Tampilkan postingan dengan label darah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label darah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Ini Dia Alasan Mengapa Pria Lebih Sehat Jika Pakai Celana Boxer

Penggunaan boxer atau celana pendek di kalangan laki-laki saat ini masih belum terlalu banyak. Untuk pakaian dalam, laki-laki umumnya masih lebih memilih menggunakan celana dalam dibandingkan dengan boxer. Nyatanya, ada beberapa hal yang berhubungan dengan kesuburan yang menguntungkan para pemakai boxer.

Berikut 4 alasan mengapa penggunaan boxer lebih dianjurkan dibandingkan celana dalam, seperti dilansir Boldsky, Jumat (19/7/2013):

Jumat, 05 Juli 2013

Batuk Selama 3 Minggu atau Lebih? Bisa Jadi Gejala Kanker Paru-paru

Sebuah kampanye kanker paru-paru di Inggris baru-baru ini telah memperingatkan bahwa batuk terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, merupakan gejala penyakit kanker paru-paru yang mematikan.

Seperti yang diketahui, kanker paru-paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru.

Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus penyakit kanker paru-paru pada pria, dan 70% pada wanita. Sementara kanker paru-paru yang disebabkan oleh faktor selain merokok sangat kecil kasusnya, seperti faktor zat yang ditemui atau terhirup di luar atau dalam ruangan seperti asbes, radiasi, arsen, kromat, nikel, klorometil eter, dan gas mustard.

Senin, 03 Juni 2013

Kurang Terpapar Sinar Matahari

Terkena sinar matahari yang terik memang tidak dianjurkan siapa pun. Namun, sebenarnya kulit Anda membutuhkan sinar matahari untuk menghasilkan vitamin D yang penting bagi tubuh.

Orang yang kekurangan vitamin D dalam tubuhnya berisiko mengalami timbunan plak-plak kotor dalam pembuluh darah mereka. 

Dokter menyarankan, setidaknya Anda butuh waktu minimal 30 menit terpapar sinar matahari pada jam 10:00-15:00 setiap hari untuk membantu tubuh memproduksi vitamin D yang sangat baik bagi kesehatan.

Selasa, 14 Mei 2013

Ikut Paduan Suara Bisa Redakan Kecemasan


Rasa cemas yang berlebihan bisa menjadi salah satu bentuk penyakit mental. Untuk meredakannya, ada cara yang mudah, yaitu mengikuti paduan suara. Penelitian menunjukkan bahwa entah itu kelompok acapella atau paduan suara, bernyanyi bersama-sama bisa membantu menenangkan otak.

Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Music ini menunjukkan bahwa bernyanyi dalam kelompok bisa menurunkan kadar kecemasan dalam diri seseorang, seperti dilansir oleh Huffington Post (28/04).

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Abant Izzet Baysal University di turki ini dilakukan pada 35 orang. Mereka dipecah menjadi dua kelompok kontrol dan kelompok yang diikutkan dalam kegiatan paduan suara. Peneliti kemudian mengambil sampel air liur mereka untuk melihat efek positif atau negatifnya.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa kelompok yang mengikuti paduan suara memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok kontrol diketahui memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

Manfaat mengikuti paduan suara tak hanya untuk kesehatan mental melainkan juga kesehatan fisik. Penelitian yang dilakukan di Norwegia sebelumnya menemukan bahwa orang yang tergabung dalam kelompok paduan suara memiliki kesehatan yang lebih baik dan lebih mudah bergaul di tempat kerja, berdasarkan laporan ScienceNordic.

"Manfaat kesehatan bernyanyi bisa dirasakan baik secara fisik maupun mental," ungkap Graham Welch dari Institute of Education di University of London.

Welch menjelaskan bahwa manfaat bernyanyi bisa dirasakan baik fisik maupun mental karena menyanyi meningkatkan peredaran oksigen dalam darah dan mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.

Selasa, 05 Maret 2013

3 Dokter Gigi Tertular Pasien Pengidap AIDS

Profesi dokter gigi rentan tertular penyakit yang diidap pasiennya. Termasuk virus mematikan HIV/AIDS. Tiga dokter gigi di Surabaya dilaporkan tertular HIV/AIDS. Dua orang di antaranya bekerja di rumah sakit swasta ternama dan seorang lagi membuka praktik pribadi. Hal ini diungkapkan Prof. Nasronudin, M.D., Ph.D, spesialis penyakit dalam, yang juga pimpinan Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga Surabaya.

Nasronudin, yang menangani ketiga dokter gigi itu mengatakan kondisi ketiga pria itu sangat parah bahkan sulit untuk berkomunikasi. Nasronudin menolak menyebutkan nama ketiga dokter itu, tapi hanya menyebutkan masing-masing berusia 44 tahun, 58 tahun, dan 52 tahun. "Mereka terdiagnosis AIDS stadium 4. Kondisinya sudah sangat parah," kata Nasronudin kepada Tempo.

Ia memperkirakan para dokter gigi itu sudah lebih dari lima tahun terinfeksi virus HIV/AIDS. Nasronudin mengatakan masih sulit mencari kepastian sumber penularan. Namun, ada dua kemungkinan mereka terinfeksi, yaitu karena profesi dan pribadi.

Menurutnya, profesi dokter memang berisiko tertular HIV/AIDS. Khususnya dokter gigi, dokter obgyn, bedah, THT, dan penyakit dalam dan infeksi. Tertutupnya pasien mengenai penyakitnya menjadi faktor seorang dokter bisa terpapar virus HIV/AIDS tanpa sengaja.

Meski sudah diberi surat pengantar bahwa seseorang mengidap HIV/AIDS, sering kali surat itu tidak diberikan kepada dokter yang dirujuk. Akibatnya, dokter rujukan tersebut tidak mengetahui bahwa pasien menderita HIV/AIDS. "80 persen pasien HIV/AIDS tidak mau berikan surat pengantar ke dokter rujukan karena takut tidak ditangani," katanya.

Cara penularan HIV/AIDS bisa terjadi secara horizontal, yakni kontak cairan darah dan melalui hubungan seksual. Perbandingan penularan lewat kontak cairan darah adalah 1:1. Artinya sekali kontak, virus HIV bisa langsung tertular. Inilah yang membuat profesi dokter gigi sangat rentan terinfeksi HIV/AIDS.

Penularan virus melalui kontak cairan darah lebih berbahaya ketimbang hubungan seksual. Hubungan seksual perbandingan penularannya sekitar 1:60. Ini berarti butuh 60 kali berhubungan seksual dengan penderita HIV/AIDS untuk bisa tertular virus ini.

Koordinator Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi Rumah Sakit Umum dr Soetomo Surabaya dr Erwin Astha Triyono SpPD-KPTI mengatakan kasus HIV/AIDS terhadap tenaga medis memang masih sangat jarang, hanya 1 persen dari seluruh kasus. Karena itu, tim kesehatan diminta untuk memperhatikan kewaspadaan universal. Standar prosedur dokter dalam menangani pasien HIV/AIDS pun lebih ketat.

Pihaknya sendiri sudah memberlakukan profilaksis pascapajanan secara rutin. Dokter yang tertusuk jarum saat menangani pasien harus melapor dalam kurun waktu 4 jam sebelum tertusuk. Dengan demikian, dokter yang terinfeksi akan bisa segera dipantau sehingga virusnya tidak berkembang biak.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...