Tampilkan postingan dengan label gerakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Negara Berkembang: Kanker Pada Golongan Tidak Mampu

Suplemen Herbal Untuk Kanker, Mencegah Lebih Baik
Belakangan ini tingkat penderita kanker payudara di Negara berkembang makin meningkat. Yang menyedihkan, peningkatan ini justru terjadi pada golongan yang tidak mampu seara ekonomi.

“Kanker makin banyak di derita negara berkembang, yang jumlahnya terus meningkat dibandingkan negara maju yang cenderung mendatar,” ujar DR. Dr. Aru Sudoyo, SpPD-KHOM, FACP, ahli penyakit dalam, onkologi serta hematologi dalam rangkaian acara Pink Shimmerinc di Plaza Senayan beberapa waktu lalu.

Menurut DR. Aru, di Indonesia peningkatan jumlah penderita kanker terjadi pada golongan yang justru secara ekonomi tidak mampu. “Hal ini menyedihkan, sebab semakin banyak penderita kanker yang tidak mampu membiayai pengobatan.”

Ditenggarai, gaya hidup dan faktor lingkungan yang meningkatkan risiko seseorang terserang kanker payudara. “Faktor gen hanya enam persen yang paling besar yang faktor lingkungan serta gaya hidup.”

Menurut DR. Aru meningkatnya risiko dari faktor lingkungan dan gaya hidup ini yang meyebabkan banyak orang yang tak mampu justru terserang kanker. “Mereka tak punya pilihan gaya hidup. Coba lihat makanan olahan, mulai dari zat serta pengawet dari makanan tersebut,” jelas DR. Aru.

Menurutnya, saat ini sulit mendapat angka pasti berapa jumlah penderita kanker payudara di negara ini. Indonesia mempunyai wilayah luas, penduduk beragam serta sistem pendataan yang belum rapi, membuat masyarakat kesulitan mendapat data akurat perempuan yang terserang kanker payudara. “Indonesia negara dengan banyak kepulauan, bisa saja sebenarnya lebih banyak lagi perempuan yang tak terdeteksi menderita kanker payudara“

DR. Aru menambahkan, fenomena meningkatnya jumlah penderita kanker dari golongan yang tidak mampu adalah hal yang harus segera ditangani dan mendapat perhatian besar semua pihak. “Sebab belakangan ini banyak pasien yang tidak mampu membiayai pengobatan. Padahal pengobatan secepatnya akan meningkatkan harapan hidup seorang penderita kanker.”

“Gerakan kesadaran terhadap kanker payudara harus menjadi gerakan masyarakat bersama. Agar lebih menjaga kesehatan,” pungkasnya.

Sabtu, 18 Februari 2012

Berawal Dari Gerakan Bebas Rokok: Menang Lomba PHBS Kabupaten Sukoharjo

Prestasi besar seringkali berawal dari sesuatu hal kecil. Hal itu lah yang diraih warga Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Dimulai dengan adanya gerakan bebas rokok, satu dari tiga desa yang mewakili Kota Makmur dalam tiga kategori lomba berbeda tingkat provinsi ini berhasil menembus nominasi enam besar desa yang mampu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) di Jawa Tengah (Jateng).

“Awalnya memang dari gerakan bebas rokok yang dilakukan di Dukuh Kedungdowo, lalu didukung oleh masyarakat dan akhirnya Kepuh di menang lomba PHBS di kabupaten,” ungkap Kepala Desa (Kades) Kepuh, Suwito, kepada Espos di sela-sela kesibukannya di Desa Kepuh, Kecamatan Nguter, Jumat (17/2/2012).

Suwito menuturkan kemenangan dalam lomba PHBS tingkat Kabupaten Sukoharjo menjadi pintu masuk bagi desanya mengikuti lomba serupa Provinsi Jateng. Hasilnya, meski masih dalam proses dan belum dapat diketahui, Kepuh dinyatakan masuk nominasi enam besar dari seluruh desa peserta di tingkat provinsi.

Ia menambahkan, gerakan bebas rokok di Kepuh semula digalakkan di tempat orang-orang yang menggelar pesta perkawinan atau kegiatan hajatan lain. Selain dengan alasan ekonomis, program itu dalam rangka promosi kesehatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat. Gerakan itu pun kemudian mendapatkan dukungan dari warga dan segenap elemen masyarakat tingkat desa di Kepuh.

“Mulai dari PKK, puskesmas, kader-kader kesehatan, dan elemen-elemen lain masyarakat menyambut baik dan bahkan tergerak untuk ikut mendorong keberhasilan program gerakan bebas rokok Kepuh,” ulasnya.

Namun Suwito menyampaikan upaya penerapan PHBS tidak hanya berhenti pada sosialisasi dan penerapan gerakan bebas rokok. Pemerintah Desa Kepuh dengan dukungan warga dan elemen lain masyarakat desa juga mengembangkan ke kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk program Jumat bersih yang dilakukan rutin.

Salah satu warga Plumbungan, Desa Kepuh, Agung, 21, menyebutkan setelah disosialisasikan dalam berbagai acara dan kesempatan, gerakan bebas rokok mulai membuahkan hasil. Dengan kesadaran dan kemauan sendiri warga saat ini telah mengurangi aktivitas merokok saat kegiatan-kegiatan keramaian.

“Barangkali belum semua berhenti (merokok), tapi sudah jarang terlihat saat ada keramaian. Kalau pun ada justru mereka yang datang dari luar daerah,” papar pemuda yang mengaku hanya sesekali pulang kampung karena sedang menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur.

Secara terpisah, Camat Nguter, Setyo Aji Nugroho, mengemukakan penilaian Desa Kepuh dalam lomba PHBS tingkat Jateng dilakukan Sabtu (4/2) lalu. Ia juga menyatakan unsur yang dinilai lebih menekankan kepada aspek perilaku. Selain keadaan rumah, tuturnya, tim melihat tempat-tempat dan fasilitas umum.

“Aspek penekanannya memang lebih kepada perilaku. Sehingga dengan adanya lomba ini diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya berperilaku hidup bersih dalam rangka kesehatan,” paparnya. Ia menambahkan prestasi Kepuh diharapkan menginspirasi desa-desa lain di Nguter dan Sukoharjo secara umum. Dengan alasan itu, Setyo Aji mengatakan seluruh Kades di Nguter ikut diundang ketika penilaian.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...