Tidak hanya kurang tidur yang memicu masalah kesehatan, terlalu banyak tidur pun bisa berakibat yang sama. Dua buah studi baru menunjukkan, terlalu sedikit maupun terlalu banyak tidur dapat meningkatkan risiko depresi. Para peneliti melaporkan dalam jurnal Sleep, jumlah tidur yang tidak sesuai dapat mengaktifkan gen yang berhubungan dengan depresi.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 1.700 pasangan kembar dewasa membandingkan gejala depresi seseorang dengan kembarannya. Mereka yang mendapatkan cukup tidur yaitu tujuh hingga sembilan jam per hari, hanya 27 persen yang melaporkan mengalami gejala depresi.
Tampilkan postingan dengan label fisik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fisik. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Februari 2014
Sabtu, 17 Agustus 2013
Pengaruh Kurang Tidur bagi Fisik dan Mental
Hati-hati dengan kebiasaan begadang karena pengaruh kurang tidur bagi kesehatan tidak bisa diremehkan. Mengantuk dan sulit berkonsentrasi hanyalah sedikit dari dampak kurang tidur yang perlu diketahui.
Daya ingat
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Sleep menunjukkan bahwa tingkat akurasi dalam mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan daya ingat bisa berkurang sampai 15 persen jika kita kurang tidur. Tidur membantu otak mengumpulkan informasi, sehingga tanpa waktu istirahat yang cukup otak kita akan kesulitan menyimpan data-data penting. Selanjutnya *
Daya ingat
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Sleep menunjukkan bahwa tingkat akurasi dalam mengerjakan tugas-tugas yang membutuhkan daya ingat bisa berkurang sampai 15 persen jika kita kurang tidur. Tidur membantu otak mengumpulkan informasi, sehingga tanpa waktu istirahat yang cukup otak kita akan kesulitan menyimpan data-data penting. Selanjutnya *
Senin, 03 Juni 2013
Selalu Merasa Kesepian
Memelihara hubungan baik dengan orang-orang yang kita kenal dan kita sayangi tidak hanya meningkatkan kehidupan Anda, tapi juga mampu memperpanjang hidup Anda.
Dalam sebuah studi selama 13 tahun baru-baru ini, yang melibatkan sekitar 3000 orang, para peneliti mengemukakan bahwa wanita dan pria kesepian berisiko 76% terkena serangan jantung koroner dibanding mereka yang tidak kesepian. Kesepian dikaitkan dengan kurangnya aktivitas fisik pada wanita dan pria.
Jadi jagalah hubungan baik Anda dengan kerabat atau orang yang Anda cintai.
Selasa, 14 Mei 2013
Ikut Paduan Suara Bisa Redakan Kecemasan
Rasa cemas yang berlebihan bisa menjadi salah satu bentuk penyakit mental. Untuk meredakannya, ada cara yang mudah, yaitu mengikuti paduan suara. Penelitian menunjukkan bahwa entah itu kelompok acapella atau paduan suara, bernyanyi bersama-sama bisa membantu menenangkan otak.
Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Music ini menunjukkan bahwa bernyanyi dalam kelompok bisa menurunkan kadar kecemasan dalam diri seseorang, seperti dilansir oleh Huffington Post (28/04).
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Abant Izzet Baysal University di turki ini dilakukan pada 35 orang. Mereka dipecah menjadi dua kelompok kontrol dan kelompok yang diikutkan dalam kegiatan paduan suara. Peneliti kemudian mengambil sampel air liur mereka untuk melihat efek positif atau negatifnya.
Hasilnya, peneliti menemukan bahwa kelompok yang mengikuti paduan suara memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok kontrol diketahui memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi.
Manfaat mengikuti paduan suara tak hanya untuk kesehatan mental melainkan juga kesehatan fisik. Penelitian yang dilakukan di Norwegia sebelumnya menemukan bahwa orang yang tergabung dalam kelompok paduan suara memiliki kesehatan yang lebih baik dan lebih mudah bergaul di tempat kerja, berdasarkan laporan ScienceNordic.
"Manfaat kesehatan bernyanyi bisa dirasakan baik secara fisik maupun mental," ungkap Graham Welch dari Institute of Education di University of London.
Welch menjelaskan bahwa manfaat bernyanyi bisa dirasakan baik fisik maupun mental karena menyanyi meningkatkan peredaran oksigen dalam darah dan mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.
Label:
Abant Izzet Baysal University,
air liur,
cemas,
darah,
fisik,
Graham Welch,
kecemasan,
kontrol,
menenangkan,
mental,
oksigen,
otak,
paduan,
penelitian,
penyakit,
Psychology of Music,
redakan,
suara
Jumat, 19 April 2013
Mencoba Mengukur BMI Bapak Joko Widodo (Jokowi)
Jakarta - Ketua Umum PDIP Megawati rupanya perhatian juga dengan kondisi fisik Jokowi. Mega meminta Jokowi agar menggemukkan tubuhnya. Mega menyebut Gubernur DKI Jakarta itu terlalu kurus.
"Pak Jokowi jangan terlalu kurus, malu saya punya gubernur kok kurus. Pak Jokowi semakin hari semakin kurus," jelas Mega di dalam pidato sambutan pembentukan Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GANTI) di Muara Angke, Jakut, Sabtu (13/4/2013).
Karena alasan kurus itu, Mega pun kerap mengundang Jokowi, bukan untuk berdiskusi tetapi untuk makan bersama. "Jadi saya biasa mengundang Pak Jokowi bukan membicarakan negara tapi hanya makan-makan saja," imbuhnya.
Mega meresmikan GANTI yang merupakan salah satu sayap PDIP. Organisasi itu digagas mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri.
Selain Jokowi, dalam acara ini hadir juga Gubernur Kalimantan Barat Cornelis dan politisi-politisi PDIP lainnya.
Mencoba menghitung BMI Pak Gubernur DKI yang dikatakan kurus oleh Ibu Megawati, ini hasilnya:
| Klik gambar untuk memperbesar! |
Kemudian untuk perhitungan kami pakai sumber dari Kompas Health.
Hasilnya dapat Anda lihat di gambar samping kiri, ternyata memang Bapak Gubernur DKI Joko Widodo berkategori Berat Badan Kurang.
Semoga dengan perolehan ini Bapak Jokowi bisa mempertimbangkan untuk meningkatkan asupan gizi sesuai dengan petunjuk yang ada di gambar samping ini, yaitu sekitar 2.288.006 kalori, dengan asumsi bahwa data yang kami peroleh memang masih sama dengan sumber data di atas.
Selamat melakukan program penggemukan Bapak Gubernur DKI, sehingga Ibu Megawati tidak akan merasa malu lagi, semoga, amin.
Sumber: *
Label:
berat badan,
BMI,
Cornelis,
DKI,
fisik,
GANTI,
Gubernur,
Jakarta,
Jokowi,
kurus,
malu,
Megawati,
PDIP,
tinggi badan
Kamis, 07 Maret 2013
Meraih Bahagia Lewat Olahraga
Segala yang berkaitan dengan aktivitas fisik seperti olahraga selalu dikaitkan dengan program penurunan berat badan atau pencegahan penyakit. Namun, ini kurang lengkap. Olahraga sebenarnya juga meningkatkan rasa bahagia.
Bagi mereka yang rutin berolahraga, tentu akrab dengan perasaan nyaman dan bahagia yang memenuhi hati setelah selesai olahraga. Saat berolahraga akan terjadi pelepasan endorfin sehingga kita pun merasa tenang.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam the American Journal of Epidemiology, diketahui aktivitas olahraga secara rutin sangat berpengaruh besar pada kebahagiaan seseorang.
Tim peneliti dari Kanada menganalisa data dari 8 National Population Health Survey dengan periode 15 tahun untuk mengetahui kaitan antara level aktivitas fisik dengan kebahagiaan.
Dalam jangka pendek, olahraga memang terkait dengan kebahagiaan, karena orang yang bahagia biasanya senang berolahraga.
Akan tetapi hasil penelitian menunjukkan, perubahan kebiasaan, misalnya dari tidak berolahraga menjadi aktif berolahraga akan berpengaruh pada mood seseorang dalam jangka panjang. Singkatnya, membangun kebiasaan berolahraga bisa menjadi investasi bagi rasa bahagia di masa depan.
Selain itu, orang yang rajin berolahraga juga cenderung lebih awet muda sehingga mereka pun lebih bahagia.
Olahraga, seperti joging atau berlari, akan memperlancar sirkulasi oksigen dan peredaran darah. Dengan darah yang lancar, nutrisi ke seluruh jaringan kulit tidak terhambat. Selain kesegaran sel-sel terpelihara, hal itu juga membantu mengaktifkan produksi kolagen untuk melembabkan kulit.
Bagi mereka yang rutin berolahraga, tentu akrab dengan perasaan nyaman dan bahagia yang memenuhi hati setelah selesai olahraga. Saat berolahraga akan terjadi pelepasan endorfin sehingga kita pun merasa tenang.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam the American Journal of Epidemiology, diketahui aktivitas olahraga secara rutin sangat berpengaruh besar pada kebahagiaan seseorang.
Tim peneliti dari Kanada menganalisa data dari 8 National Population Health Survey dengan periode 15 tahun untuk mengetahui kaitan antara level aktivitas fisik dengan kebahagiaan.
Dalam jangka pendek, olahraga memang terkait dengan kebahagiaan, karena orang yang bahagia biasanya senang berolahraga.
Akan tetapi hasil penelitian menunjukkan, perubahan kebiasaan, misalnya dari tidak berolahraga menjadi aktif berolahraga akan berpengaruh pada mood seseorang dalam jangka panjang. Singkatnya, membangun kebiasaan berolahraga bisa menjadi investasi bagi rasa bahagia di masa depan.
Selain itu, orang yang rajin berolahraga juga cenderung lebih awet muda sehingga mereka pun lebih bahagia.
Olahraga, seperti joging atau berlari, akan memperlancar sirkulasi oksigen dan peredaran darah. Dengan darah yang lancar, nutrisi ke seluruh jaringan kulit tidak terhambat. Selain kesegaran sel-sel terpelihara, hal itu juga membantu mengaktifkan produksi kolagen untuk melembabkan kulit.
Langganan:
Postingan (Atom)
