Rabu, 20 Maret 2013

Kurangi Risiko Kanker Hingga Separuh dengan 7 Langkah Ini

Sebelumnya American Heart Association pernah mengeluarkan 7 langkah efektif untuk menjaga kesehatan jantung yang disebut dengan Life's Simple 7. Namun tak hanya itu menurut sebuah studi baru, ketujuh langkah itu ternyata juga dapat menurunkan risiko kanker pada seseorang.

"Bahkan jika Anda hanya mempraktikkan 6 saja, risiko kanker Anda akan berkurang hingga separuh," ungkap peneliti Laura Rasmussen-Torvik yang juga profesor di bidang kedokteran preventif dari Feinberg School of Medicine, Northwestern University, AS.

American Heart Association (AHA) mengembangkan metode 7 langkah ini pada tahun 2010 dengan tujuan mengurangi kasus kematian akibat serangan jantung dan stroke hingga 20 persen pada tahun 2020.

Inilah ke-7 langkah yang tergabung ke dalam Life's Simple 7:
1. Aktif bergerak - AHA merekomendasikan olahraga sedikitnya 150 menit perminggu
2. Mengendalikan kolesterol - kadar kolesterol seseorang tak boleh lebih dari 200 miligram perdesiliter.
3. Memperbaiki pola makan - mengonsumsi makanan seperti gandum utuh, buah-buahan, sayuran dan lean protein seperti ikan, termasuk membatasi asupan sodium atau garam, gula tambahan, lemak trans dan lemak jenuh.
4. Mengatur tekanan darah - tekanan darah tak boleh lebih dari 120/80
5. Menurunkan berat badan - indeks massa tubuh (BMI) harus di bawah 25
6. Mengurangi gula darah - fasting blood sugar (FBS)-nya harus di bawah 100 yang dapat dicapai dengan menghindari soda, permen dan makanan penutup lainnya, termasuk aktif berolahraga
7. Berhenti merokok, bagaimanapun caranya.

"Kami hanya ingin menguji hipotesis tersebut, lalu dari situ kami berharap informasi ini akan memberikan motivasi ekstra pada publik agar menjalankan Life's Simple 7 ini," tandas Rasmussen-Torvik seperti dilansir dari abcnews, Selasa (19/3/2013).

Untuk memastikan efektivitas ke-7 langkah itu, Rasmussen-Torvik dan rekan-rekannya mengamati data dari Atherosclerosis Risk in Communities selama dua dekade. Studi tersebut berisi tentang analisis rekam medis dari 13.253 pasien dalam kurun waktu 1987-2006. Dari situ peneliti menemukan bahwa semakin banyak langkah yang diadopsi oleh pasien, semakin kecil peluang mereka untuk terserang kanker.

Secara rinci jika seseorang menjalankan 4 langkah dari Life's Simple 7 tersebut maka risiko kankernya akan berkurang hingga 33 persen. Sedangkan jika yang diikuti 6-7 langkah, penurunan risiko kankernya dapat mencapai 51 persen.

Menurut peneliti, kesemua langkah tersebut bersifat kumulatif, tapi berhenti merokok dapat memberikan peranan yang sangat signifikan bagi pencegahan kanker.

Meski Rasmussen-Torvik tak dapat menjelaskan mengapa langkah-langkah ini dapat menurunkan risiko kanker karena itu bukanlah bagian dari studinya, ia berharap pasien berkenan mengikuti Life's Simple 7 ini karena kesemuanya dapat menurunkan risiko dua penyakit paling mematikan yang pernah ada.

"Sedikit dorongan tambahan untuk orang-orang yang mengadopsi rekomendasi ini hasilnya akan luar biasa," pungkasnya.

Sabtu, 16 Maret 2013

Selain Baik Bagi Jantung Buah Anggur Baik Untuk Pendengaran

Buah anggur merah atau anggur merah (red wine) sudah lama dipuji karena kaya akan antioksidan yang baik bagi kesehatan jantung. Namun, penelitan terbaru menyatakan kali ini kalau baik buah anggur merah maupun red wine bisa melindungi efek dari bahaya pendengaran.

Seperti dilansir Huffingtonpost, Sabtu (2/3/2013), peneliti menemukan senyawa Resveratrol dalam buah anggur merah dan red wine.

Studi yang dilakukan pada tikus ini menunjukkan kalau resveratrol memiliki kekuatan pelindung terhadap hilangnya gangguan pendengaran.

"Resveratrol merupakan bahan kimia yang sangat kuat yang tampaknya bisa melindungi proses inflamasi tubuh yang berhubungan dengan hilangnya penuaan, kognisi dan pendengaran," kata peneliti studi, Michael D. Seidman yang sekaligus direktur of the Division of Otologic/Neurotologic Surgery at Henry Ford Hospital.

Untuk membuktikan studi ini, peneliti secara khusus melihat bagaimana protein resveratrol memiliki peran dalam peradangan tubuh dan sel COX-2 dan oksigen reaktif.

Dan peneliti menemukan protein COX-2 naik ketika tikus diberikan suara bising yang mengganggu.

Namun, ketika tikus diberi resveratrol, seolah-olah protein tersebut dihambat dan oksigen dalam gangguan pendengaran menurun. Jadi tikus ini bisa mengurangi gangguan pendengaran.

" Tingkat COX-2 yang diinduksi ini mungkin merupakan mekanisme potensial gangguan pendengaran (NIHL) dan kemungkinan mekanisme kemampuan resveratrol bisa mengurangi NIHL karena kemampuannya untuk mengurangi COX-2,"jelas peneliti.

Karena penelitian ini baru dilakukan pada hewan, penelitian selanjutnya akan melihat apakah temuan ini juga berlaku pada manusia.

Walaupun belum ada pembuktian pada manusia, peneliti senang karena buah anggur maupun red wine memiliki manfaat lain.

"Buah anggur maupun red wine telah dikenal bisa melindungi darah pada tubuh sehingga bisa menurunkan kadar kolesterol 'jahat',"tambah peneliti.

Temuan ini dipublikasikan secara online dalam the journal Otolarnygology-Head and Neck Surgery.

Selasa, 12 Maret 2013

Berpikir Positif Pengaruhi Kadar Kolestrol?

Berpikir positif selain dapat membantu memperbaiki kesehatan jiwa, ternyata juga dapat meningkatkan kadar kolesterol "baik" High Density Lipoprotein (HDL), menurunkan kadar trigliserida dan molekul lemak yang perperan dalam pengerasan pembuluh arteri.

Penelitian terbaru para ahli dari Havard School of Public Health mengindikasikan, bahwa orang usia paruh baya yang berpikir positif terhadap hidupnya memiliki kadar HDL lebih baik yang melindungi jantung, sekaligus menurunkan kadar kolesterol "jahat" low density lipoprotein (LDL).

Menurut para peneliti, salah satu alasannya mungkin berhubungan dengan kecenderungan orang yang berpikir positif untuk memiliki berat badan yang terjaga serta pola makan yang sehat.

Para peneliti menganalisa data dari 990 orang berusia antara 40 sampai 70 tahun yang telah diwawancara dan diperiksa di laboratorium. Berdasarkan hasil wawancara, peserta dapat dinilai tingkat optimisme-nya yang diberi skala 6 sampai 30 berdasarkan pendapat mereka menilai beberapa kalimat.

Orang dengan rasa optimistis tinggi memiliki kadar HDL yang tinggi pula. Untuk setiap kenaikan lima poin dalam skala optimisme yang telah dibuat, HDL dalam darah meningkat satu miligram per desiliter. Para peneliti mengatakan, jumlah tersebut akan menurunkan tiga persen risiko penyakit jantung. Sebagai perbandingan, olahraga rutin dapat menurunkan risiko penyakit jantung sebanyak 6 persen.

Ketua penulis studi Julia Boeh mengatakan, hasil studi ini menambah bukti bahwa kesehatan jiwa dan fisik saling berkaitan, dan melihat dunia dengan optimisme memiliki manfaat bagi kesehatan.

Franz Messerli, ahli kardiologi dari St. Luke's-Roosevelt Hospital di New York yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa, "masih meragukan untuk mengatakan optimisme menyebabkan perubahan di kadar kolesterol. Mungkin keduanya dapat dikaitkan dengan variabel ketiga yaitu gaya hidup.

Peneliti dari Havard sebenarnya pun telah meneliti faktor gaya hidup seperti konsumsi alkohol, pola makan, dan berat badan yang dikaitkan dengan optimisme serta lemak dalam darah. Hal tersebut mengindikasikan bahwa orang yang memiliki optimisme memiliki kecenderungan untuk memiliki gaya hidup yang lebih baik sehingga berpengaruh terhadap kadar lemak di dalam tubuhnya.

Sosis Tingkatkan Risiko Kanker Pankreas?

Kembalilah kepada konsumsi makanan alami karena kebiasaan mengasup daging yang sudah diproses seperti sosis akan meningkatkan risiko kanker pankreas. Demikian disampaikan para pakar. Kendati risikonya kanker terbilang kecil namun mengurangi konsumsi daging yang diproses dari menu makanan adalah sebuah langkah sehat.

Berdasarkan analisa terhadap tujuh penelitian yang sudah dipublikasikan, para peneliti di Swedia menemukan peningkatan risiko kanker pankreas sampai 19 persen pada mereka yang mengonsumsi 4 ons daging yang diproses setiap hari.

"Dalam hidup, risiko seseorang terkena kanker pankreas adalah 1,4 persen. Jika kita terbiasa mengonsumsi daging yang diproses seperti sosis atau bacon, risikonya naik menjadi 1,7 persen," kata Dr.Richard Besser.

Menurut data The National Cancer Institute, kanker pankreas diderita 1 dari 65 orang di Amerika. Sebenarnya jika dideteksi dini peluang harapan hidup pasien tinggi, namun kanker ini sulit dideteksi pada stadium awal. Di stadium lanjut, usia harapan hidup pasien dalam 5 tahun hanyalah 5,5 persen.

Seperti halnya jenis kanker lainnya, penyebab pasti kanker pankreas masih belum jelas. Namun kanker ini banyak ditemukan pada mereka yang merokok, menderita diabetes atau obesitas. Faktor lain yang terus digali adalah kebiasaan mengonsumsi daging yang diproses.

Menurut Besser, daging yang diproses juga dikaitkan dengan kanker kolon dan saluran kemih. Daging yang diproses diketahui mengandung garam dan lemak yang tinggi sehingga bisa mengundang gangguan kesehatan lainnya.

Kaitannya dengan kanker, para pakar curiga pada nitrit, bahan kimia pengawet yang dipecah di perut dan terbawa ke pankreas melalui peredaran darah. "Untuk amannya, Anda bisa mencari produk yang tidak mengandung nitrit," kata Besser.

The American Meat Institute Foundation (AMIF) sendiri mengatakan daging merah dan juga daging yang diproses merupakan bagian dari diet seimbang yang sehat. Mereke berpendapat satu studi kecil tidak bisa dipakai sebagai dasar kesimpulan.

"Agar tetap sehat, yang harus diperhatikan adalah pola makan yang seimbang, berat badan ideal, serta gaya hidup yang sehat," kata James Hodges, presiden AMIF.

Jus Pare Cegah Kanker Pankreas

Kendati rasanya pahit, namun tak sedikit orang yang menggemari makanan olahan dari pare. Manfaat dari konsumsi buah pare, terutama jika dibuat jus, ternyata efektif untuk mencegah pertumbuhan sel kanker pankreas.

Sebuah studi yang dimuat di jurnal Carcinogenesis menunjukkan manfaat buah pare terhadap pencegahan kanker. Hasil pengujian pada tikus sama dengan hasil tiga tahun lalu saat diujikan secara in vitro.

Rekan ketua program Pencegahan dan Pengawasan Kanker di CU Cancer Center Rajesh Agarwal mengatakan, tiga tahun lalu para peneliti menemukan efek dari ekstrak pare pada sel kanker payudara hanya menggunakan Petri dish. Kemudian penelitian ini berkembang dengan menggunakan jus pare yang selama ini sudah banyak dikonsumsi oleh orang Asia.

"Hasilnya jus pare dapat mempengaruhi jalur metabolisme glukosa, membatasi energi dan membunuh sel kanker pankreas," ujar profesor di Skaggs School of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences ini.

Kanker pankreas merupakan satu dari jenis kanker yang paling mematikan karena cukup sulit terdeteksi. Setiap tahun di Amerika Serikat ditemukan 45.220 kasus baru dan 38.460 kematian akibat kanker pankreas. Setelah diagnosa, tingkat kelangsungan hidup pasien setelah satu tahun adalah 26 persen, dan setelah lima tahun hanya 6 persen.

Para peneliti mendapati penurunan kemampuan pertumbuhan sel kanker pankreas manusia pada tikus sebanyak 60 persen. Para peneliti juga mendapati hasil yang sama pada sel kanker pankreas saat dilakukan secara in vitro.

Jus pare bekerja dengan cara menghambat sel untuk melakukan metabolisme glukosa dan membatasi asupan energi bagi sel-sel kanker. Hal ini kemudian akan membuat sel-sel kanker kehabisan energi karena mereka mengandalkan sebagian besar energi dari glukosa dan tidak memiliki produksi energi alternatif.

"Ini adalah penemuan yang menggembirakan. Banyak peneliti yang menciptakan obat baru yang menargetkan kemampuan sel kanker dalam memproduksi energi, dan kami memiliki senyawa alami yang mungkin dapat melakukan hal itu," ujar Agarwal.

Strawberry Mampu Turunkan Kadar Kolesterol

Strawberry dan blueberry yang berwarna menarik rasanya asam segar. Buah ini sering dijadikan hiasan cake, jus atau dimakan segar. Selain vitamin dan mineral keduanya mampu menurunkan kadar kolesterol darah.

Kedua jenis buah berry ini memang sangat direkomendasikan untuk menurunkan kolesterol. Ukurannya yang mungil dengan rasa yang segar bisa jadi camilan sehat bagi para penderita kolesterol. Blueberry dan strawberry jadi jenis yang banyak disukai, terlebih jika dimakan segar.

Strawberry memang ampuh menurunkan kolesterol. Lewat sederetan penelitian, para peneliti di University of Oklahoma mengemukakan kesimpulan jika kandungan nutrisi dalam strawberry bisa menurunkan kadar kolesterol.

Para partisipan dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nutrition Research dan dimuat dalam situs Live Strong ini memakan buah strawberry dalam jumlah yang telah ditentukan. Setiap harinya, mereka diminta mengonsumsi 3 cup strawberry selama delapan pekan. Hasilnya, kadar kolesterolnya berangsur menurun.

Sementara itu, blueberry juga jadi jenis yang ampuh menumpas kolesterol jahat. Di dalamnya terdapat serat tinggi pada bagian kulitnya yang juga membantu menurunkan kolesterol.

Hal tersebut disimpulkan lewat penelitian yang dilakukan oleh tim dari U.S. Department of Agriculture. Penelitian dilakukan terhadap hamster yang diberikan ekstrak buah blueberry secara teratur. Hasilnya, kadar kolesterol hewan tersebut menurun secara signifikan.

Selain kandungan seratnya, blueberry diketahui memiliki kandungan antioksidan Anthocyanin yang tinggi. Antioksidan ini berperan penting dalam melawan radikal bebas yang mempengaruhi kerusakan sel.

Jika akan mengonsumsi starwberry dan blueberrry dianjurkan dalam keadaan segar, tanpa diolah. Atau jika dibuat jus sebaiknya tanpa tambahan gula dan bahan lainnya. Semakin segar akan semakin besar manfaatnya untuk tubuh. Bisa dikonsumsi saat sarapan atau sebagai camilan sehat.

Pare Berkhasiat Turunkan Berat Badan

Pare dikenal juga dengan karela, berwarna hijau dan berbiji banyak. Permukaannya tidak rata dan berkerut-kerut. Meskipun rasanya pahit, ternyata pare mengandung banyak nutrisi. Bahkan jika dikonsumsi rutin mampu menurunkan berat badan.

Ternyata sering mengonsumsi pare dapat membantu menurunkan berat badan. Tidak hanya itu, pare juga ampuh menurunkan glukosa darah. Kerena itu sangat baik dikonsumsi bagi penderita diabates. Juga dapat mencegah risiko terkena diabetes tipe 2.

Umumnya gula darah yang meningkat terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi makanan manis. Nantinya makanan manis ini akan mengirimkan sinyal ke pankreas untuk melepaskan hormon insulin dan menyimpannya lemak. Dengan begitu berat badanpun bisa cepat meningkat.

Menurut penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention, pare mengandung kalori yang rendah. Karenanya jika dikonsumsi banyak tidak akan membuat berat badan naik. Dengan jumlah kalori per cangkirnya sekitar 16 kkal.

Seperti dikutip Times of India, Minggu (10/3/2013), pare juga mengandung banyak air sekitar 90 persen per buah. Kandungan air yang dikonsumsi ini dapat menekan nafsu makan karena memberikan rasa kenyang lebih lama.

Rasa kenyang juga bisa tertahankan, karena kandungan serat dalam pare yang mencapai 2,6 gram per 100 gram pare. Kadar serat ini ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk dipecah di perut, sehingga bisa mencegah rasa lapar lebih lama.

Pernyataan tersebut juga tercantum dalam Pedoman Diet dari Departemen Kesehatan di India. Menerapkan diet tinggi serat dapat membantu mengontrol berat badan. Sekitar 100 gram pare juga dapat memenuhi kebutuhan vitamin C sekitar 70 % dan 9 % vitamin A.

Jika tidak suka rasa pahit jangan khawatir, karena rasa pahit pada pere bisa dikurangi. Taburi pare yang sudah diiris atau dipotong dengan sedikit garam lalu remas-remas hingga berair, bilas air dingin dan olah sesuai resep.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...