Kamis, 31 Januari 2013

Disfungsi Ereksi Terkait Penyakit Jantung & Kematian Dini?

Sebuah penelitian di Australia menemukan bukti bahwa pria dengan disfungsi ereksi (ED) memiliki risiko yang lebih tinggi terkena penyakit jantung, bahkan meski tidak memiliki sejarah masalah jantung sekalipun, dan juga berisiko lebih besar alami kematian dini.

Penelitian dari Australian National University, The University of Sydney, Victor Chang Cardiac Research Institute, dan The George Institute for Global Health, ini adalah yang pertama kalinya menunjukkan hubungan langsung antara masalah disfungsi ereksi dan risiko kematian dini atau penyakit jantung.

“Risiko penyakit jantung di kemudian hari dan kematian dini bisa terus meningkat seiring dengan tingkat keparahan disfungsi ereksi, baik pada pria dengan dan tanpa sejarah penyakit kardiovaskular,” ujar penulis studi 45 and Up Study, Profesor Emily Banks, seperti dikutip Zeenews.com.

“Disfungsi ereksi (ED) lebih cenderung menjadi gejala atau ‘silent signal’ adanya penyakit jantung. Di masa depan, sinyal ini bisa menjadi penanda yang berguna untuk membantu dokter dalam memprediksi risiko masalah kardiovaskular. Ini memang topik sensitif, tetapi pria yang menderita ED jangan malu dan diam saja, karena ada pengobatan yang efektif, baik untuk ED dan penyakit jantung,” tambahnya.

Masalah ereksi termasuk salah satu penyakit yang sangat umum. Sekitar 1 dari 5 pria berusia 40 ke atas dilaporkan mengalami disfungsi ereksi sedang atau parah. Dalam penelitian ini, para ilmuwan meneliti data kematian sekitar 95.000 pria.

“Kami menemukan bahwa pria dengan ED lebih berisiko terkena serangan jantung, gagal jantung, penyakit pembuluh darah perifer, dan masalah jantung konduksi,” kata Prof. Banks.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional PLOS Medicine.

Rabu, 30 Januari 2013

Begini Efek Narkoba yang Dipakai Raffi Ahmad

Penggunaan berlebih jenis narkoba cathinone (katinon) ternyata memiliki efek negatif bagi pengguna. Selain ketergantungan, juga berpotensi menjerumuskan pengguna hingga kematian.

“Istilahnya jantung dipacu sepaya terus bekerja. Kalau terus-menerus, ya rusak akhirnya,” ujar Kepala Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, Sunardi, Selasa, 29 Januari 2013.

Katinon merupakan senyawa yang dihasilkan dari tumbuhan. Zat tersebut biasa digunakan untuk meningkatkan nafsu makan serta daya tahan tubuh ternak. Namun, saat ini zat tersebut telah banyak dikonsumsi manusia karena fungsinya setara dengan amphentamin, jenis narkotik yang biasa digunakan di Tanah Air. “Mengilangkan sakit, capek, dan terus bersemangat,” ujarnya.

Untuk Indonesia, peredaran barang tersebut belum dikategorikan sebagai narkotik dan lazim digunakan untuk ternak. Barang tersebut masuk dari luar negeri berberengan dengan proses importase hewan ternak. Akibatnya, banyak petugas meloloskan barang tersebut. "Karena memang ditujukan buat hewan, bukan untuk manusia," ujarnya.

Sunardi menduga, seiring tertangkapnya 17 artis dan pesohor di rumah Raffi Ahmad, semakin banyak pengguna beralihmengkonsumsi jenis ini. "Kecenderungan memang ke arah situ. Barangnya mudah dan belum termasuk narkotik di Indonesia,” kata dia.

Ia menyatakan, beberapa efek samping yang akan diperoleh pengguna bila mengkonsumsi barang ini secara berlebih, yakni hilang nafsu makan, mudah marah, imsomnia (sulit tidur), mudah panik saat mendapatkan serangan, menyebabkan serangan jantung, dan darah tinggi.

Rabu, 23 Januari 2013

Durian, Sang Raja Buah dengan Segudang Manfaat Sehat


“Smells like hell, but tastes like heaven..”

Itulah ungkapan singkat yang dilontarkan seorang turis asing setelah mencicipi buah durian asli Indonesia. Di Indonesia sendiri tidak sedikit yang menutup hidung dari aroma khas buah durian. Namun tak sedikit pula yang ketagihan setelah mencicipi ke’dahsyat’an rasanya.

Pohon durian merupakan tanaman liar yang berasal dari hutan Sumatra, kalimantan, dan Malaysia. Nama durian sendiri diambil dari karakteristik buahnya yang memiliki kulit rapat berduri dengan nama latin Durio zibenthinus Murr
Soal rasa, tidak ada yang bisa ‘mangkir’ dari kelezatan buah berduri yang satu ini.

Bahkan seorang naturalis bernama Alfred Russel Wallace mengatakan bahwa durian adalah buah yang mirip puding dan diperkaya dengan rasa almond, kadang-kadang seperti es krim rasa keju, bercampur saus bawang, anggur, dan bermacam rasa yang unik.
Kandungan Gizi Durian

Selain mendapat julukan ‘The King of Fruit’ durian juga mendapatkan julukan sebagai buah ‘bintang lima’ karena kandungan gizinya yang lengkap dibanding buah yang lain. Di antara kandungan nutrisi yang penting tersebut adalah vitamin B, vitamin C, zat besi, kalium, magnesium, fosfor, seng, thiamin, riblofavin, omega 3 dan 6. Selain itu durian juga banyak mengandung phytonurient, polyphenol, phytosterol, antioksidan, organosulfur, dan tryptophan. Disamping itu juga ada zat gizi utama seperti karbohidrat, lemak tak jenuh, dan protein.

Menurut tim peneliti dari Ohio State University, phytonutrient yang terkandung dalam buah durian diklaim mampu mematikan zat penyebab kanker, meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah kanker, diabetes, serta penyakit jantung.
Durian juga diperkaya dengan polifenol dan antioksidan seperti vitamin C. Kandungan vitamin C pada buah durian bisa mencapai 200 mg/100 gr daging buah. Angka tersebut merupakan nilai tertinggi kandungan vitamin C pada buah.

Department of Pharmacology & Toxicology, School of Medicine, State University of New York di Buffalo juga memberikan catatan penting tentang kandungan durian. Berdasarkan hasil riset mereka, kandungan zat phytosterol dalam durian berguna antara lain untuk memperbaiki reaksi anti tumor pada tubuh, memperbaiki daya tahan tubuh terhadap serangan kanker, dan membantu menghambat pertumbuhan tumor.
Manfaat Kesehatan Buah Durian

Selain rasa memiliki rasa yang nikmat dan kandungan nutrisi yang begitu lengkap, buah durian juga memiliki berbagai manfaat kesehatan yang tak kalah pentingnya, seperti:

Mencegah Penuaan Dini
Vitamin C yang terkandung dalam durian merupakan bahan baku pembuatan kolagen. Seperti kita ketahui bahwa kolagen adalah faktor penting dalam menjaga keremajaan kulit. Tak hanya itu, kolagen juga berperan penting dalam menjaga kesehatan pembuluh darah, tulang tendon, dan ligamen.

Mencegah Depresi
Kandungan vitamin B6 yang terdapat dalam buah durian juga dapat membantu memproduksi hormon serotonin. Hormon penting yang membuat suasana hati Anda menjadi lebih baik sehingga mencegah Anda dari risiko stres dan depresi.

Meningkatkan Kemampuan Otak
Sebuah studi yang dilakukan di Twickenham, London, Inggris, menyebutkan bahwa 200 pelajar diminta untuk mengonsumsi buah durian dalam jumlah cukup pada saat sarapan, istirahat, dan makan siang. Hasilnya, lebih dari 80 persen siswa mengalami peningkatan kemampuan otak dalam menyerap pelajaran dan lebih berkonsentrasi terhadap pelajaran yang diberikan.

Obat Tidur Alami
Bagi Anda yang susah tidur dan jarang mendapatkan tidur berkualitas, mungkin mengonsumsi durian bisa menjadi solusi alternatif yang tepat. Kandungan amino triptofan dalam durian dapat meringankan kecemasan, insomnia, dan menciptakan perasaan euforia dengan cara meningkatkan kadar serotonin pada otak. Serotonin merupakan zat penting untuk mengatur siklus tidur yang bekerja sama dengan zat lain yakni melatonin.

Lantas bagaimana dengan rumor yang beredar bahwa durian dapat membahayakan kesehatan?

Buah durian dapat mengganggu kesehatan jika Anda mengonsumsinya secara berlebihan. Bahkan bisa mengakibatkan kematian jika Anda mengonsumsinya bersama dengan minuman beralkohol. Agar buah durian dapat dirasakan manfaat sehatnya, cukup konsumsi 100-200 gr saja sekali makan.

So, mengapa musti takut mengonsumsi durian?

Selasa, 18 Desember 2012

7 Hal Mengejutkan Ini Menjadi Faktor Risiko Penyakit Jantung

Seseorang mungkin telah berusaha menjauhi faktor penyebab penyakit jantung seperti makanan berlemak, merokok dan kurangnya aktivitas fisik. Tetapi risiko penyakit jantung ternyata dapat meningkat karena faktor lain yang mungkin mengejutkan Anda.

Berdasarkan beberapa studi, 7 hal ini juga dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung. Seperti dilansir Besthealth, Selasa (18/12/2012), ketujuh faktor tersebut antara lain:

1. Golongan darah A, B atau AB
Menurut Harvard School of Public Health, orang dengan tipe darah A, B atau AB memiliki risiko penyakit jantung yang sedikit lebih tinggi dibanding orang dengan tipe darah O. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa risiko meningkat hingga 5 persen pada orang dengan golongan darah A, 11 persen pada orang dengan golongan darah B, dan 23 persen pada orang dengan golongan darah AB.

Para peneliti belum yakin mengapa ada perbedaan tersebut, tetapi ada bukti bahwa golongan darah O memiliki aliran darah yang lebih baik dan jenis golongan darah lainnya mungkin mengandung kolesterol jahat yang kadarnya lebih tinggi.

2. Sleep apnea yang tidak diobati
Para ilmuwan menemukan lebih banyak bukti bahwa sleep apnea, gangguan tidur di mana pernapasan berhenti secara periodik ketika tidur, terkait dengan penyakit kardiovaskuler. Orang dengan sleep apnea lebih mungkin memiliki faktor risiko lain untuk penyakit jantung seperti obesitas dan diabetes.

Namun, dokter di La Fe University dan Polytechnic Hospital di Valencia, Spanyol, baru-baru ini menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan pengobatan terhadap sleep apnea, risiko kematian pasien kardiovaskular yang sedang dirawat di rumah sakit akan berkurang dan kembali normal.

3. Menopause dini
Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Tennessee, baru-baru ini menemukan bahwa wanita yang mengalami menopause dini atau sebelum usia 46 tahun, memiliki kemungkinan serangan jantung atau stroke hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan wanita yang mengalami menopause pada usia lebih tua.

Meskipun hal ini tidak berarti menopause dapat menyebabkan penyakit jantung, wanita dalam kelompok menopause dini juga lebih cenderung memiliki faktor risiko panyakit jantung lainnya seperti BMI tinggi, diabetes dan kebiasaan merokok.

4. Perut buncit
Gemuk hanya di bagian perut lebih berbahaya daripada gemuk seluruh badan. Menurut penelitian terbaru dari Mayo Clinic menunjukkan bahwa orang yang memiliki berat badan normal bisa berisiko tinggi terhadap penyakit jantung jika memiliki perut yang buncit dan lingkar pinggang yang besar karena lemak yang menumpuk.

5. Bekerja shift malam
Orang yang bekerja shift malam, 23 persen lebih mungkin mengalami serangan jantung daripada orang yang bekerja hanya di siang hari. Hal ini dikemukakan oleh para peneliti di Western University, di mana alasannya adalah jadwal kerja di malam hari dapat mengacaukan ritme sirkadian tubuh.

6. Sejarah kekerasan saat masih anak-anak
Menurut penelitian terbaru dari American Psychological Association, wanita paruh baya yang pernah mengalami kekerasan secara fisik di masa kecil berada pada risiko yang lebih besar terhadap penyakit jantung.

Dalam studi tersebut, para wanita korban kekerasan fisik di masa lalu, 2 kali lebih mungkin memiliki tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, ukuran pinggang lebih besar dan tingkat kolesterol yang tidak sehat, yang semuanya adalah faktor risiko penyakit jantung. Alasannya adalah trauma masa kecil dapat menyebabkan stres yang lebih tinggi dan pola makan yang buruk, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.

7. Asupan vitamin D yang rendah
Para peneliti dari University of Copenhagen melakukan sebuah studi yang melibatkan lebih dari 10.000 orang di Denmark dan menemukan bukti bahwa tingkat rendah vitamin D terkait dengan risiko penyakit jantung, serangan jantung dan kematian.

Para peneliti tidak yakin apakah kekurangan vitamin D sebenarnya mengarah ke penyakit jantung atau hanya sebuah indikator kesehatan yang buruk dan berpengaruh pada kondisi jantung.

Selasa, 30 Oktober 2012

Negara Berkembang: Kanker Pada Golongan Tidak Mampu

Suplemen Herbal Untuk Kanker, Mencegah Lebih Baik
Belakangan ini tingkat penderita kanker payudara di Negara berkembang makin meningkat. Yang menyedihkan, peningkatan ini justru terjadi pada golongan yang tidak mampu seara ekonomi.

“Kanker makin banyak di derita negara berkembang, yang jumlahnya terus meningkat dibandingkan negara maju yang cenderung mendatar,” ujar DR. Dr. Aru Sudoyo, SpPD-KHOM, FACP, ahli penyakit dalam, onkologi serta hematologi dalam rangkaian acara Pink Shimmerinc di Plaza Senayan beberapa waktu lalu.

Menurut DR. Aru, di Indonesia peningkatan jumlah penderita kanker terjadi pada golongan yang justru secara ekonomi tidak mampu. “Hal ini menyedihkan, sebab semakin banyak penderita kanker yang tidak mampu membiayai pengobatan.”

Ditenggarai, gaya hidup dan faktor lingkungan yang meningkatkan risiko seseorang terserang kanker payudara. “Faktor gen hanya enam persen yang paling besar yang faktor lingkungan serta gaya hidup.”

Menurut DR. Aru meningkatnya risiko dari faktor lingkungan dan gaya hidup ini yang meyebabkan banyak orang yang tak mampu justru terserang kanker. “Mereka tak punya pilihan gaya hidup. Coba lihat makanan olahan, mulai dari zat serta pengawet dari makanan tersebut,” jelas DR. Aru.

Menurutnya, saat ini sulit mendapat angka pasti berapa jumlah penderita kanker payudara di negara ini. Indonesia mempunyai wilayah luas, penduduk beragam serta sistem pendataan yang belum rapi, membuat masyarakat kesulitan mendapat data akurat perempuan yang terserang kanker payudara. “Indonesia negara dengan banyak kepulauan, bisa saja sebenarnya lebih banyak lagi perempuan yang tak terdeteksi menderita kanker payudara“

DR. Aru menambahkan, fenomena meningkatnya jumlah penderita kanker dari golongan yang tidak mampu adalah hal yang harus segera ditangani dan mendapat perhatian besar semua pihak. “Sebab belakangan ini banyak pasien yang tidak mampu membiayai pengobatan. Padahal pengobatan secepatnya akan meningkatkan harapan hidup seorang penderita kanker.”

“Gerakan kesadaran terhadap kanker payudara harus menjadi gerakan masyarakat bersama. Agar lebih menjaga kesehatan,” pungkasnya.

Sabtu, 29 September 2012

8 Gaya Hidup Sehat Pencegah Kanker

Faktor genetik memang punya peran dalam terjadinya kanker, tetapi bukan berarti kanker pasti diwariskan dan kita cuma bisa pasrah menerima takdir. Gaya hidup sehat telah terbukti bisa mencegah kanker.

Menurut American Cancer Society, pola hidup sehat juga bisa mencegah hampir separuh kematian akibat kanker. Dan berikut adalah 8 gaya hidup sehat yang dianjurkan untuk menghindari kanker.

1. Tidak merokok
Hindari merokok atau menggunakan produk tembakau lainnya. Merokok adalah penyebab berbagai jenis kanker, mulai dari kanker paru, kerongkongan, mulut, tenggorokan, perut, dan pankreas. Merokok juga menjadi penyebab utama kematian yang bisa dicegah.

2. Skrining teratur
Jadikan skrining kanker sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin. Skrining kanker bisa mendeteksi kanker payudara, serviks, dan kanker kulit dalam stadium dini. Skrining kanker bisa dilakukan melalui cek darah, pemeriksaan fisik, tes genetik, hingga pemeriksaan X-ray.

3. Kurangi alkohol
Kanker mulut enam kali lebih sering diderita para pecandu alkohol dibandingkan dengan orang yang tidak minum alkohol.

4. Lindungi dari matahari
Sinar ultraviolet bisa merusak DNA kulit dan bisa menyebabkan mutasi genetik yang memicu kanker. Gunakan tabir surya jika Anda ingin beraktivitas lama di bawah matahari.

5. Olahraga
Riset menunjukkan orang yang aktif dan rutin berolahraga memiliki risiko lebih kecil terkena kanker kolon dan kanker payudara. Anda tak perlu berolahraga seperti atlet untuk mencegah kanker, aktivitas moderat seperti jogging, bersepeda, atau senam, sudah cukup.

6. Jaga berat badan
Berat badan berlebih terkait erat dengan beberapa jenis kanker seperti kanker kolon, tiroid, payudadara, dan endometrial.

7. Waspada terapi sulih hormon
Beberapa penelitian menunjukkan terapi sulih hormon di masa menopause meningkatkan risiko beberapa jenis kanker. Bila Anda sudah terlanjur mendapatkan terapi tersebut, batasi hanya kurang dari lima tahun.

8. Hindari radiasi
Hindari paparan radiasi dan beberapa zat kimia. Pada orang yang memang memiliki faktor risiko kanker, paparan radiasi diketahui akan menyebabkan mutasi gen yang bisa memicu sel-sel kanker menjadi aktif.

Rabu, 12 September 2012

Hindari Bahaya Radiasi Telepon Genggam

Ketergantungan masyarakat terhadap teknologi, khususnya telepon selular atau ponsel, boleh dikata sudah sangat tinggi. Padahal, radiasi yang dikeluarkan oleh ponsel sangat berbahaya, terutama bagi kesuburan pria dan jaringan syaraf di otak.

Prof. Dr. dr. Susy Tjahjani, Mkes., dosen Universitas Kristen Maranatha Bandung juga merasakan bahwa masyarakat modern sekarang ini sangat tergantung dengan peralatan ponsel. Padahal, dia menegaskan bahwa kehidupan yang terlalu erat dengan ponsel bisa berpengaruh negatif kepada penggunanya. Penyebabnya adalah efek radiasi gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan.

Radiasi elektromagnetik merupakan kombinasi medan listrik dan medan magnet yang berosilasi dan merambat lewat ruang dan membawa energi dari satu tempat ke tempat yang lain. Dalam hal ini, radiasi datang dari ponsel dan masuk ke dalam tubuh manusia.

Apa dampak buruk radiasi ponsel ini?

Menurut Susy, yang jelas, penggunaan alat tersebut secara terus-menerus bisa memengaruhi tingkat kesuburan. Itu sudah ada penelitiannya meski baru diujicobakan pada hewan. “Efek radiasi mengganggu pergerakan sel kelamin jantan (spermatozoa),” ujarnya, saaat berbincang dengan Vista.

Artinya, informasi yang menyebut bahwa radiasi ponsel menyebabkan kesuburan terganggu bukanlah mitos. “Bukan mitos, karena penelitian terhadap hewan sudah dilakukan. Untuk penelitian kepada manusia, dari lingkungan kita sendiri belum melakukan itu,” ujar guru besar di bidang kesehatan ini.

Selain dapat memengaruhi kesuburan, efek radiasi juga bisa memengaruhi kesehatan otak.
Namun demikian, lanjut peneliti pada kampus tempatnya mengajar itu, efek radiasi dapat dicegah melalui berbagai cara. Jadi, Anda bisa tetap sehat meski menggunakan ponsel.

“Misalkan daripada bicara melalui handphone, ada baiknya kita melakukan komunikasi melalui SMS saja. Terlalu lama bertelepon akan memengaruhi kesehatan otak,” ujarnya.

Bagi pasangan yang telah berumah tangga dan ingin segera memiliki keturunan, sebaiknya tidak terlalu sering menggunakan peralatan ponsel. Kurangi berbicara lewat telepon, dan tidak meletakkan benda-benda tersebut di tubuh, misalnya di kantong celana.

Ketika tidur, lanjut Susy, sebaiknya jauhkan tubuh dari peralatan teknologi tersebut. Sebab dalam kondisi hidup, ponsel tetap memancarkan radiasi kendati hanya digenggam, apalagi untuk bicara.

“Paling aman lagi gunakan hands-free untuk mendengarkan pembicaraan di handphone,” tandasnya. Penggunaan hands-free cukup aman, karena penggunaan ponsel tidak dilakukan secara langsung dan tidak menempel di telinga.

Sumber: *

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...