Kebanyakan penelitian tentang manfaat kesehatan dari sirsak atau graviola (Annona muricata) telah dilakukan pada hewan laboratorium dan belum dikonfirmasi pada manusia. Graviola terkenal karena sifat anti-kanker-nya.
Para peneliti sangat antusias graviola menjadi obat alternatif untuk digunakan sebagai terapi suportif untuk kanker, seperti kanker payudara, kanker prostat, kanker hati, kanker paru-paru, kanker pankreas, dan limfoma.
Ini adalah salah satu sifat yang paling dipelajari dari pohon sirsak dan sejauh ini telah menunjukkan hasil yang positif. Namun, selalu berkonsultasi dengan dokter Anda sebelum menggunakan graviola untuk terapi apapun.
Kanker pankreas
Peningkatan aktivitas metabolik dan konsentrasi glukosa dalam sel tumor telah dikaitkan dengan kanker pankreas yang agresif. Satu penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Letters menunjukkan bahwa ekstrak sirsak yang mengandung acetogenins menurunkan produksi ATP sehingga sel-sel kanker mati. Para peneliti juga menemukan bahwa hal itu tidak memengaruhi sel-sel sehat.
Kanker paru
Adriamycin kadang-kadang digunakan sebagai obat kemoterapi untuk kanker termasuk kanker paru dan kanker darah. Sebuah penelitian di Jepang yang dilakukan pada hewan di laboratorium menemukan bahwa annonacin (acetogenin) bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker di paru seperti halnya adriamycin. Namun, R. Webster Kehr dari Independent Cancer Research Foundation memperingatkan bahwa graviola bisa sangat berbahaya bagi pasien kanker paru-paru dan pasien kanker otak.
Kanker payudara
Peneliti menemukan bahwa ekstrak buah graviola berhasil menghambat pertumbuhan gen yang secara langsung mengungkapkan pertumbuhan sel ( EGFR) yang sering pada kanker payudara.
Analgesik dan anti-inflamasi
Sebuah studi yang diterbitkan dalam International Journal of Molecular Sciences pada hewan percobaan menemukan bahwa buah sirsak berperan sebagai analgesik dan anti-inflamasi. Namun, para peneliti menyarankan penelitian lebih lanjut akan dilakukan untuk memastikan penggunaan yang aman.
Diabetes
Graviola telah ditemukan bermanfaat dalam kasus diabetes. Sebuah studi di Nigeria mengungkapkan bahwa ekstrak daun graviola secara signifikan mengurangi konsentrasi glukosa darah pada hewan percobaan, mungkin meningkatkan efek insulin dan adrenalin. Belum ada percobaan pada manusia , oleh karena itu penggunaannya belum dapat direkomendasikan
Darah tinggi
Penelitian telah menunjukkan graviola mengurangi tekanan darah, vasodilator (memperlebar pembuluh darah), dan cardiodepressant (penurunan denyut jantung ). Jika Anda menggunakan obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, periksa ke dokter sebelum menggunakan graviola sebagai obat.Sumber *
Tampilkan postingan dengan label hipertensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hipertensi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Januari 2015
Sirsak Bantu Sembuhkan Kanker, Diabetes & Hipertensi
Label:
diabetes,
dokter,
Graviola,
hipertensi,
kanker,
kanker hati,
kanker pankreas,
kanker paru-paru,
kanker payudara,
kanker prostat,
konsultasi,
limfoma,
peneliti,
Sembuhkan,
Sirsak,
terapi suportif
Rabu, 22 Januari 2014
Cegah Keriput, Mulailah Kurangi Makanan Manis
Paparan sinar matahari selama ini selalu dianggap sebagai biang keladi penyebab kulit menjadi kusam dan keriput. Padahal, hobi kita mengonsumsi makanan manis merupakan penyebab terbesar mengapa tanda-tanda penuaan lebih cepat muncul.
Setiap tahun setiap wanita menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli produk perawatan kulit dengan teknologi terkini. Kita lebih percaya pada iklan yang mengklaim produk tersebut secara ajaib akan menjaga kulit senantiasa awet muda.
Setiap tahun setiap wanita menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli produk perawatan kulit dengan teknologi terkini. Kita lebih percaya pada iklan yang mengklaim produk tersebut secara ajaib akan menjaga kulit senantiasa awet muda.
Label:
cegah,
diabetes,
elastisitas,
hipertensi,
kering,
Keriput,
kulit,
kurangi,
kusam,
makanan,
manis,
Mulai,
penuaan,
penyakit jantung,
penyebab,
pola makan buruk,
rentan infeksi,
sinar matahari,
terbesar,
tidak sehat
Selasa, 25 Juni 2013
Tips Memilih Kasur agar Tidur Lebih Sehat
Tahukah Anda, tidur yang cukup mampu meningkatkan kewaspadaan, ketelitian, respon, konsentrasi, dan produktivitas? Sebaliknya, kekurangan tidur mampu menimbulkan peningkatan risiko penyakit berbahaya.
American Asscociation of Cancer Research (2008) menyatakan, perempuan aktif yang tidur kurang dari tujuh jam setiap hari memiliki risiko 47 persen lebih besar untuk menderita kanker payudara. Sekedar tidur juga tidak cukup. Gangguan tidur yang dianggap sepele, seperti mendengkur dapat mengurangi kualitas tidur dan berisiko menyebabkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, disfungsi ereksi, serta penurunan kualitas hidup.
American Asscociation of Cancer Research (2008) menyatakan, perempuan aktif yang tidur kurang dari tujuh jam setiap hari memiliki risiko 47 persen lebih besar untuk menderita kanker payudara. Sekedar tidur juga tidak cukup. Gangguan tidur yang dianggap sepele, seperti mendengkur dapat mengurangi kualitas tidur dan berisiko menyebabkan penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, disfungsi ereksi, serta penurunan kualitas hidup.
Label:
Andreas Prasasdja,
bantal,
diabetes,
disfungsi ereksi,
hipertensi,
hormon pertumbuhan,
jantung,
Kasur,
keras,
Memilih,
mendengkur,
nyaman,
penyangga,
peremajaan kulit,
sehat,
stroke,
tidur
Cara Sehat untuk yang Suka Makan Mi Instan
Meski mi instan diketahui bukanlah makanan yang menyehatkan, namun nyatanya tak sedikit orang yang menggemari makanan ini. Walau begitu ada cara sehat yang bisa dilakukan bagi para penggemar mi instan.
Mi instan bisa dibilang adalah makanan yang cara penyajiannya sangat mudah, mengenyangkan dan memiliki rasa yang gurih serta enak. Tak heran beberapa orang bisa sangat ketagihan mengonsumsi mi instan.
Mi instan bisa dibilang adalah makanan yang cara penyajiannya sangat mudah, mengenyangkan dan memiliki rasa yang gurih serta enak. Tak heran beberapa orang bisa sangat ketagihan mengonsumsi mi instan.
Label:
air rebusan,
cara,
diabetes,
hipertensi,
karbohidrat,
kegemukan,
ketagihan,
lilin,
makan,
Mi Instan,
monosodium glutamat,
MSG,
mudah sekali diserap,
pakar gizi,
sehat,
sekali seminggu,
Suka,
Titi Sekarindah
Efek Buruk Makan Mie Instan Setiap Hari
Bagaimanapun mie instan tidak bisa menggantikan makan penuh (wholesome food) dan hanya bisa di jadikan makanan bantu sementara (selingan) dan tidak boleh di konsumsi secara terus menerus karena berakibat sangat buruk bagi kesehatan.
Hal itu disebabkan kandungan zat (campuran dalam pembuatan ) mie instan. Disamping itu mie instan tidak memenuhi kebutuhan gizi seimbang bagi tubuh . Walaupun di dalam mie instan terdapat kandungan karbohidrat dalam jumlah besar tetapi kandungan vitamin, mineral maupun protein yang ada didalamnya sangat sedikit.
Label:
Agus Rakasiwi,
autisme,
buruk,
efek,
gluten,
hipertensi,
isu,
karbohidrat,
kompleks,
lauk pauk,
lilin,
maag,
Mie Instan,
Natrium,
POM,
sayur,
sederhana,
serat
Kamis, 16 Mei 2013
Meski ‘Ndeso’, Makanan Ini Bisa Selamatkan Hidup Anda
Hasil penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Indonesia menyebutkan bahwa selain rendah kalori, ubi jalar juga mengandung antioksidan (β-karoten dan antosianin) yang bermanfaat bagi kesehatan.
Antioksidan adalah senyawa yang penting bagi kesehatan karena dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit. Bahkan vitamin C, B2, B6, D, E dan biotin pun ada dalam makanan ‘ndeso’ ini.
Selain mengandung nilai gizi yang tinggi, ubi jalar juga memiliki segudang manfaat kesehatan bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
Manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh ubi jalar antara lain, mencegah kanker, mengendalikan gula darah, mencegah penuaan dini, menjaga elastisitas kulit, mencegah serangan jantung, hingga membantu menurunkan berat badan.
Bahkan sebuah studi menyebutkan, kandungan kalium dalam ubi mampu mengurangi risiko stroke pada penderita hipertensi sebesar 40 persen. Sementara tekanan darah yang terlalu tinggi bisa berkurang hingga 25 persen.
Apakah manfaat di atas bisa Anda dapatkan dengan mengonsumsi makanan cepat saji? tentu tidak. Karena meskipun kalah ‘gengsi’, ubi jalar masih unggul dalam meningkatkan kualitas hidup Anda.
Antioksidan adalah senyawa yang penting bagi kesehatan karena dapat mengurangi risiko terkena berbagai penyakit. Bahkan vitamin C, B2, B6, D, E dan biotin pun ada dalam makanan ‘ndeso’ ini.
Selain mengandung nilai gizi yang tinggi, ubi jalar juga memiliki segudang manfaat kesehatan bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
Manfaat kesehatan yang ditawarkan oleh ubi jalar antara lain, mencegah kanker, mengendalikan gula darah, mencegah penuaan dini, menjaga elastisitas kulit, mencegah serangan jantung, hingga membantu menurunkan berat badan.
Bahkan sebuah studi menyebutkan, kandungan kalium dalam ubi mampu mengurangi risiko stroke pada penderita hipertensi sebesar 40 persen. Sementara tekanan darah yang terlalu tinggi bisa berkurang hingga 25 persen.
Apakah manfaat di atas bisa Anda dapatkan dengan mengonsumsi makanan cepat saji? tentu tidak. Karena meskipun kalah ‘gengsi’, ubi jalar masih unggul dalam meningkatkan kualitas hidup Anda.
Label:
antioksidan,
antosianin,
berat badan,
cepat saji,
gula darah,
hipertensi,
kalium,
kanker,
kulit,
manfaat kesehatan,
penelitian,
penuaan dini,
rendah kalori,
serangan jantung,
stroke,
ubi jalar,
vitamin,
β-karoten
Rabu, 17 April 2013
Anak Pendek Terancam Bodoh dan Penyakitan
Anak pendek umumnya kecerdasannya rendah dan rentan terkena penyakit degeneratif, seperti diabetes, hipertensi, stroke, gangguan jantung, dan kanker.
”Anak pendek (stunting) mengalami hambatan pertumbuhan organ, termasuk otak. Semakin banyak anak pendek, semakin banyak penerus bangsa yang potensial mengidap penyakit dan berinteligensia rendah. Tantangan kita adalah menekan jumlah anak pendek,” kata Soekirman dari Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia pada peluncuran program Gerakan Peningkatan Nutrisi (SUN Movement), Rabu (17/4), di Jakarta.
Jumlah anak pendek di Indonesia sekitar 7 juta orang (36 persen dari jumlah anak). Indonesia merupakan negara dengan anak pendek terbanyak kelima setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan.
Menurut ahli gizi dari Universitas Indonesia, Endang L Achadi, anggapan bahwa anak pendek akibat faktor genetik tidak tepat. Faktor penentunya adalah kecukupan gizi. Hal itu harus terpenuhi sejak ibu hamil.
”Delapan minggu pertama kehamilan merupakan fase pembentukan organ tubuh, termasuk otak. Dilanjutkan fase pembelahan sel yang menentukan jumlah sel otak. Dua fase ini masuk dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Jika gizi tidak cukup, pembelahan sel dan pembentukan organ terganggu,” katanya.
Endang menyarankan agar remaja perempuan mempersiapkan fisik menjelang menikah. Sebab, kecukupan gizi janin di kandungan ditentukan dari kecukupan gizi calon ibu. ”Perempuan kurus berisiko mengandung janin dengan gizi kurang. Setelah melahirkan, kecukupan gizi ibu memengaruhi ketersediaan air susu. Jadi, persiapkan dengan benar jika hendak menikah,” ujarnya.
Permasalahan gizi khususnya anak pendek paling banyak terdapat di Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. Untuk mengatasinya, Kepala Subdirektorat Bina Konsumsi Makanan Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan Iip Syaiful mengatakan, mulai tahun 2014, pemerintah daerah akan menganggarkan dana untuk kegiatan gerakan nasional percepatan gizi.
”Anak pendek (stunting) mengalami hambatan pertumbuhan organ, termasuk otak. Semakin banyak anak pendek, semakin banyak penerus bangsa yang potensial mengidap penyakit dan berinteligensia rendah. Tantangan kita adalah menekan jumlah anak pendek,” kata Soekirman dari Yayasan Kegizian untuk Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia pada peluncuran program Gerakan Peningkatan Nutrisi (SUN Movement), Rabu (17/4), di Jakarta.
Jumlah anak pendek di Indonesia sekitar 7 juta orang (36 persen dari jumlah anak). Indonesia merupakan negara dengan anak pendek terbanyak kelima setelah India, China, Nigeria, dan Pakistan.
Menurut ahli gizi dari Universitas Indonesia, Endang L Achadi, anggapan bahwa anak pendek akibat faktor genetik tidak tepat. Faktor penentunya adalah kecukupan gizi. Hal itu harus terpenuhi sejak ibu hamil.
”Delapan minggu pertama kehamilan merupakan fase pembentukan organ tubuh, termasuk otak. Dilanjutkan fase pembelahan sel yang menentukan jumlah sel otak. Dua fase ini masuk dalam 1.000 hari pertama kehidupan. Jika gizi tidak cukup, pembelahan sel dan pembentukan organ terganggu,” katanya.
Endang menyarankan agar remaja perempuan mempersiapkan fisik menjelang menikah. Sebab, kecukupan gizi janin di kandungan ditentukan dari kecukupan gizi calon ibu. ”Perempuan kurus berisiko mengandung janin dengan gizi kurang. Setelah melahirkan, kecukupan gizi ibu memengaruhi ketersediaan air susu. Jadi, persiapkan dengan benar jika hendak menikah,” ujarnya.
Permasalahan gizi khususnya anak pendek paling banyak terdapat di Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Papua, dan Papua Barat. Untuk mengatasinya, Kepala Subdirektorat Bina Konsumsi Makanan Direktorat Bina Gizi Kementerian Kesehatan Iip Syaiful mengatakan, mulai tahun 2014, pemerintah daerah akan menganggarkan dana untuk kegiatan gerakan nasional percepatan gizi.
Minggu, 14 April 2013
Wow! Khasiat Putih Telur Terbukti Sehebat Obat Hipertensi
Telur, baik kuning maupun putihnya, ternyata sama-sama baik bagi kesehatan. Kuning telur dikenal manfaatnya untuk kesehatan jantung . Kini, penelitian menunjukkan bahwa putih telur dapat menurunkan tekanan darah.
Dr Zhipeng Yu dan timnya dari Jilin University China memelajari peptida bernama RVPSL yang ditemukan dalam putih telur. Zat ini memiliki kemampuan hebat untuk mencegah aksi ACE, zat yang diproduksi dalam tubuh yang dapat menaikkan tekanan darah. Percobaan terhadap tikus menunjukkan bahwa RVPSL tak memiliki efek toksin dan dapat menurunkan tekanan darah.
“Kami memiliki bukti laboratorium bahwa zat dalam putih telur yakni peptida mengurangi tekanan darah sebanyak Captopril [obat untuk mengatasi tekanan darah tinggi] dalam dosis rendah,” ujar Yu, seperti diberitakan situs Daily Mail (9/4/201313).
Yu yakin bahwa peptida, baik dalam putih telur maupun sebagai suplemen, dapat berguna sebagai tambahan pengobatan tekanan darah tinggi.
Hasil penelitian inipun mendukung temuan University of Alberta, Kanada, pada 2009. Dikatakan bahwa ketika telur bersinggungan dengan enzim perut, dihasilkan protein yang bekerja seperti obat penurun tekanan darah.
Berdasarkan riset University of Missouri, ditemukan bahwa sarapan telur yang tinggi protein merupakan cara terbaik untuk mengendalikan nafsu makan. Hal ini juga dapat mencegah kita ngemil makanan tak sehat di malam hari.
Sumber: *
Label:
Daily Mail,
enzim perut,
hipertensi,
jantung,
Jilin University China,
kuning,
nafsu makan,
obat,
peptida,
putih,
RVPSL,
sarapan,
sehebat,
tekanan darah,
telur,
tikus,
University of Alberta,
Zhipeng Yu
Sabtu, 06 April 2013
Perut Buncit? Jangan Salahkan Usia Anda
Usia sering menjadi biang kerok sesuatu. Dengan alasan usia yang sudah tua, menjadi pembenaran bagi kita untuk hanya duduk di rumah, tak perlu lagi aktif bekerja. Umur juga sering jadi dalih untuk menerima begitu saja apa yang Anda anggap sewaktu masih muda sebagai penyakit. Setelah berangsur tua tidak demikian lagi. Anda sakit pinggang, sakit lutut, hipertensi, diabetes, jantung, dianggap normal bila keluhan penyakit itu muncul setelah Anda beranjak tua. Bahkan, karena usia dianggap sudah tua, sah-sah saja seseorang kemudian meninggal.
Perut buncit, yang diketahui sebagai faktor risiko beberapa penyakit seperti hipertensi, jantung, stroke, diabetes mellitus, bahkan keganasan, juga dianggap tidak bermasalah, normal-normal saja bila terjadi pada seseorang yang umurnya sudah beranjak tua. Padahal, pada anak-anak perut buncit sekarang bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Dan lebih celaka lagi, banyak yang punya asumsi bahwa perut yang buncit itu dianggap sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari, seiring bertambahnya usia mereka.
Sesuai fenomena di atas, banyak pasien saya yang menganggap dan menyalahkan perut mereka yang buncit itu akibat usia mereka yang semakin tua. Misalnya Tuan A. Laki-laki usia 52 tahun, datang konsultasi dengan keluhan dada panas dan perut menyesak, terutama setelah makan. Waktu saya beritahu bahwa keluhannya ada kaitannya dengan perutnya yang buncit itu, pasien seperti tidak percaya, dan merasa bahwa perutnya yang besar itu adalah normal karena usianya yang dia anggap sudah mulai tua.
Pasien lain, seorang wanita berusia 55 tahun dengan keluhan nyeri pada salah satu lututnya. Waktu saya jelaskan bahwa salah satu faktor risiko nyeri pada lututnya ada hubungan dengan kegemukan dan perutnya yang besar, juga beranggapan demikian. "Gimana lagi dokter, umur saya kan sudah cukup tua", kata pasien
Seperti diketahui, umur memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya perut buncit. Semakin tua Anda, maka kemungkinan perut Anda semakin buncit kian besar pula. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan yang sering diajukan pasien saya. Salah satu penyebabnya adalah berkaitan dengan menurunnya tingkat metabolisme tubuh kita seiring dengan menuanya kita. Metabolisme yang menurun ini disebakan oleh berkurangnya massa otot, perubahan hormonal, dan kebutuhan kalori organ internal kita yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya usai kita.
Perubahan hormonal yang terjadi ini, dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi lebih gemuk. Penurunan hormon testosteron dan DHEA pada laki-laki, dan hormon estrogen pada wanita pada wanita dapat menurunkan massa otot dan penumpukan lemak di sekitar perut. Tetapi, itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mempertahan kebidupan yang sehat dan menjaga keseimbangan hormonal dengan semakin tuanya kita. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan masaa otot akibat bertambahnya umur, sebagian besar dibawah kendali kita. Semakin sehat makanan kita, semakin sehat kita hidup, dan semakin sering kita bergerak, olahraga, maka semakin seimbang hormon dan semakin baik metabolisme tubuh kita.
Kemudian, umur hanyalah salah satu faktor risiko perut Anda semakin buncit. Massa otot yang semakin berkurang apalagi aktifitas fisik Anda juga semakin menurun dan asupan makanan Anda sama saja atau bahkan lebih banyak lagi merupakan faktor penting bertambahnya tumpukan lemak di sekitar perut Anda. Massa otot yang berkurang menyebabkan metabolisme tubuh menurun. Penurunan ini akan mengurangi kebutuhan rata-rata kalori kita. Jadi, bila kita tetap makan dengan porsi yang sama, sementara kebutuhan kalorinya menurun, penumpukan lemak itu akan tetap terjadi. Karena itu, sangat penting mempertahankan massa otot walau usia Anda bertambah. Seperti diketahui, jaringan otot membakar kalori 3 kali lebih banyak dibandingkan jaringan lemak.
Lalu, karena umur itu tidak dapat dikendalikan, yang dapat kita lakukan adalah mengatur masukan kalori dan mempertahankan aktivitas fisik yang cukup. Jadi, agar penumpukan lemak itu tidak terjadi, maka Anda harus mengurangi masukan kalori harian Anda atau menaikkan kalori keluarannya. Masukan kalori dapat dikurangi dengan mengurangi asupan makanan yang mengandung kalori tinggi seperti gula, karbohidrat olahan, lemak jenuh, dan memperkecil takaran piring Anda, serta sebaliknya memilih makanan yang banyak mengandung serat, seperti sayuran dan buah-buahan.
Untuk meningkatkan keluaran kalori, dapat Anda lakukan dengan olahraga aerobik secara teratur, paling tidak 30-40 menit setiap hari, minimal 5 kali dalam seminggu. Dan, untuk meningkatkan massa otot Anda, lakukan olahraga peregangan, dan pembebanan ringan, 2-3 kali dalam seminggu. Insya Allah dengan memperhatikan asupan makanan Anda, olahraga yang Anda lakukan, ancaman perut buncit seiring dengan bertambahnya usia Anda, dapat dihindari.
Perut buncit, yang diketahui sebagai faktor risiko beberapa penyakit seperti hipertensi, jantung, stroke, diabetes mellitus, bahkan keganasan, juga dianggap tidak bermasalah, normal-normal saja bila terjadi pada seseorang yang umurnya sudah beranjak tua. Padahal, pada anak-anak perut buncit sekarang bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Dan lebih celaka lagi, banyak yang punya asumsi bahwa perut yang buncit itu dianggap sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari, seiring bertambahnya usia mereka.
Sesuai fenomena di atas, banyak pasien saya yang menganggap dan menyalahkan perut mereka yang buncit itu akibat usia mereka yang semakin tua. Misalnya Tuan A. Laki-laki usia 52 tahun, datang konsultasi dengan keluhan dada panas dan perut menyesak, terutama setelah makan. Waktu saya beritahu bahwa keluhannya ada kaitannya dengan perutnya yang buncit itu, pasien seperti tidak percaya, dan merasa bahwa perutnya yang besar itu adalah normal karena usianya yang dia anggap sudah mulai tua.
Pasien lain, seorang wanita berusia 55 tahun dengan keluhan nyeri pada salah satu lututnya. Waktu saya jelaskan bahwa salah satu faktor risiko nyeri pada lututnya ada hubungan dengan kegemukan dan perutnya yang besar, juga beranggapan demikian. "Gimana lagi dokter, umur saya kan sudah cukup tua", kata pasien
Seperti diketahui, umur memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya perut buncit. Semakin tua Anda, maka kemungkinan perut Anda semakin buncit kian besar pula. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan yang sering diajukan pasien saya. Salah satu penyebabnya adalah berkaitan dengan menurunnya tingkat metabolisme tubuh kita seiring dengan menuanya kita. Metabolisme yang menurun ini disebakan oleh berkurangnya massa otot, perubahan hormonal, dan kebutuhan kalori organ internal kita yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya usai kita.
Perubahan hormonal yang terjadi ini, dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi lebih gemuk. Penurunan hormon testosteron dan DHEA pada laki-laki, dan hormon estrogen pada wanita pada wanita dapat menurunkan massa otot dan penumpukan lemak di sekitar perut. Tetapi, itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mempertahan kebidupan yang sehat dan menjaga keseimbangan hormonal dengan semakin tuanya kita. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan masaa otot akibat bertambahnya umur, sebagian besar dibawah kendali kita. Semakin sehat makanan kita, semakin sehat kita hidup, dan semakin sering kita bergerak, olahraga, maka semakin seimbang hormon dan semakin baik metabolisme tubuh kita.
Kemudian, umur hanyalah salah satu faktor risiko perut Anda semakin buncit. Massa otot yang semakin berkurang apalagi aktifitas fisik Anda juga semakin menurun dan asupan makanan Anda sama saja atau bahkan lebih banyak lagi merupakan faktor penting bertambahnya tumpukan lemak di sekitar perut Anda. Massa otot yang berkurang menyebabkan metabolisme tubuh menurun. Penurunan ini akan mengurangi kebutuhan rata-rata kalori kita. Jadi, bila kita tetap makan dengan porsi yang sama, sementara kebutuhan kalorinya menurun, penumpukan lemak itu akan tetap terjadi. Karena itu, sangat penting mempertahankan massa otot walau usia Anda bertambah. Seperti diketahui, jaringan otot membakar kalori 3 kali lebih banyak dibandingkan jaringan lemak.
Lalu, karena umur itu tidak dapat dikendalikan, yang dapat kita lakukan adalah mengatur masukan kalori dan mempertahankan aktivitas fisik yang cukup. Jadi, agar penumpukan lemak itu tidak terjadi, maka Anda harus mengurangi masukan kalori harian Anda atau menaikkan kalori keluarannya. Masukan kalori dapat dikurangi dengan mengurangi asupan makanan yang mengandung kalori tinggi seperti gula, karbohidrat olahan, lemak jenuh, dan memperkecil takaran piring Anda, serta sebaliknya memilih makanan yang banyak mengandung serat, seperti sayuran dan buah-buahan.
Untuk meningkatkan keluaran kalori, dapat Anda lakukan dengan olahraga aerobik secara teratur, paling tidak 30-40 menit setiap hari, minimal 5 kali dalam seminggu. Dan, untuk meningkatkan massa otot Anda, lakukan olahraga peregangan, dan pembebanan ringan, 2-3 kali dalam seminggu. Insya Allah dengan memperhatikan asupan makanan Anda, olahraga yang Anda lakukan, ancaman perut buncit seiring dengan bertambahnya usia Anda, dapat dihindari.
Senin, 30 Juli 2012
Makanan Penurun Tekanan Darah (Tensi)
Hipertensi merupakan penyakit yang bisa terjadi pada siapa saja tanpa mengenal usia. Jika tak segera diatasi, hipertensi bisa memicu penyakit kardiovaskular yang memicu kematian.
Tenang. Anda bisa menurunkan risiko hipertensi dengan cara enak, seperti mengonsumsi beberapa jenis makanan. Berikut ini beberapa makanan yang dapat membantu menurunkan tekanan darah, dilansir melalui Boldsky (27/7).
Buah kaya vitamin C
Buah-buahan seperti jeruk, kiwi, cranberry, jambu biji, anggur dan stroberi merupakan sumber yang kaya akan vitamin C. Banyak penelitian yang menunjukkan asupan vitamin C dapat mengurangi tekanan darah tinggi.
Pisang
Tak hanya memberikan energi bagi tubuh, ternyata pisang juga efektif menurunkan tekanan darah. Kalium dalam pisang diyakini menjadi nutrisi yang ampuh mengontrol tingkat tekanan darah. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, coba makan 1-2 buah pisang setiap hari. Jangan memakannya lebih dari 3 pisang. Pasalnya, buah ini memiliki gula tinggi yang dapat meningkatkan kadar gula darah sehingga membuat Anda gemuk.
Bayam
Tenang. Anda bisa menurunkan risiko hipertensi dengan cara enak, seperti mengonsumsi beberapa jenis makanan. Berikut ini beberapa makanan yang dapat membantu menurunkan tekanan darah, dilansir melalui Boldsky (27/7).
Buah kaya vitamin C
Buah-buahan seperti jeruk, kiwi, cranberry, jambu biji, anggur dan stroberi merupakan sumber yang kaya akan vitamin C. Banyak penelitian yang menunjukkan asupan vitamin C dapat mengurangi tekanan darah tinggi.
Pisang
Tak hanya memberikan energi bagi tubuh, ternyata pisang juga efektif menurunkan tekanan darah. Kalium dalam pisang diyakini menjadi nutrisi yang ampuh mengontrol tingkat tekanan darah. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, coba makan 1-2 buah pisang setiap hari. Jangan memakannya lebih dari 3 pisang. Pasalnya, buah ini memiliki gula tinggi yang dapat meningkatkan kadar gula darah sehingga membuat Anda gemuk.
Bayam
Sayuran kesukaan Popeye ini ternyata juga membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Siapa sangka jika sayuran hijau ini kaya akan vitamin C dan nutrisi penting lainnya, seperti zat besi, folat dan magnesium.
Bawang Putih
Bawang putih yang sering digunakan sebagai bumbu masakan juga bermanfaat menurunkan tingkat tekanan darah. Jenis bawang membantu mencegah darah dari kekentalan, agar mengendalikan penyumbatan di dalam jantung.
Brokoli
Nutrisi penting untuk menurunkan tekanan darah tinggi, seperti vitamin C, potasium dan khrom, terdapat di brokoli. Brokoli juga mengontrol kadar gula darah, kadar insulin dan melindungi jantung Anda dari penyakit jantung. Untuk mendapatkan manfaat optimal, sebaiknya mengonsumsinya secara teratur baik mentah atau kukus.
Tomat
Anda juga bisa menambahkan tomat ke dalam menu makanan darah tinggi karena tomat membantu menurunkan tekanan darah. Tomat memiliki antioksidan likopen yang mengurangi tekanan darah tinggi secara alami. Tomat juga kaya nutrisi penting lainnya, seperti vitamin C, A, E dan potasium serta kalium yang diperlukan untuk mengontrol tekanan darah.
Bawang Putih
Bawang putih yang sering digunakan sebagai bumbu masakan juga bermanfaat menurunkan tingkat tekanan darah. Jenis bawang membantu mencegah darah dari kekentalan, agar mengendalikan penyumbatan di dalam jantung.
Brokoli
Nutrisi penting untuk menurunkan tekanan darah tinggi, seperti vitamin C, potasium dan khrom, terdapat di brokoli. Brokoli juga mengontrol kadar gula darah, kadar insulin dan melindungi jantung Anda dari penyakit jantung. Untuk mendapatkan manfaat optimal, sebaiknya mengonsumsinya secara teratur baik mentah atau kukus.
Tomat
Anda juga bisa menambahkan tomat ke dalam menu makanan darah tinggi karena tomat membantu menurunkan tekanan darah. Tomat memiliki antioksidan likopen yang mengurangi tekanan darah tinggi secara alami. Tomat juga kaya nutrisi penting lainnya, seperti vitamin C, A, E dan potasium serta kalium yang diperlukan untuk mengontrol tekanan darah.
Label:
bawang putih,
bayam,
Boldsky,
brokoli,
gula darah,
hipertensi,
insulin,
kardiovaskuler,
likopen,
makanan,
pisang,
tekanan darah tinggi,
tomat,
vitamin C
Langganan:
Postingan (Atom)