Rupanya soda tidak hanya menyebabkan obesitas. Penelitian terbaru menyebut jika kebiasaan minum soda pada anak juga turut pengaruhi perilakunya. Bahkan disebutkan jika semakin tinggi jumlah yang dikonsumsi, anak makin agresif!
Seperti diulas situs CNN Health, penelitian tersebut dilakukan di Columbia University yang meneliti 3.000 pasangan ibu dan anak dari 30 kota besar di Amerika. Data konsumsi makanan, cara membesarkan hingga jadwal tidurnya sudah dikumpulkan sejak baru lahir hingga mereka berusia 5 tahun.
Hasilnya cukup mengejutkan. Anak-anak yang mengonsumsi 4 gelas soda sesuai jumlah takaran saji terbukti dua kali lebih agresif dibanding anak yang tak dibiasakan minum soda. Perilaku agresif ini dibuktikan dengan kecenderungannya merusak benda milik orang lain, suka berkelahi, juga sering melontarkan kalimat negatif.
Menurut Shakira Suglia, associate professor of epidemiology sekaligus kepala peneliti dari Columbia University, dosis minuman soda memberi pengaruh besar. "Setiap peningkatan konsumsi soda, kami melihat lebih banyak masalah dalam perilakunya. Sangat berbeda dengan anak-anak yang minum soda sedikitnya satu takaran saji dalam sehari," ungkapnya dalam CNN Health (16/08/2013). Selanjutnya *
Tampilkan postingan dengan label perilaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perilaku. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 17 Agustus 2013
Konsumsi Minuman Soda Berlebihan Picu Perilaku Anak Lebih Agresif
Label:
4 gelas soda,
agresif,
anak,
berkelahi,
berlebihan,
CNN Health,
Columbia University,
kalimat negatif,
konsumsi,
lebih,
merusak,
minuman,
obesitas,
perilaku,
Picu,
Shakira Suglia,
soda
Rabu, 01 Februari 2012
Satu Dari Seratus Orang Dewasa Juga Menderita Autisme
Autisme ternyata tidak hanya ditemukan pada anak-anak. Hasil penelitian terbaru menunjukkan ternyata satu dari seratus orang dewasa juga menderita autisme. Studi yang dirilis hari ini di Inggris menemukan autisme dan sindrom Asperger lebih banyak diderita pria dibandingkan dengan perempuan.
Laporan NHS Information Centre menemukan bahwa sepertiga orang dewasa dengan kesulitan belajar ternyata autistik. Satu dari 50 pria yang diteliti ternyata menderita autisme, sementara pada perempuan satu kasus autistik ditemukan di antara 300 orang.
Selama ini, autisme lebih banyak ditemukan pada anak-anak. Tetapi sangat sedikit diketahui prevelensinya di antara orang dewasa.
Para peneliti dari sudah menanyai lebih dari 7.400 pria dan perempuan dewasa di Inggris. Setelah itu, dilakukan survei lanjutan yang lebih mendalam terhadap 300 orang dengan kesulitan belajar. Hasilnya, 1,1 persen dari semua orang dewasa menunjukkan tanda-tanda autisme. Prevelensi tersebut menyamai autisme pada anak-anak.
Mark Lever, kepala The National Autistic Society mengatakan, “Sudah lama ada kecenderungan melihat autisme semata-mata ditemukan pada anak-anak. Tetapi, ini adalah studi pertama yang menemukan prevalensi autisme pada orang dewasa yang ternyata setara dengan kasus anak-anak.”
Autisme dan asperger, kata dia, mengakibatkan berbagai masalah perilaku yang berbeda-beda pada setiap individu. Sampai sekitar 20 tahun lalu, sindrom ini relatif jarang ditemukan. Tapi pada awal 1990-an, ada gelombang besar kasus autisme yang ditemukan pada anak-anak. Vaksin MMR (Measles, Mumps and Rubella) dituding sebagai salah satu penyebab—meskipun kini banyak dibantah.
DAILY MAIL | NININ DAMAYANTI
Laporan NHS Information Centre menemukan bahwa sepertiga orang dewasa dengan kesulitan belajar ternyata autistik. Satu dari 50 pria yang diteliti ternyata menderita autisme, sementara pada perempuan satu kasus autistik ditemukan di antara 300 orang.
Selama ini, autisme lebih banyak ditemukan pada anak-anak. Tetapi sangat sedikit diketahui prevelensinya di antara orang dewasa.
Para peneliti dari sudah menanyai lebih dari 7.400 pria dan perempuan dewasa di Inggris. Setelah itu, dilakukan survei lanjutan yang lebih mendalam terhadap 300 orang dengan kesulitan belajar. Hasilnya, 1,1 persen dari semua orang dewasa menunjukkan tanda-tanda autisme. Prevelensi tersebut menyamai autisme pada anak-anak.
Mark Lever, kepala The National Autistic Society mengatakan, “Sudah lama ada kecenderungan melihat autisme semata-mata ditemukan pada anak-anak. Tetapi, ini adalah studi pertama yang menemukan prevalensi autisme pada orang dewasa yang ternyata setara dengan kasus anak-anak.”
Autisme dan asperger, kata dia, mengakibatkan berbagai masalah perilaku yang berbeda-beda pada setiap individu. Sampai sekitar 20 tahun lalu, sindrom ini relatif jarang ditemukan. Tapi pada awal 1990-an, ada gelombang besar kasus autisme yang ditemukan pada anak-anak. Vaksin MMR (Measles, Mumps and Rubella) dituding sebagai salah satu penyebab—meskipun kini banyak dibantah.
DAILY MAIL | NININ DAMAYANTI
Banyak Pasangan yang Aktivitas Seksualnya Terganggu Karena Pornografi
Sebuah kajian perilaku daring (online) menunjukkan ada hubungan antara frekuensi melihat hal-hal pornografi dengan aktivitas seksual seseorang.
Kevin B Skinner, psikolog sekaligus penulis buku Treating Pornography Addictionmenemukan bahwa di antara 344 responden (pria dan wanita), sekitar 43 persen di antaranya menggunakan pornografi untuk menghangatkan hubungan mereka. Namun, tingkatnya berbeda-beda. Ada yang sering, ada yang jarang.
Ia kemudian membagi respondennya menjadi kelompok yang tidak terpengaruh pornografi dan yang terpengaruh pornografi, terutama terkait kualitas hubungan seksual mereka dengan pasangan. Hasilnya mengejutkan. Pasangan yang semula tidak menggunakan pornografi dalam hubungan mereka menunjukkan tidak ada peningkatan aktivitas seksual. Bahkan, justru beberapa di antaranya malah aktivitas seksualnya menurun.
Misalnya, dari sekitar 45 persen pasangan yang biasa menjalani aktivitas seksual dua hingga tiga kali sepekan, ketika salah satu pasangannya mulai kecanduan pornografi, maka tinggal 37 persen pasangan yang masih menjalani aktivitas seksual dua hingga tiga kali sepekan. Bahkan, ada pasangan yang berhenti berhubungan intim akibat pornografi. Jumlahnya meningkat dari dua persen menjadi lima persen.
Riset ini menunjukkan banyak pasangan yang aktivitas seksualnya terganggu karena pornografi. Psikolog, terapis keluarga, atau siapa pun yang berinteraksi dengan pasangan yang sudah terkontaminasi pornografi diminta memahami kesulitan dan kepedihan yang diciptakan oleh konten-konten atau materi ini. Sayangnya, banyak pasangan yang justru tidak sadar kehidupan seksualnya memburuk gara-gara pornografi.
PSYCHOLOGYTODAY|DIANING SARI
Kevin B Skinner, psikolog sekaligus penulis buku Treating Pornography Addictionmenemukan bahwa di antara 344 responden (pria dan wanita), sekitar 43 persen di antaranya menggunakan pornografi untuk menghangatkan hubungan mereka. Namun, tingkatnya berbeda-beda. Ada yang sering, ada yang jarang.
Ia kemudian membagi respondennya menjadi kelompok yang tidak terpengaruh pornografi dan yang terpengaruh pornografi, terutama terkait kualitas hubungan seksual mereka dengan pasangan. Hasilnya mengejutkan. Pasangan yang semula tidak menggunakan pornografi dalam hubungan mereka menunjukkan tidak ada peningkatan aktivitas seksual. Bahkan, justru beberapa di antaranya malah aktivitas seksualnya menurun.
Misalnya, dari sekitar 45 persen pasangan yang biasa menjalani aktivitas seksual dua hingga tiga kali sepekan, ketika salah satu pasangannya mulai kecanduan pornografi, maka tinggal 37 persen pasangan yang masih menjalani aktivitas seksual dua hingga tiga kali sepekan. Bahkan, ada pasangan yang berhenti berhubungan intim akibat pornografi. Jumlahnya meningkat dari dua persen menjadi lima persen.
Riset ini menunjukkan banyak pasangan yang aktivitas seksualnya terganggu karena pornografi. Psikolog, terapis keluarga, atau siapa pun yang berinteraksi dengan pasangan yang sudah terkontaminasi pornografi diminta memahami kesulitan dan kepedihan yang diciptakan oleh konten-konten atau materi ini. Sayangnya, banyak pasangan yang justru tidak sadar kehidupan seksualnya memburuk gara-gara pornografi.
PSYCHOLOGYTODAY|DIANING SARI
Langganan:
Postingan (Atom)
