Tampilkan postingan dengan label tinggi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tinggi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

Calon pemimpin dinilai tak cukup hanya modal IQ tinggi

Kecerdasan seseorang dinilai tak hanya dilihat dari intelligence quotient (IQ), tetapi juga harus ada keseimbangan dengan emotional intelligence (EQ), dan spiritual quotient (SQ). Selain itu perlu juga dimiliki seseorang yakni adversity quotient (AQ) untuk menghadapi masalah, terlebih jika orang tersebut adalah calon pemimpin.

"Awal menjadi pemimpin itu perlu keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ, serta AQ. Jadi mengukur kecerdasan tak cukup hanya dari salah satunya saja, karena malah penting ketika untuk calon pemimpin juga dilihat bagaimana kecerdasan menghadapi masalah dan kesulitan," kata Pakar Pendidikan Tukiman Taruna saat dihubungi, Kamis (5/6).

Selasa, 12 Maret 2013

Sosis Tingkatkan Risiko Kanker Pankreas?

Kembalilah kepada konsumsi makanan alami karena kebiasaan mengasup daging yang sudah diproses seperti sosis akan meningkatkan risiko kanker pankreas. Demikian disampaikan para pakar. Kendati risikonya kanker terbilang kecil namun mengurangi konsumsi daging yang diproses dari menu makanan adalah sebuah langkah sehat.

Berdasarkan analisa terhadap tujuh penelitian yang sudah dipublikasikan, para peneliti di Swedia menemukan peningkatan risiko kanker pankreas sampai 19 persen pada mereka yang mengonsumsi 4 ons daging yang diproses setiap hari.

"Dalam hidup, risiko seseorang terkena kanker pankreas adalah 1,4 persen. Jika kita terbiasa mengonsumsi daging yang diproses seperti sosis atau bacon, risikonya naik menjadi 1,7 persen," kata Dr.Richard Besser.

Menurut data The National Cancer Institute, kanker pankreas diderita 1 dari 65 orang di Amerika. Sebenarnya jika dideteksi dini peluang harapan hidup pasien tinggi, namun kanker ini sulit dideteksi pada stadium awal. Di stadium lanjut, usia harapan hidup pasien dalam 5 tahun hanyalah 5,5 persen.

Seperti halnya jenis kanker lainnya, penyebab pasti kanker pankreas masih belum jelas. Namun kanker ini banyak ditemukan pada mereka yang merokok, menderita diabetes atau obesitas. Faktor lain yang terus digali adalah kebiasaan mengonsumsi daging yang diproses.

Menurut Besser, daging yang diproses juga dikaitkan dengan kanker kolon dan saluran kemih. Daging yang diproses diketahui mengandung garam dan lemak yang tinggi sehingga bisa mengundang gangguan kesehatan lainnya.

Kaitannya dengan kanker, para pakar curiga pada nitrit, bahan kimia pengawet yang dipecah di perut dan terbawa ke pankreas melalui peredaran darah. "Untuk amannya, Anda bisa mencari produk yang tidak mengandung nitrit," kata Besser.

The American Meat Institute Foundation (AMIF) sendiri mengatakan daging merah dan juga daging yang diproses merupakan bagian dari diet seimbang yang sehat. Mereke berpendapat satu studi kecil tidak bisa dipakai sebagai dasar kesimpulan.

"Agar tetap sehat, yang harus diperhatikan adalah pola makan yang seimbang, berat badan ideal, serta gaya hidup yang sehat," kata James Hodges, presiden AMIF.

Jumat, 27 Januari 2012

Sepatu Hak Tinggi Memang Indah, Tetapi Menyakitkan

Banyak wanita tahu bahwa sepatu berhak tinggi seringkali tidak nyaman, tidak stabil, sekaligus tidak praktis. Namun, tetap saja kaum hawa ini memilih mengenakan sepatu jenis tersebut karena alasan meningkatkan kepercayaan diri.

Sepatu hak tinggi memang indah, tetapi menyakitkan. Para ilmuwan dari Australia menemukan bahwa mengenakan sepatu hak tinggi atau mengarahkan jari kaki ke bawah secara terus-menerus akan mengubah cara berjalan seseorang sehingga juga berisiko merusak otot-otot kaki secara permanen.

Para ilmuwan dari Griffith University Australia membandingkan satu grup pecinta hak tinggi dengan satu grup kontrol, yakni wanita berusia remaja akhir hingga usia 30-an tahun yang jarang mengenakan sepatu berhak tinggi. Para wanita tersebut diminta oleh para peneliti agar berjalan tanpa alas kaki kemudian diamati untuk mengetahui adakah ada perubahan dalam cara melangkah akibat menggunakan sepatu hak tinggi. Demikian tulis koran Amerika New York Times seperti dikutip kembali oleh situs Daily Mail edisi 26 Januari 2012.

Semua wanita itu diminta untuk berjalan di landasan pacu sepanjang 26 kaki yang dasarnya dipasangi sensor. Yang dimonitor adalah kekuatan masing-masing kaki saat menapak di tanah maupun sendi dan otot saat beraktivitas.

Hasil penelitian yang dipublikasikan bulan ini di Journal of Applied Physiology menemukan, meskipun saat berjalan di tanah yang rata, para penggemar hak tinggi, yaitu mereka yang kerap mengenakan alas kaki setinggi 2 inci atau lebih selama 40 jam per minggu atau lebih selama lebih dari dua tahun, mengalami cara berjalan yang disesuaikan secara mekanik dibandingkan dengan mereka yang bukan penggemar alas kaki berhak tinggi.

Para pengguna alas kaki datar melangkah lebih panjang dengan menggunakan tendon mereka untuk berjalan dan tidak banyak melibatkan betis mereka.

Perhatikan cara berjalan salah satu pesohor dunia yang gemar bersepatu hak tinggi, Victoria Beckham. Ia melangkah lebih pendek dan agresif, serta memberikan tekanan lebih pada otot betis, kata New York Times.

Cara berjalan seperti itu, menurut tim dari New York Times, adalah cara berjalan yang tidak efisien karena para pengguna sepatu hak tinggi memaksa betis mereka bekerja ekstra keras untuk melangkah ketimbang menggunakan tendon mereka yang mengontrol cara berjalan tanpa alas kaki.

The New York Times melaporkan bahwa temuan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi para peneliti yang diketuai oleh Dr. Neil J. Cronin yang saat ini sudah pindah ke University of Jyvaskyla, Finlandia.

Hasil penelitian untuk mengungkapkan bahwa setelah dua tahun, para pengguna sepatu hak tinggi akan cenderung untuk menderita kelelahan otot dan luka akibat tekanan.

Karena itu, kata Dr. Cronin, diperlukan perawatan khusus ketika melakukan olahraga dan memberikan tekanan pada tendon yang tidak sering tertekuk sepenuhnya. Disarankan juga untuk beristirahat sejenak dari penggunaan sepatu hak tinggi karena alas kaki jenis itu sebaiknya hanya dikenakan sekali atau dua kali seminggu.

ARBA’IYAH SATRIANI/ DAILY MAIL
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...