Paparan polusi udara telah lama diketahui sebagai faktor risiko dari penyakit jantung dan paru-paru. Namun ada lagi organ vital yang juga terkena risiko tersebut, yaitu otak. Para peneliti dari American Association for the Advancement of Sciences (AAAS) baru-baru ini mengungkap dampak paparan polusi udara pada perkembangan otak.
Penelitian pada tikus menunjukkan, paparan polusi udara dapat memicu pembesaran ventrikel otak. Kondisi tersebut berhubungan dengan gangguan perkembangan saraf seperti skizofrenia atau autisme. Para peneliti mengatakan, peningkatan tingkat polusi udara berhubungan dengan peningkatan gangguan sistem saraf selama bertahun-tahun.
Tampilkan postingan dengan label Picu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Picu. Tampilkan semua postingan
Rabu, 19 Februari 2014
Terlalu Banyak Tidur Picu Depresi
Tidak hanya kurang tidur yang memicu masalah kesehatan, terlalu banyak tidur pun bisa berakibat yang sama. Dua buah studi baru menunjukkan, terlalu sedikit maupun terlalu banyak tidur dapat meningkatkan risiko depresi. Para peneliti melaporkan dalam jurnal Sleep, jumlah tidur yang tidak sesuai dapat mengaktifkan gen yang berhubungan dengan depresi.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 1.700 pasangan kembar dewasa membandingkan gejala depresi seseorang dengan kembarannya. Mereka yang mendapatkan cukup tidur yaitu tujuh hingga sembilan jam per hari, hanya 27 persen yang melaporkan mengalami gejala depresi.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 1.700 pasangan kembar dewasa membandingkan gejala depresi seseorang dengan kembarannya. Mereka yang mendapatkan cukup tidur yaitu tujuh hingga sembilan jam per hari, hanya 27 persen yang melaporkan mengalami gejala depresi.
Sabtu, 08 Februari 2014
Larangan Merokok dalam Mobil Picu Kontroversi
Inggris saat ini sedang bersiap untuk menentukan apakah merokok di dalam mobil akan dilarang atau tidak. Karena hal ini kontroversi muncul. 700 dokter, perawat dan ahli kesehatan mendukungnya, sementara banyak pula masyarakat yang menentangnya.
Tiga tahun lalu pernah ada satu penelitian yang membuktikan bila ada yang merokok di dalam mobil, maka di kabin konsentrasi partikel berbahaya 27 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang merokok di dalam rumah, dan 20 kali lipat lebih tinggi daripada di pub.
Bukti-bukti ilmiah juga telah menunjukkan hubungan antara rokok dengan terjadinya berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung, penyakit sistem saluran pernapasan, penyakit gangguan reproduksi dan juga kehamilan.
Tiga tahun lalu pernah ada satu penelitian yang membuktikan bila ada yang merokok di dalam mobil, maka di kabin konsentrasi partikel berbahaya 27 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang merokok di dalam rumah, dan 20 kali lipat lebih tinggi daripada di pub.
Bukti-bukti ilmiah juga telah menunjukkan hubungan antara rokok dengan terjadinya berbagai penyakit seperti kanker, penyakit jantung, penyakit sistem saluran pernapasan, penyakit gangguan reproduksi dan juga kehamilan.
Label:
berbahaya,
dalam Mobil,
dokter,
kabin,
kanker,
kehamilan,
kontroversi,
Larangan,
merokok,
penyakit jantung,
perawat,
pernafasan,
perokok pasif,
Picu,
reproduksi,
Somon Clark,
voting
Sabtu, 17 Agustus 2013
Konsumsi Minuman Soda Berlebihan Picu Perilaku Anak Lebih Agresif
Rupanya soda tidak hanya menyebabkan obesitas. Penelitian terbaru menyebut jika kebiasaan minum soda pada anak juga turut pengaruhi perilakunya. Bahkan disebutkan jika semakin tinggi jumlah yang dikonsumsi, anak makin agresif!
Seperti diulas situs CNN Health, penelitian tersebut dilakukan di Columbia University yang meneliti 3.000 pasangan ibu dan anak dari 30 kota besar di Amerika. Data konsumsi makanan, cara membesarkan hingga jadwal tidurnya sudah dikumpulkan sejak baru lahir hingga mereka berusia 5 tahun.
Hasilnya cukup mengejutkan. Anak-anak yang mengonsumsi 4 gelas soda sesuai jumlah takaran saji terbukti dua kali lebih agresif dibanding anak yang tak dibiasakan minum soda. Perilaku agresif ini dibuktikan dengan kecenderungannya merusak benda milik orang lain, suka berkelahi, juga sering melontarkan kalimat negatif.
Menurut Shakira Suglia, associate professor of epidemiology sekaligus kepala peneliti dari Columbia University, dosis minuman soda memberi pengaruh besar. "Setiap peningkatan konsumsi soda, kami melihat lebih banyak masalah dalam perilakunya. Sangat berbeda dengan anak-anak yang minum soda sedikitnya satu takaran saji dalam sehari," ungkapnya dalam CNN Health (16/08/2013). Selanjutnya *
Seperti diulas situs CNN Health, penelitian tersebut dilakukan di Columbia University yang meneliti 3.000 pasangan ibu dan anak dari 30 kota besar di Amerika. Data konsumsi makanan, cara membesarkan hingga jadwal tidurnya sudah dikumpulkan sejak baru lahir hingga mereka berusia 5 tahun.
Hasilnya cukup mengejutkan. Anak-anak yang mengonsumsi 4 gelas soda sesuai jumlah takaran saji terbukti dua kali lebih agresif dibanding anak yang tak dibiasakan minum soda. Perilaku agresif ini dibuktikan dengan kecenderungannya merusak benda milik orang lain, suka berkelahi, juga sering melontarkan kalimat negatif.
Menurut Shakira Suglia, associate professor of epidemiology sekaligus kepala peneliti dari Columbia University, dosis minuman soda memberi pengaruh besar. "Setiap peningkatan konsumsi soda, kami melihat lebih banyak masalah dalam perilakunya. Sangat berbeda dengan anak-anak yang minum soda sedikitnya satu takaran saji dalam sehari," ungkapnya dalam CNN Health (16/08/2013). Selanjutnya *
Label:
4 gelas soda,
agresif,
anak,
berkelahi,
berlebihan,
CNN Health,
Columbia University,
kalimat negatif,
konsumsi,
lebih,
merusak,
minuman,
obesitas,
perilaku,
Picu,
Shakira Suglia,
soda
Langganan:
Postingan (Atom)