Tampilkan postingan dengan label HIV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 April 2013

Dokter Gigi Tularkan HIV Ke-7000 Pasien

Seorang dokter gigi di Kota Tulsa, Negara Bagian Oklahoma, Amerika Serikat menyebabkan 7.000 pasien terpajan hepatitis B, hepatitis C dan HIV sejak 2007, kata pejabat setempat, Kamis (28/3).

Para pejabat kesehatan mendesak 7.000 pasien dokter gigi di Oklahoma, W. Scott Harrington, untuk diperiksa mengenai penyakit HIV dan hepatitis dalam penyelidikan yang sedang berlangsung di Dewan Kedokteran Gigi negara bagian, seperti dikutip FOX News, Kamis (4/04/2013).

Kemungkinan terpajannya ribuan pasien tersebut dilaporkan terjadi di tempat praktik dokter gigi itu di Harringtong, Tulsa, dan Owasso di Oklahoma. Para pejabat akan mengirim surat kepada semua 7.000 pasien yang telah berobat di instalasi tersebut sejak 2007.

Harrington memiliki banyak pasien yang didiagnosis menderita hepatitis atau bahkan HIV. Ia diduga antara lain telah melanggar peraturan kebersihan, kata Susan Rogers, Direktur Pelaksana Dewan Dokter Gigi Oklahoma.

Penyelidikan mengenai praktik Harrington mendapati sejumlah pelanggaran peraturan keselamatan dan kesehatan dan pelanggaran besar State Dental Act, kata beberapa pejabat.

Penyelidik dari Dewan Dokter Gigi dibantu oleh petugas dari Biro Natkotika Oklahoma dan Dinas Pengawasan Obat Amerika Serikat (DEA) mengenai pemeliharaan, pengawasan dan penggunaan obat di tempat praktik Harrington.

Harrington menghadapi 17 tuduhan dari Dewan Dokter Gigi Oklahima akibat pelanggaran kesehatan dan keselamatan yang diajukan terhadap kegiatan praktiknya, kata jejaring berita News6.com.

Dinas kesehatan menyatakan penularan penyakit di tempat praktik semacam itu jarang terjadi.

Selasa, 05 Maret 2013

3 Dokter Gigi Tertular Pasien Pengidap AIDS

Profesi dokter gigi rentan tertular penyakit yang diidap pasiennya. Termasuk virus mematikan HIV/AIDS. Tiga dokter gigi di Surabaya dilaporkan tertular HIV/AIDS. Dua orang di antaranya bekerja di rumah sakit swasta ternama dan seorang lagi membuka praktik pribadi. Hal ini diungkapkan Prof. Nasronudin, M.D., Ph.D, spesialis penyakit dalam, yang juga pimpinan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga Surabaya.

Nasronudin, yang menangani ketiga dokter gigi itu mengatakan kondisi ketiga pria itu sangat parah bahkan sulit untuk berkomunikasi. Nasronudin menolak menyebutkan nama ketiga dokter itu, tapi hanya menyebutkan masing-masing berusia 44 tahun, 58 tahun, dan 52 tahun. "Mereka terdiagnosis AIDS stadium 4. Kondisinya sudah sangat parah," kata Nasronudin kepada Tempo.

Ia memperkirakan para dokter gigi itu sudah lebih dari lima tahun terinfeksi virus HIV/AIDS. Nasronudin mengatakan masih sulit mencari kepastian sumber penularan. Namun, ada dua kemungkinan mereka terinfeksi, yaitu karena profesi dan pribadi.

Menurutnya, profesi dokter memang berisiko tertular HIV/AIDS. Khususnya dokter gigi, dokter obgyn, bedah, THT, dan penyakit dalam dan infeksi. Tertutupnya pasien mengenai penyakitnya menjadi faktor seorang dokter bisa terpapar virus HIV/AIDS tanpa sengaja.

Meski sudah diberi surat pengantar bahwa seseorang mengidap HIV/AIDS, sering kali surat itu tidak diberikan kepada dokter yang dirujuk. Akibatnya, dokter rujukan tersebut tidak mengetahui bahwa pasien menderita HIV/AIDS. "80 persen pasien HIV/AIDS tidak mau berikan surat pengantar ke dokter rujukan karena takut tidak ditangani," katanya.

Cara penularan HIV/AIDS bisa terjadi secara horizontal, yakni kontak cairan darah dan melalui hubungan seksual. Perbandingan penularan lewat kontak cairan darah adalah 1:1. Artinya sekali kontak, virus HIV bisa langsung tertular. Inilah yang membuat profesi dokter gigi sangat rentan terinfeksi HIV/AIDS.

Penularan virus melalui kontak cairan darah lebih berbahaya ketimbang hubungan seksual. Hubungan seksual perbandingan penularannya sekitar 1:60. Ini berarti butuh 60 kali berhubungan seksual dengan penderita HIV/AIDS untuk bisa tertular virus ini.

Koordinator Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi Rumah Sakit Umum dr Soetomo Surabaya dr Erwin Astha Triyono SpPD-KPTI mengatakan kasus HIV/AIDS terhadap tenaga medis memang masih sangat jarang, hanya 1 persen dari seluruh kasus. Karena itu, tim kesehatan diminta untuk memperhatikan kewaspadaan universal. Standar prosedur dokter dalam menangani pasien HIV/AIDS pun lebih ketat.

Pihaknya sendiri sudah memberlakukan profilaksis pascapajanan secara rutin. Dokter yang tertusuk jarum saat menangani pasien harus melapor dalam kurun waktu 4 jam sebelum tertusuk. Dengan demikian, dokter yang terinfeksi akan bisa segera dipantau sehingga virusnya tidak berkembang biak.

Rabu, 22 Agustus 2012

Teh Hijau Meningkatkan Fungsi Otak Penderita HIV

Jiang Zhi Tea Teh Hijau
Plus Anti Lemak
Khasiat daun teh hijau telah ditemukan sejak ratusan abad lalu. Sebagai minuman yang kaya antioksidan, dapat menurunkan berat badan Anda, ternyata teh hijau juga dapat menjalankan fungsinya pada otak.

Terutama, untuk meningkatkan fungsi otak pada penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa teh hijau dan cokelat dapat membantu mengurangi komplikasi neurologis yang terkait dengan HIV. Artinya, temuan ini dapat membuka jalan untuk pengobatan yang terbilang efektif agar terbebas dari gangguan kognitif seperti sulit mengingat, berpikir, dan gangguan pada memori.

Seorang peneliti dan rekannya dari Universitas Johns Hopkins, Josep Steiner adalah para penemunya. Ia menemukan bahwa sekelompok tanaman yang dikenal dengan polifenol catechin, seperti teh hijau dan biji-bijian dari pohon kakao dapat membantu pencegahan komplikasi neurologis.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Neurovirology ini telah menganalisis efek dari 2.000 senyawa yang mengandung zat alami, obat-obatan yang telah disetujui oleh FDA, pada sel-sel otak manusia (pasien HIV).

Serangkaian senyawa tersebut, ternyata memiliki potensi untuk melindungi neuron di otak. Lebih lanjut, senyawa polifenol yang terdapat dalam teh hijau dan cokelat ternyata memiliki potensi untuk melindungi neuron di otak, dengan cara menginduksi produksi perkembangan sel-sel saraf baru di otak.

Dengan begitu, fakta yang didapatkan bahwa senyawa ini dengan mudah melintasi penghalang darah menuju otak, guna meningkatkan potensi terapi mereka.

Hal ini, tentunya dapat memberikan harapan baru bagi penderita HIV, karena sampai saat ini belum cukup tersedia terapi saraf bagi pasien HIV terkait dengan penurunan kognitif.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Brain Derived Neurotrophic factor (BDNF) adalah sebuah protein yang terdapat dalam otak, berfungsi mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan neuron di otak.

Penderita HIV ditemukan memiliki tingkat BDNF yang rendah di otak mereka, dibandingkan dengan orang sehat. Secara langsung, hal ini menunjukkan bahwa BDNF bertanggungjawab penuh atas penurunan kognitif mereka.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...