Menyambut malam tahun baru kemarin tentunya banyak orang yang kurang tidur. Tetapi bagi kesehatan efek kurang tidur merupakan efek yang merugikan bagi tubuh. Menurut para peneliti melaporkan bahwa kurang tidur memiliki efek seperti kepala terbentur.
Dilansir dari Dailymail, Peneliti mengungkapkan bahwa kerusakan yang disebabkan kurang tidur pada otak sama dengan kerusakan ketika kepala terbentur atau terkena pukulan. Peneliti mengungkapkan bahwa kurang tidur bisa menyebabkan perubahan pada otak yang hampir sama dengan seseorang terkenal pukulan di kepala.
Hasil ini didapatkan peneliti setelah melakukan pemeriksaan pada pria muda yang sehat. Mereka menunjukkan adanya pelonjakan zat kimia yang menandakan adanya kerusakan pada otak setelah mereka tidak tidur semalaman.
Tampilkan postingan dengan label Swedia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Swedia. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Januari 2014
Wah, Kurang Tidur Efeknya Sama Dengan Kepala Terbentur
Label:
Alzheimer,
Christian Benedict,
efek,
IQ,
jantung,
Kepala Terbentur,
kurang tidur,
merugikan,
NSE,
Parkinson,
pria muda sehat,
pukulan,
S100B,
sakit sendi,
Sclerosis,
Swedia,
Uppsala University,
Wah
Selasa, 12 Maret 2013
Sosis Tingkatkan Risiko Kanker Pankreas?
Kembalilah kepada konsumsi makanan alami karena kebiasaan mengasup daging yang sudah diproses seperti sosis akan meningkatkan risiko kanker pankreas. Demikian disampaikan para pakar. Kendati risikonya kanker terbilang kecil namun mengurangi konsumsi daging yang diproses dari menu makanan adalah sebuah langkah sehat.
Berdasarkan analisa terhadap tujuh penelitian yang sudah dipublikasikan, para peneliti di Swedia menemukan peningkatan risiko kanker pankreas sampai 19 persen pada mereka yang mengonsumsi 4 ons daging yang diproses setiap hari.
"Dalam hidup, risiko seseorang terkena kanker pankreas adalah 1,4 persen. Jika kita terbiasa mengonsumsi daging yang diproses seperti sosis atau bacon, risikonya naik menjadi 1,7 persen," kata Dr.Richard Besser.
Menurut data The National Cancer Institute, kanker pankreas diderita 1 dari 65 orang di Amerika. Sebenarnya jika dideteksi dini peluang harapan hidup pasien tinggi, namun kanker ini sulit dideteksi pada stadium awal. Di stadium lanjut, usia harapan hidup pasien dalam 5 tahun hanyalah 5,5 persen.
Seperti halnya jenis kanker lainnya, penyebab pasti kanker pankreas masih belum jelas. Namun kanker ini banyak ditemukan pada mereka yang merokok, menderita diabetes atau obesitas. Faktor lain yang terus digali adalah kebiasaan mengonsumsi daging yang diproses.
Menurut Besser, daging yang diproses juga dikaitkan dengan kanker kolon dan saluran kemih. Daging yang diproses diketahui mengandung garam dan lemak yang tinggi sehingga bisa mengundang gangguan kesehatan lainnya.
Kaitannya dengan kanker, para pakar curiga pada nitrit, bahan kimia pengawet yang dipecah di perut dan terbawa ke pankreas melalui peredaran darah. "Untuk amannya, Anda bisa mencari produk yang tidak mengandung nitrit," kata Besser.
The American Meat Institute Foundation (AMIF) sendiri mengatakan daging merah dan juga daging yang diproses merupakan bagian dari diet seimbang yang sehat. Mereke berpendapat satu studi kecil tidak bisa dipakai sebagai dasar kesimpulan.
"Agar tetap sehat, yang harus diperhatikan adalah pola makan yang seimbang, berat badan ideal, serta gaya hidup yang sehat," kata James Hodges, presiden AMIF.
Berdasarkan analisa terhadap tujuh penelitian yang sudah dipublikasikan, para peneliti di Swedia menemukan peningkatan risiko kanker pankreas sampai 19 persen pada mereka yang mengonsumsi 4 ons daging yang diproses setiap hari.
"Dalam hidup, risiko seseorang terkena kanker pankreas adalah 1,4 persen. Jika kita terbiasa mengonsumsi daging yang diproses seperti sosis atau bacon, risikonya naik menjadi 1,7 persen," kata Dr.Richard Besser.
Menurut data The National Cancer Institute, kanker pankreas diderita 1 dari 65 orang di Amerika. Sebenarnya jika dideteksi dini peluang harapan hidup pasien tinggi, namun kanker ini sulit dideteksi pada stadium awal. Di stadium lanjut, usia harapan hidup pasien dalam 5 tahun hanyalah 5,5 persen.
Seperti halnya jenis kanker lainnya, penyebab pasti kanker pankreas masih belum jelas. Namun kanker ini banyak ditemukan pada mereka yang merokok, menderita diabetes atau obesitas. Faktor lain yang terus digali adalah kebiasaan mengonsumsi daging yang diproses.
Menurut Besser, daging yang diproses juga dikaitkan dengan kanker kolon dan saluran kemih. Daging yang diproses diketahui mengandung garam dan lemak yang tinggi sehingga bisa mengundang gangguan kesehatan lainnya.
Kaitannya dengan kanker, para pakar curiga pada nitrit, bahan kimia pengawet yang dipecah di perut dan terbawa ke pankreas melalui peredaran darah. "Untuk amannya, Anda bisa mencari produk yang tidak mengandung nitrit," kata Besser.
The American Meat Institute Foundation (AMIF) sendiri mengatakan daging merah dan juga daging yang diproses merupakan bagian dari diet seimbang yang sehat. Mereke berpendapat satu studi kecil tidak bisa dipakai sebagai dasar kesimpulan.
"Agar tetap sehat, yang harus diperhatikan adalah pola makan yang seimbang, berat badan ideal, serta gaya hidup yang sehat," kata James Hodges, presiden AMIF.
Label:
19 persen,
4 ons,
diabetes,
garam,
kanker,
kolon,
lemak,
merokok,
nitrit,
obesitas,
pankreas,
penelitian,
pengawet,
Richard Besser,
saluran kemih,
sosis,
Swedia,
The National Cancer Institute,
tinggi,
tingkatkan
Langganan:
Postingan (Atom)