teknologi tersebut. Sebab dalam kondisi hidup, ponsel tetap memancarkan radiasi kendati hanya digenggam, apalagi untuk bicara.

“Paling aman lagi gunakan hands-free untuk mendengarkan pembicaraan di handphone,” tandasnya. Penggunaan hands-free cukup aman, karena penggunaan ponsel tidak dilakukan secara langsung dan tidak menempel di telinga.

Sumber: *

Selasa, 11 September 2012

WHO: 51,7% Perokok Pria (Generasi Muda, 15-24 Tahun)

WASPADALAH
Indonesia masuk dalam kelompok atas - bersama India, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Polandia - negara-negara yang berpenghuni banyak perokok aktif. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh WHO, ada sekitar 51,7 persen perokok pria dan 0,3 persen perokok wanita dengan rentang usia 15 - 24 tahun.

Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan jika dilihat dari sudut pandang kesehatan. Generasi muda bisa terancam kondisi kesehatannya. Lalu bagaimana anak dan remaja bisa terpengaruh untuk menjadi seorang perokok?

Pemicunya cukup beragam, bisa dari lingkungan keluarga atau teman-teman. Lalu, yang tak kalah berdampak luar biasa adalah iklan-iklan rokok yang cukup 'radikal' dan kreatif menyasar pasar anak remaja. Hal ini diungkapkan oleh dr. Soewarta Kosen, M.P.H., Koordinator Unit Analisis Kebijakan dan Ekonomi Kesehatan.

"Remaja mudah terpengaruh oleh iklan yang sudah tersebar luas di mana saja, termasuk dalam sebuah konser musik yang sponsornya berasal dari rokok," kata Soewarta di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta pada Selasa 11 September 2012.

Cara Radikal

Meskipun saat ini iklan rokok di televisi dibatasi tetapi produsen rokok beriklan dengan cara-cara yang 'radikal'. Bukan hanya melalui billboard atau di internet, tetapi juga aktif mensponsori acara-acara musik anak muda.

Hal tersebut memang bisa dengan mudah mempengaruhi anak dan remaja untuk mencoba merokok. Dan, tak menutup kemungkinan selanjutnya dia akan jadi pencandu rokok. Menurut survei yang dilakukan pada 2007, sekitar 80 persen anak dan remaja, melihat iklan dan promosi, serta dari sponsor rokok pada sebuah acara.

Untuk itu, terkait pemasangan iklan rokok di billboard, menurut Soewarta, sebaiknya mulai ditinjau kembali. "Jakarta adalah salah satu ibukota di Asia Pasifik yang masih memajang billboard rokok. Di negara lain sudah tidak ada, hanya kita yang masih ada," katanya.

Rabu, 22 Agustus 2012

Referensi Kadar Lemak & Kolesterol Anda

Apakah Anda pernah mengukur kadar kolesterol dalam darah? Meski tak memiliki keluhan, mengukur kadar kolesterol wajib dilakukan setidaknya sekali dalam lima tahun. Disarankan lebih sering untuk pria usia 35 tahun ke atas dan wanita usia 45 tahun ke atas.

Dikutip WebMD, pengukuran kadar kolesterol dalam darah penting untuk membantu pencegahan penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke. Mengetahui kadar kolesterol dalam darah membuat Anda lebih waspada dengan pola makan buruk.

Sama seperti pemeriksaan kesehatan pada umumnya, hasil tes kolesterol akan muncul dalam bentuk angka-angka. Agar tak salah pengertian, berikut sedikit panduan untuk membaca angka-angka mengenai kadar kolesterol dalam darah.
 Teh Hijau Anti-Lemak Jahat,
Trigliserid dan Asam Urat


LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL)
Penumpukan LDL di dinding arteri akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Itulah mengapa jenis kolesterol ini populer dengan sebutan kolesterol jahat.

Jika Anda memiliki gangguan kesehatan jantung atau pembuluh darah, sejumlah pakar merekomendasikan kadar kolesterol dalam darah tak lebih dari 70 mg/dl. Sementara mereka dengan diabetes atau penyakit lain yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, disarankan memiliki kadar kolesterol tak lebih 100 mg/dl.

Sangat baik: <100 mg/dl
Baik: 100-129 mg/dl
Kurang baik: 130-159 mg/dl
Tinggi: 160-189 mg/dl
Sangat Tinggi: >190 mg/dl

Untuk mencapai batas normal?

Kurangi: Lemak jenuh, lemak trans, makanan berkolesterol tinggi.
Perbanyak: Lemak tak jenuh tunggal (avokad, omega 3, ikan).
Lakukan: Penurunan berat badan.

LOW DENSITY LIPOPROTEIN (HDL)
Ini merupakan jenis kolesterol baik. Semakin tinggi angkanya, semakin rendah risiko penyakit jantung dan stroke. Jenis kolesterol ini justru berperan melawan kolesterol jahat untuk melindungi arteri.

Baik: >60 mg/dl
Buruk: <40 mg/dl (pria) dan <50 mg/dl (pria)

Untuk mencapai batas normal?

Kurangi: Karbohidrat dan gula serta hasil olahannya.
Perbanyak: Lemak tak jenuh tunggal (avokad dan omega 3, ikan).
Lakukan: Olahraga, tidak merokok, serta turunkan berat badan.


TRIGLISERIDA
Merupakan senyawa kimia yang biasanya terkandung dalam hampir semua jenis lemak dalam makanan dan tubuh. Tingginya kadar trigliserida menandai tingginya risiko terserang penyakit jantung koroner.

Normal: <150 mg/dl
Cukup tinggi: 150-199 mg/dl
Tinggi: 200-499 mg/dl
Sangat tinggi: >500

Untuk mencapai batas normal?

Kurangi: Karbohidrat, gula, serta hasil olahannya, santan, minyak, dan makanan berlemak tinggi (kacang tanah).
Lakukan: Penurunan berat badan.


TOTAL KOLESTEROL
Angka yang muncul biasanya merupakan hasil rata-rata antara LDL, HDL, dan komponen lemak lainnya, termasuk trigliserida. Pakar kesehatan selalu merekomendasikan batas aman kolesterol di bawah 200 mg/dl.

Normal: <200 mg/dl
Tinggi: 200-239 mg/dl
Sangat tinggi: >240 mg/dl

Teh Hijau Meningkatkan Fungsi Otak Penderita HIV

Jiang Zhi Tea Teh Hijau
Plus Anti Lemak
Khasiat daun teh hijau telah ditemukan sejak ratusan abad lalu. Sebagai minuman yang kaya antioksidan, dapat menurunkan berat badan Anda, ternyata teh hijau juga dapat menjalankan fungsinya pada otak.

Terutama, untuk meningkatkan fungsi otak pada penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa teh hijau dan cokelat dapat membantu mengurangi komplikasi neurologis yang terkait dengan HIV. Artinya, temuan ini dapat membuka jalan untuk pengobatan yang terbilang efektif agar terbebas dari gangguan kognitif seperti sulit mengingat, berpikir, dan gangguan pada memori.

Seorang peneliti dan rekannya dari Universitas Johns Hopkins, Josep Steiner adalah para penemunya. Ia menemukan bahwa sekelompok tanaman yang dikenal dengan polifenol catechin, seperti teh hijau dan biji-bijian dari pohon kakao dapat membantu pencegahan komplikasi neurologis.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Neurovirology ini telah menganalisis efek dari 2.000 senyawa yang mengandung zat alami, obat-obatan yang telah disetujui oleh FDA, pada sel-sel otak manusia (pasien HIV).

Serangkaian senyawa tersebut, ternyata memiliki potensi untuk melindungi neuron di otak. Lebih lanjut, senyawa polifenol yang terdapat dalam teh hijau dan cokelat ternyata memiliki potensi untuk melindungi neuron di otak, dengan cara menginduksi produksi perkembangan sel-sel saraf baru di otak.

Dengan begitu, fakta yang didapatkan bahwa senyawa ini dengan mudah melintasi penghalang darah menuju otak, guna meningkatkan potensi terapi mereka.

Hal ini, tentunya dapat memberikan harapan baru bagi penderita HIV, karena sampai saat ini belum cukup tersedia terapi saraf bagi pasien HIV terkait dengan penurunan kognitif.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Brain Derived Neurotrophic factor (BDNF) adalah sebuah protein yang terdapat dalam otak, berfungsi mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan neuron di otak.

Penderita HIV ditemukan memiliki tingkat BDNF yang rendah di otak mereka, dibandingkan dengan orang sehat. Secara langsung, hal ini menunjukkan bahwa BDNF bertanggungjawab penuh atas penurunan kognitif mereka.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...