Tampilkan postingan dengan label standar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label standar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

Ahok: Puskesmas itu mesti dibagusin dokternya kan?!

Salah satu hambatan yang dirasakan dalam menjalani program kesehatan bagi warga miskin di DKI Jakarta adalah masih kurangnya jumlah dokter di tingkat Puskesmas. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pun akan menambah kualitas dokter di tingkat Puskesmas.

"Jadi intinya pintu masuk itu dari Puskesmas. Nah Puskesmas itu mesti dibagusin dokternya kan. Dokter-dokter spesialis di puskesmas, termasuk kompetensi jumlah dokter di lini terdepan masih kurang," kata Ahok di Balaikota, Jakarta, Selasa (19/2/2013).

Ahok mengakui bila standar gaji dokter di Ibukota masih rendah, sehingga dokter yang ingin berkarier di tataran bawah seperti puskesmas sedikit. Untuk itu dia akan menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) untuk ikut menerjunkan dokter lulusannya ke masyarakat, terutama dokter spesialis.

"Nanti kerja sama dengan FK UI yakni dengan program dokter spesialis turun ke bawah. Jadi intinya pintu masuk itu dimulai dari puskesmas," ujarnya.

Terkait sistem Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang saat ini masih berjalan, Ahok mengakui kalau sistem yang menggratiskan biaya pengobatan bagi warga Ibukota ini masih belum berjalan sempurna. "Karena faktanya KJS itu belum jalan penuh. APBD kan belum bisa kita pakai, Askes juga belum kita tunjuk, jadi itu model lama yang masih diterapkan," ucapnya.

Selain itu, dengan dana yang ada saat ini pihaknya juga masih harus membayar tunggakan utang kepada rumah sakit untuk program KJS pada November dan Desember 2013.

"Kita juga masih ada utang lama, hutang lama yang November dan Desember kan belum bayar. Karena anggaran 2012 tidak pernah cukup untuk Jamkesda. 50 ribu per orang per bulan untuk 1,2 juta rakyat. Tapi faktanya 4,7 juta rakyat kan," tuturnya.

Dia pun berharap bila APBD DKI telah disahkan, maka sistem KJS akan berjalan dengan baik dan merata. Terlebih bila jumlah dokter di puskesmas telah ditambah. "Ini kan dari Kemendagri sudah ketuk palu, ini mau turun anggarannya," imbuh Ahok.

Minggu, 24 Februari 2013

YLKI: Banyak Depot Air Minum Isi Ulang Tak Layak

Hasil penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menunjukkan banyaknya depot air minum isi ulang yang tidak memenuhi standar kelayakan sarana. Hal ini dapat berdampak pada kualitas air yang dijual.

YLKI melakukan penelitian dengan mengambil sampel 20 depot air minum isi ulang di 5 wilayah Jakarta. Hasilnya sejumlah depot kedapatan tidak memenuhi standar pengisian air ulang.

"Masih sangat banyak depot di Jakarta yang tidak steril atau memenuhi kelayakan sarana," ujar peneliti YLKI, Ida Marlinda Loenggana dalam jumpa pers di kantornya,Jalan Pancoran Barat VII nomor 1, Jaksel, Jumat (15/2/2013).

Banyak depot yang mencuci galon hanya dengan membilas, tidak disikat. Termasuk tidak menyalakan lampu ultraviolet untuk sterilisasi. "Lampu UV diragukan keasilannya, alat penyikat galon sudah tidak layak," sambung Ida.

Menurut Ida, sarana tidak layak depot dapat berpengaruh terhadap kualitas air minum yang dijual. "Kalau depotnya tidak bersih dan pembersihan galonnya tidak benar, bakteri e-coli tetap ada dan efeknya diare," katanya.

Ida menyebut ada 13 depot yang menyediakan galon yang sudah diisi untuk langsung ditukar dengan galon kosong pembeli. "Padahal depot hanya boleh menjual dengan mengisi langsung di depan konsumen," ujarnya.

Dari 20 depot yang disurvei, hanya 3 depot yang memenuhi standar pencucian galon dengan benar. "Ada galon yang dicuci dengan tumpahan air di lantai," sebut Ida.

Sumber: *
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...