Tampilkan postingan dengan label rendah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rendah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 April 2013

Anak Pendek Terancam Bodoh dan Penyakitan

Anak pendek umumnya kecerdasannya rendah dan rentan terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes, hipertensi, stroke, gangguan jantung, dan kanker.

”Anak pendek (stunting) mengalami hambatan pertumbuhan organ, termasuk otak. Semakin banyak anak pendek, semakin banyak penerus bangsa yang potensial mengidap penyakit dan berinteligensia rendah. Tantangan kita adalah menekan jumlah anak pendek,” kata Soekirman dari Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia pada peluncuran program Gerakan Peningkatan Nutrisi (SUN Movement), Rabu (17/4), di Jakarta.

Jumlah anak pendek di Indonesia sekitar 7 juta orang (36 persen dari jumlah anak). Indonesia merupakan negara dengan anak pendek terbanyak kelima setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan.

Menurut ahli gizi dari Universitas Indonesia, Endang L Achadi, anggapan bahwa anak pendek akibat faktor genetik tidak tepat. Faktor penentunya adalah kecukupan gizi. Hal itu harus terpenuhi sejak ibu hamil.

”Delapan minggu pertama kehamilan merupakan fase pembentukan organ tubuh, termasuk otak. Dilanjutkan fase pembelahan sel yang menentukan jumlah sel otak. Dua fase ini masuk dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Jika gizi tidak cukup, pembelahan sel dan pembentukan organ terganggu,” katanya.

Endang menyarankan agar remaja perempuan mempersiapkan fisik menjelang menikah. Sebab, kecukupan gizi janin di kandungan ditentukan dari kecukupan gizi calon ibu. ”Perempuan kurus berisiko mengandung janin dengan gizi kurang. Setelah melahirkan, kecukupan gizi ibu memengaruhi ketersediaan air susu. Jadi, persiapkan dengan benar jika hendak menikah,” ujarnya.

Permasalahan gizi khususnya anak pendek paling banyak terdapat di Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. Untuk mengatasinya, Kepala Subdirektorat Bina Konsumsi Makanan Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan Iip Syaiful mengatakan, mulai tahun 2014, pemerintah daerah akan menganggarkan dana untuk kegiatan gerakan nasional percepatan gizi.

Selasa, 05 Maret 2013

Ahok: Puskesmas itu mesti dibagusin dokternya kan?!

Salah satu hambatan yang dirasakan dalam menjalani program kesehatan bagi warga miskin di DKI Jakarta adalah masih kurangnya jumlah dokter di tingkat Puskesmas. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun akan menambah kualitas dokter di tingkat Puskesmas.

"Jadi intinya pintu masuk itu dari Puskesmas. Nah Puskesmas itu mesti dibagusin dokternya kan. Dokter-dokter spesialis di puskesmas, termasuk kompetensi jumlah dokter di lini terdepan masih kurang," kata Ahok di Balaikota, Jakarta, Selasa (19/2/2013).

Ahok mengakui bila standar gaji dokter di Ibukota masih rendah, sehingga dokter yang ingin berkarier di tataran bawah seperti puskesmas sedikit. Untuk itu dia akan menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) untuk ikut menerjunkan dokter lulusannya ke masyarakat, terutama dokter spesialis.

"Nanti kerja sama dengan FK UI yakni dengan program dokter spesialis turun ke bawah. Jadi intinya pintu masuk itu dimulai dari puskesmas," ujarnya.

Terkait sistem Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang saat ini masih berjalan, Ahok mengakui kalau sistem yang menggratiskan biaya pengobatan bagi warga Ibukota ini masih belum berjalan sempurna. "Karena faktanya KJS itu belum jalan penuh. APBD kan belum bisa kita pakai, Askes juga belum kita tunjuk, jadi itu model lama yang masih diterapkan," ucapnya.

Selain itu, dengan dana yang ada saat ini pihaknya juga masih harus membayar tunggakan utang kepada rumah sakit untuk program KJS pada November dan Desember 2013.

"Kita juga masih ada utang lama, hutang lama yang November dan Desember kan belum bayar. Karena anggaran 2012 tidak pernah cukup untuk Jamkesda. 50 ribu per orang per bulan untuk 1,2 juta rakyat. Tapi faktanya 4,7 juta rakyat kan," tuturnya.

Dia pun berharap bila APBD DKI telah disahkan, maka sistem KJS akan berjalan dengan baik dan merata. Terlebih bila jumlah dokter di puskesmas telah ditambah. "Ini kan dari Kemendagri sudah ketuk palu, ini mau turun anggarannya," imbuh Ahok.

Rabu, 22 Agustus 2012

Teh Hijau Meningkatkan Fungsi Otak Penderita HIV

Jiang Zhi Tea Teh Hijau
Plus Anti Lemak
Khasiat daun teh hijau telah ditemukan sejak ratusan abad lalu. Sebagai minuman yang kaya antioksidan, dapat menurunkan berat badan Anda, ternyata teh hijau juga dapat menjalankan fungsinya pada otak.

Terutama, untuk meningkatkan fungsi otak pada penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa teh hijau dan cokelat dapat membantu mengurangi komplikasi neurologis yang terkait dengan HIV. Artinya, temuan ini dapat membuka jalan untuk pengobatan yang terbilang efektif agar terbebas dari gangguan kognitif seperti sulit mengingat, berpikir, dan gangguan pada memori.

Seorang peneliti dan rekannya dari Universitas Johns Hopkins, Josep Steiner adalah para penemunya. Ia menemukan bahwa sekelompok tanaman yang dikenal dengan polifenol catechin, seperti teh hijau dan biji-bijian dari pohon kakao dapat membantu pencegahan komplikasi neurologis.

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Neurovirology ini telah menganalisis efek dari 2.000 senyawa yang mengandung zat alami, obat-obatan yang telah disetujui oleh FDA, pada sel-sel otak manusia (pasien HIV).

Serangkaian senyawa tersebut, ternyata memiliki potensi untuk melindungi neuron di otak. Lebih lanjut, senyawa polifenol yang terdapat dalam teh hijau dan cokelat ternyata memiliki potensi untuk melindungi neuron di otak, dengan cara menginduksi produksi perkembangan sel-sel saraf baru di otak.

Dengan begitu, fakta yang didapatkan bahwa senyawa ini dengan mudah melintasi penghalang darah menuju otak, guna meningkatkan potensi terapi mereka.

Hal ini, tentunya dapat memberikan harapan baru bagi penderita HIV, karena sampai saat ini belum cukup tersedia terapi saraf bagi pasien HIV terkait dengan penurunan kognitif.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Brain Derived Neurotrophic factor (BDNF) adalah sebuah protein yang terdapat dalam otak, berfungsi mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan neuron di otak.

Penderita HIV ditemukan memiliki tingkat BDNF yang rendah di otak mereka, dibandingkan dengan orang sehat. Secara langsung, hal ini menunjukkan bahwa BDNF bertanggungjawab penuh atas penurunan kognitif mereka.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...