Seharusnya menginjak pedal rem, malah menginjak gas.” Itulah temuan polisi dari hasil pemeriksaan Afriyani Susanti, pengemudi Daihatsu Xenia yang menabrak dan menewaskan sembilan pejalan kaki di dekat Tugu Tani, Jakarta Pusat, Ahad dua pekan lalu.
Tragedi salah injak pedal terjadi lantaran wanita 29 tahun itu berada dalam pengaruh narkoba–narkotik dan obat berbahaya lainnya, termasuk zat psikotropika--yang dikonsumsinya beberapa saat sebelumnya. Rupanya halusinasi masih mencengkeram kuat dalam otaknya.
“Halusinasi dan menurunnya kesadaran yang dialami Afriyani adalah beberapa gejala intoksikasi atau efek buruk akibat penyalahgunaan narkoba atau zat psikotropika," kata psikiater Syailendra W.S. kepada Tempo di rumahnya, Jumat lalu. Efek itu terjadi karena zat tersebut bekerja pada sistem neurotransmitter di otak.
Dokter spesialis kesehatan jiwa yang berpraktek di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta ini menjelaskan, saat indra mengirim sinyal ke otak, respons otak berbeda dengan kenyataan. Sebab, neurotransmitter otak terganggu oleh zat tersebut. “Saat jarak sudah dekat, dia mengira masih jauh sehingga berani mengebut,” ujarnya.
Tiap jenis zat psikotropika menimbulkan gejala yang berbeda. Penggunaan sabu-sabu dan ekstasi, misalnya. Narkoba jenis amfetamin yang dikonsumsi Afriyani ini bekerja pada sistem neurotransmitter dopaminergik dan serotoninergik. Penyalahgunaan zat psikotropika tersebut membuat penggunanya berperilaku mal-adaptif atau menyimpang.
Syailendra menjelaskan pengguna akan mengalami perubahan perilaku jika menggunakan zat tersebut, seperti euforia (gembira yang meningkat berlebihan), perubahan sosialitas (menjadi penyendiri), fobia berlebihan, cemas, tegang, sulit konsentrasi, marah, dan gangguan sosial. Sementara itu, gejala fisik yang timbul adalah jantung berdebar, tekanan darah meningkat, banyak keringat, mual, muntah, dan sulit bernapas. Tak hanya itu, bisa juga terjadi gangguan irama denyut jantung, kejang, dan yang terberat adalah koma, atau bahkan kematian.
Efek buruk yang dihasilkan zat tersebut akan semakin parah pada tahap penggunaan multiple drugs. “Kalau penggunaannya dicampur, akan bertambah kacau lagi. Zat itu akan saling bersinergi daya rusaknya,” kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dadang Hawari.
Pengaruh zat tersebut, kata Dadang, bisa bertahan dua-tiga hari. Celakanya, meski banyak yang tahu tentang dampak negatif zat tersebut, masih banyak orang mengkonsumsinya. Hal itu terjadi lantaran zat tersebut bersifat adiktif alias menimbulkan ketergantungan. “Karena itu, kalau disuruh pilih makan atau narkoba, mereka akan pilih narkoba,” ujar Dadang.
Ketergantungan, antara lain, ditandai oleh peningkatan dosis untuk mencapai efek yang sama. Bila penggunaan awal sebanyak tiga hari sekali, lama-kelamaan akan bertambah menjadi dua hari sekali, sehari sekali, hingga dalam hitungan jam sekali.
Ciri lainnya adalah putus zat (withdrawl). Di kalangan masyarakat, putus zat ini biasa dikenal dengan istilah sakaw. Putus zat sebenarnya adalah saat tubuh sedang tidak merasakan efek zat. “Sedangkan tubuh pecandu menginginkan efek tersebut terjadi terus-menerus,” kata Syailendra.
Ihwal ketersediaan barang haram ini, Dadang maupun Syailendra menyatakan tak sulit bagi pecandu untuk mendapatkannya. Sebab, barang tersebut bisa didapat di tempat hiburan malam. Bahkan, kini narkoba sudah masuk hingga ke kampung-kampung.
Menurut data Badan Narkotika Nasional, pengguna narkoba (tanpa memperhitungkan konsumen minuman keras) di Indonesia sekitar 3,8 juta orang. Namun, Dadang yakin angka sebenarnya jauh di atas itu. “Ini kan fenomena gunung es. Jumlah penggunanya bisa mencapai 10 kali lipat dari angka resmi yang dikeluarkan BNN,” katanya.
AMIRULLAH
Rabu, 01 Februari 2012
Jumat, 27 Januari 2012
Sepatu Hak Tinggi Memang Indah, Tetapi Menyakitkan
Banyak wanita tahu bahwa sepatu berhak tinggi seringkali tidak nyaman, tidak stabil, sekaligus tidak praktis. Namun, tetap saja kaum hawa ini memilih mengenakan sepatu jenis tersebut karena alasan meningkatkan kepercayaan diri.
Sepatu hak tinggi memang indah, tetapi menyakitkan. Para ilmuwan dari Australia menemukan bahwa mengenakan sepatu hak tinggi atau mengarahkan jari kaki ke bawah secara terus-menerus akan mengubah cara berjalan seseorang sehingga juga berisiko merusak otot-otot kaki secara permanen.
Para ilmuwan dari Griffith University Australia membandingkan satu grup pecinta hak tinggi dengan satu grup kontrol, yakni wanita berusia remaja akhir hingga usia 30-an tahun yang jarang mengenakan sepatu berhak tinggi. Para wanita tersebut diminta oleh para peneliti agar berjalan tanpa alas kaki kemudian diamati untuk mengetahui adakah ada perubahan dalam cara melangkah akibat menggunakan sepatu hak tinggi. Demikian tulis koran Amerika New York Times seperti dikutip kembali oleh situs Daily Mail edisi 26 Januari 2012.
Semua wanita itu diminta untuk berjalan di landasan pacu sepanjang 26 kaki yang dasarnya dipasangi sensor. Yang dimonitor adalah kekuatan masing-masing kaki saat menapak di tanah maupun sendi dan otot saat beraktivitas.
Hasil penelitian yang dipublikasikan bulan ini di Journal of Applied Physiology menemukan, meskipun saat berjalan di tanah yang rata, para penggemar hak tinggi, yaitu mereka yang kerap mengenakan alas kaki setinggi 2 inci atau lebih selama 40 jam per minggu atau lebih selama lebih dari dua tahun, mengalami cara berjalan yang disesuaikan secara mekanik dibandingkan dengan mereka yang bukan penggemar alas kaki berhak tinggi.
Para pengguna alas kaki datar melangkah lebih panjang dengan menggunakan tendon mereka untuk berjalan dan tidak banyak melibatkan betis mereka.
Perhatikan cara berjalan salah satu pesohor dunia yang gemar bersepatu hak tinggi, Victoria Beckham. Ia melangkah lebih pendek dan agresif, serta memberikan tekanan lebih pada otot betis, kata New York Times.
Cara berjalan seperti itu, menurut tim dari New York Times, adalah cara berjalan yang tidak efisien karena para pengguna sepatu hak tinggi memaksa betis mereka bekerja ekstra keras untuk melangkah ketimbang menggunakan tendon mereka yang mengontrol cara berjalan tanpa alas kaki.
The New York Times melaporkan bahwa temuan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi para peneliti yang diketuai oleh Dr. Neil J. Cronin yang saat ini sudah pindah ke University of Jyvaskyla, Finlandia.
Hasil penelitian untuk mengungkapkan bahwa setelah dua tahun, para pengguna sepatu hak tinggi akan cenderung untuk menderita kelelahan otot dan luka akibat tekanan.
Karena itu, kata Dr. Cronin, diperlukan perawatan khusus ketika melakukan olahraga dan memberikan tekanan pada tendon yang tidak sering tertekuk sepenuhnya. Disarankan juga untuk beristirahat sejenak dari penggunaan sepatu hak tinggi karena alas kaki jenis itu sebaiknya hanya dikenakan sekali atau dua kali seminggu.
ARBA’IYAH SATRIANI/ DAILY MAIL
Sepatu hak tinggi memang indah, tetapi menyakitkan. Para ilmuwan dari Australia menemukan bahwa mengenakan sepatu hak tinggi atau mengarahkan jari kaki ke bawah secara terus-menerus akan mengubah cara berjalan seseorang sehingga juga berisiko merusak otot-otot kaki secara permanen.
Para ilmuwan dari Griffith University Australia membandingkan satu grup pecinta hak tinggi dengan satu grup kontrol, yakni wanita berusia remaja akhir hingga usia 30-an tahun yang jarang mengenakan sepatu berhak tinggi. Para wanita tersebut diminta oleh para peneliti agar berjalan tanpa alas kaki kemudian diamati untuk mengetahui adakah ada perubahan dalam cara melangkah akibat menggunakan sepatu hak tinggi. Demikian tulis koran Amerika New York Times seperti dikutip kembali oleh situs Daily Mail edisi 26 Januari 2012.
Semua wanita itu diminta untuk berjalan di landasan pacu sepanjang 26 kaki yang dasarnya dipasangi sensor. Yang dimonitor adalah kekuatan masing-masing kaki saat menapak di tanah maupun sendi dan otot saat beraktivitas.
Hasil penelitian yang dipublikasikan bulan ini di Journal of Applied Physiology menemukan, meskipun saat berjalan di tanah yang rata, para penggemar hak tinggi, yaitu mereka yang kerap mengenakan alas kaki setinggi 2 inci atau lebih selama 40 jam per minggu atau lebih selama lebih dari dua tahun, mengalami cara berjalan yang disesuaikan secara mekanik dibandingkan dengan mereka yang bukan penggemar alas kaki berhak tinggi.
Para pengguna alas kaki datar melangkah lebih panjang dengan menggunakan tendon mereka untuk berjalan dan tidak banyak melibatkan betis mereka.
Perhatikan cara berjalan salah satu pesohor dunia yang gemar bersepatu hak tinggi, Victoria Beckham. Ia melangkah lebih pendek dan agresif, serta memberikan tekanan lebih pada otot betis, kata New York Times.
Cara berjalan seperti itu, menurut tim dari New York Times, adalah cara berjalan yang tidak efisien karena para pengguna sepatu hak tinggi memaksa betis mereka bekerja ekstra keras untuk melangkah ketimbang menggunakan tendon mereka yang mengontrol cara berjalan tanpa alas kaki.
The New York Times melaporkan bahwa temuan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi para peneliti yang diketuai oleh Dr. Neil J. Cronin yang saat ini sudah pindah ke University of Jyvaskyla, Finlandia.
Hasil penelitian untuk mengungkapkan bahwa setelah dua tahun, para pengguna sepatu hak tinggi akan cenderung untuk menderita kelelahan otot dan luka akibat tekanan.
Karena itu, kata Dr. Cronin, diperlukan perawatan khusus ketika melakukan olahraga dan memberikan tekanan pada tendon yang tidak sering tertekuk sepenuhnya. Disarankan juga untuk beristirahat sejenak dari penggunaan sepatu hak tinggi karena alas kaki jenis itu sebaiknya hanya dikenakan sekali atau dua kali seminggu.
ARBA’IYAH SATRIANI/ DAILY MAIL
Selasa, 17 Januari 2012
Kurkumin: Molekul Baru Berefek Analgetika-Antiinflamasi dan Terapi Kanker
Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menemukan 100 molekul baru kurkumin kunyit (Curcuma longa). Delapan di antaranya telah dipatenkan.
"Kurkumin telah dikembangkan menjadi molekul baru yang mempunyai efek analgetika-antiinflamasi dan bisa dimanfaatkan sebagai terapi kanker," kata peneliti kurkumin dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Supardjan di Yogyakarta, Selasa (17/1/2012).
"Kurkumin telah dikembangkan menjadi molekul baru yang mempunyai efek analgetika-antiinflamasi dan bisa dimanfaatkan sebagai terapi kanker," kata peneliti kurkumin dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Supardjan di Yogyakarta, Selasa (17/1/2012).
Berdasarkan penelitiannya, kunyit terbukti mengandung senyawa kurkuminoid yang berwarna kuning, yang mengandung molekul kurkumin, demetoksin kurkumin, dan bisdemetoksin kurkumin.
"Untuk turunannya kurkumin ini bahkan sudah diteliti lebih lanjut. Turunan yang merah lebih ke antiinflamasi, sedangkan yang berwarna kuning lebih untuk melindungi hati (hepatotoksik)," katanya.
Secara umum, berdasarkan uji klinis, kurkumin telah terbukti memiliki khasiat antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antikanker, dan antitumor.
Peneliti farmakologi Fakultas Kedokteran UGM Nyoman Kertia mengatakan, ekstrak rimpang kunyit juga efektif sebagai antiradang pada penderita penyakit sendi (osteoartritis).
"Ekstrak rimpang kunyit memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar malondialdehida (MDA) cairan sinovia sendi lutut," kata Kertia.
Selain itu, kunit juga menyembuhkan diabetes. Kunyit sudah banyak digunakan sebagai obat herbal bagi masyarakat Indonesia. Sayang, uji klinis lebih lanjut masih terhambat dana.
"Untuk turunannya kurkumin ini bahkan sudah diteliti lebih lanjut. Turunan yang merah lebih ke antiinflamasi, sedangkan yang berwarna kuning lebih untuk melindungi hati (hepatotoksik)," katanya.
Secara umum, berdasarkan uji klinis, kurkumin telah terbukti memiliki khasiat antiinflamasi, antioksidan, antimikroba, antikanker, dan antitumor.
Peneliti farmakologi Fakultas Kedokteran UGM Nyoman Kertia mengatakan, ekstrak rimpang kunyit juga efektif sebagai antiradang pada penderita penyakit sendi (osteoartritis).
"Ekstrak rimpang kunyit memiliki kemampuan dalam menurunkan kadar malondialdehida (MDA) cairan sinovia sendi lutut," kata Kertia.
Selain itu, kunit juga menyembuhkan diabetes. Kunyit sudah banyak digunakan sebagai obat herbal bagi masyarakat Indonesia. Sayang, uji klinis lebih lanjut masih terhambat dana.
Sabtu, 31 Desember 2011
Sisi Baik 5 Makanan Jahat
Bisa dibilang 5 makanan ini merupakan musuh besar bagi mereka yang sedang menjalani diet. Alasannya, makanan ini terlalu tinggi lemak, karbohidrat, dan kalori.
Tapi tahukah, kalau kelimanya memiliki sisi baik sendiri yang membuatnya patut untuk didekati. Bahkan, diam-diam mereka juga punya khasiat tambahan yang menyehatkan. Inilah sisi baik kelima makanan yang kerap dianggap “jahat” itu.
Selai kacang
Sisi buruk: Siapa sangka di balik kenikmatan selai ini, tersembunyi lemak yang tinggi, sekitar 180-210 kalori per sajian. Angka yang cukup untuk menjadikannya musuh dalam selimut bagi para pediet.
Sisi baik: Makanan ini terkenal sebagai sumber kalori. Namun, jangan salah. Selai kacang menyediakan protein dan folat yang penting untuk membentuk kesehatan dari sel-sel baru.
Batasan: Jika tak ingin diet rusak, konsumsilah selai kacang dalam batas-batas tertentu. Puaskan lidah dengan satu atau dua sendok makan setiap hari. Satu sendok selai kacang mengandung sekitar 90 kalori.
Telur
Sisi buruk: Merupakan sumber utama kolesterol, terutama lemak yang terkandung dalam kuning telur. Lemak inilah yang biasa dihindari oleh mereka yang memiliki gangguan kesehatan jantung. Apalagi fakta yang membuktikan dalam satu butir telur terkandung 212 mg kolesterol.
Sisi baik: Ahli medis membuktikan lemak yang terkandung dalam telur tidaklah sejahat lemak jenuh dan lemak trans. Kedua lemak inilah yang sebenarnya merupakan penjahat utama dalam menaikkan kolesterol dalam darah. Selain itu, kuning telur mengandung lutein dan zeaxanthin yang bisa mengurangi risiko kebutaan pada orang berusia di atas 50 tahun.
Batasan: Jangan ragu untuk menyantap telur di pagi hari. Satu butir telur hanya mengandung 71 kalori. Jumlah ini cukup baik bagi mereka yang sedang menjalani diet. Bahkan penelitian mengatakan sarapan dengan telur membakar kalori lebih banyak ketimbang sarapan roti bakar dengan selai.
Daging Sapi
Sisi buruk: Daging sapi termasuk ke dalam daftar daging merah yang dihindari. Alasannya karena penuh dengan lemak jenuh dan kolesterol. Dua hal ini harus dijauhi oleh mereka yang peduli akan kesehatan jantung.
Sisi baik: Daging sapi tanpa lemak merupakan sumber protein yang rendah lemak dan kaya akan zat besi. Zat ini merupakan mineral penting yang dibutuhkan untuk membawa oksigen dari paru-paru ke sel-sel di seluruh tubuh. Hal ini terutama dibutuhkan oleh wanita yang sedang mengandung.
Batasan: Dibandingkan menghindari semua jenis daging sapi, ada baiknya kita memilih untuk mengonsumsi daging sapi tanpa lemak. Misalnya, filet mignon dan sirloin. Dengan demikian, kita akan terhindar dari lemak jenuh sambil tetap mendapatkan asupan protein dan zat besi yang dibutuhkan tubuh.
Cokelat
Sisi buruk: Camilan ini identik dengan kandungan lemak dan gula yang sangat tinggi.
Sisi baik: Jangan terburu-buru mengernyitkan dahi ketika disuguhi cokelat, terutama jika itu adalah dark chocolate. Cokelat yang satu ini mengandung flavanoid, antioksidan yang berfungsi menurunkan tekanan gula dalam darah. Tentu saja hal ini baik untuk kesehatan kardiovaskular.
Batasan: Penelitian dari Swiss menemukan mengonsumsi dark chocolate sebanyak 40 gram setiap hari selama dua minggu bisa mengurangi kadar hormon stres, yaitu kortisol. Namun, jangan kebablasan dalam mengonsumsinya. Dalam 40 gram dark chocolates terkandung 235 kalori.
Kentang
Sisi buruk: Kentang menduduki peringkat yang cukup tinggi dalam tingkat angka glikemik indeks (GI). Semakin tinggi angka glikemik indeks suatu makaan, semakin cepat pula makanan tersebut menaikkan gula darah kita. Kentang juga terbukti mengganggu produksi insulin yang menjadi problem besar untuk para penderita diabetes.
Sisi baik: Kentang diam-diam merupakan sumber serat, potassium, dan vitamin C yang cukup menggiurkan. Jika kita tidak mengonsumsinya teralalu banyak, angka GI kentang tak akan cukup besar pengaruhnya dalam tubuh.
Batasan: Makanlah kentang dengan sedikit menambahkan minyak zaitun ke atasnya. Dengan demikian kentang akan berubah menjadi menu yang memiliki GI yang rendah. Minyak zaitun akan menambahkan lemak yang berfungsi menyerap karbohidrat yang dihasilkan oleh kentang itu sendiri.
Kompas
Tapi tahukah, kalau kelimanya memiliki sisi baik sendiri yang membuatnya patut untuk didekati. Bahkan, diam-diam mereka juga punya khasiat tambahan yang menyehatkan. Inilah sisi baik kelima makanan yang kerap dianggap “jahat” itu.
Selai kacang
Sisi buruk: Siapa sangka di balik kenikmatan selai ini, tersembunyi lemak yang tinggi, sekitar 180-210 kalori per sajian. Angka yang cukup untuk menjadikannya musuh dalam selimut bagi para pediet.
Sisi baik: Makanan ini terkenal sebagai sumber kalori. Namun, jangan salah. Selai kacang menyediakan protein dan folat yang penting untuk membentuk kesehatan dari sel-sel baru.
Batasan: Jika tak ingin diet rusak, konsumsilah selai kacang dalam batas-batas tertentu. Puaskan lidah dengan satu atau dua sendok makan setiap hari. Satu sendok selai kacang mengandung sekitar 90 kalori.
Telur
Sisi buruk: Merupakan sumber utama kolesterol, terutama lemak yang terkandung dalam kuning telur. Lemak inilah yang biasa dihindari oleh mereka yang memiliki gangguan kesehatan jantung. Apalagi fakta yang membuktikan dalam satu butir telur terkandung 212 mg kolesterol.
Sisi baik: Ahli medis membuktikan lemak yang terkandung dalam telur tidaklah sejahat lemak jenuh dan lemak trans. Kedua lemak inilah yang sebenarnya merupakan penjahat utama dalam menaikkan kolesterol dalam darah. Selain itu, kuning telur mengandung lutein dan zeaxanthin yang bisa mengurangi risiko kebutaan pada orang berusia di atas 50 tahun.
Batasan: Jangan ragu untuk menyantap telur di pagi hari. Satu butir telur hanya mengandung 71 kalori. Jumlah ini cukup baik bagi mereka yang sedang menjalani diet. Bahkan penelitian mengatakan sarapan dengan telur membakar kalori lebih banyak ketimbang sarapan roti bakar dengan selai.
Daging Sapi
Sisi buruk: Daging sapi termasuk ke dalam daftar daging merah yang dihindari. Alasannya karena penuh dengan lemak jenuh dan kolesterol. Dua hal ini harus dijauhi oleh mereka yang peduli akan kesehatan jantung.
Sisi baik: Daging sapi tanpa lemak merupakan sumber protein yang rendah lemak dan kaya akan zat besi. Zat ini merupakan mineral penting yang dibutuhkan untuk membawa oksigen dari paru-paru ke sel-sel di seluruh tubuh. Hal ini terutama dibutuhkan oleh wanita yang sedang mengandung.
Batasan: Dibandingkan menghindari semua jenis daging sapi, ada baiknya kita memilih untuk mengonsumsi daging sapi tanpa lemak. Misalnya, filet mignon dan sirloin. Dengan demikian, kita akan terhindar dari lemak jenuh sambil tetap mendapatkan asupan protein dan zat besi yang dibutuhkan tubuh.
Cokelat
Sisi buruk: Camilan ini identik dengan kandungan lemak dan gula yang sangat tinggi.
Sisi baik: Jangan terburu-buru mengernyitkan dahi ketika disuguhi cokelat, terutama jika itu adalah dark chocolate. Cokelat yang satu ini mengandung flavanoid, antioksidan yang berfungsi menurunkan tekanan gula dalam darah. Tentu saja hal ini baik untuk kesehatan kardiovaskular.
Batasan: Penelitian dari Swiss menemukan mengonsumsi dark chocolate sebanyak 40 gram setiap hari selama dua minggu bisa mengurangi kadar hormon stres, yaitu kortisol. Namun, jangan kebablasan dalam mengonsumsinya. Dalam 40 gram dark chocolates terkandung 235 kalori.
Kentang
Sisi buruk: Kentang menduduki peringkat yang cukup tinggi dalam tingkat angka glikemik indeks (GI). Semakin tinggi angka glikemik indeks suatu makaan, semakin cepat pula makanan tersebut menaikkan gula darah kita. Kentang juga terbukti mengganggu produksi insulin yang menjadi problem besar untuk para penderita diabetes.
Sisi baik: Kentang diam-diam merupakan sumber serat, potassium, dan vitamin C yang cukup menggiurkan. Jika kita tidak mengonsumsinya teralalu banyak, angka GI kentang tak akan cukup besar pengaruhnya dalam tubuh.
Batasan: Makanlah kentang dengan sedikit menambahkan minyak zaitun ke atasnya. Dengan demikian kentang akan berubah menjadi menu yang memiliki GI yang rendah. Minyak zaitun akan menambahkan lemak yang berfungsi menyerap karbohidrat yang dihasilkan oleh kentang itu sendiri.
Kompas
Minggu, 04 Desember 2011
Naproxen: Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid yang Digunakan untuk Meredakan Gejala Arthritis
Naproxen adalah obat anti-inflamasi nonsteroid yang digunakan untuk meredakan gejala arthritis (baik osteoarthritis, rheumatoid arthritis, ataupun arthritis pada anak-anak) seperti peradangan, bengkak kaku, dan nyeri sendi.
Naproxen juga membantu meredakan gejala ankylosing spondylitis, jenis arthritis yang mempengaruhi sendi di tulang belakang. Obat ini tidak menyembuhkan artritis dan akan membantu meringankan gejala hanya selama terus untuk digunakan.
Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati nyeri ringan sampai sedang, termasuk encok akut dan kondisi menyakitkan lainnya seperti bursitis, tendonitis, atau kram menstruasi. Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dalam sediaan tablet dan larutan.
Indikasi
Untuk mengobati berbagai nyeri pada gejala arthritis (radang sendi), baik osteoarthritis, rheumatoid arthritis, ataupun arthritis pada anak-anak, hingga encok akut. Juga dapat mengobati rasa nyeri akibat bursitis, tendonitis, atau kram menstruasi
Dosis
Bentuk sediaan tablet dan larutan:
Untuk mengobati rheumatoid arthritis, osteoarthritis dan ankylosing spondylitis:
Dewasa: Pada awalnya, 250 mg (10 ml / 2 sendok teh), 375 mg (15 ml / 3 sendok teh), atau 500 mg (20 mL / 4 sendok teh) dua kali sehari di pagi dan malam hari. Dokter dapat meningkatkan dosis sesuai kebutuhan hingga total 1.500 mg per hari.
Anak-anak di atas usia 2 tahun: Dosis didasarkan pada berat badan dan harus ditentukan oleh dokter. Pada awalnya, 5 mg per kg berat badan dua kali sehari.
Untuk bursitis, tendonitis, kram menstruasi, dan nyeri jenis lain:
Dewasa: 500 mg untuk dosis pertama, kemudian 250 mg setiap enam sampai delapan jam sesuai kebutuhan.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Untuk encok akut:
Dewasa: 750 mg untuk dosis pertama, kemudian 250 mg setiap delapan jam sampai rsab nyeri reda.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Bentuk sediaan tablet extended-release
Untuk rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan ankylosing spondylitis:
Dewasa: Pada awalnya, 375 atau 500 mg dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Dokter dapat meningkatkan dosis hingga total 1.500 mg per hari.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Natrium naproxen bentuk sediaan tablet:
Untuk spondilitis rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan spondilitis:
Dewasa: Pada awalnya, 275 atau 550 mg dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Dokter dapat meningkatkan dosis hingga total 1.500 mg per hari.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Untuk bursitis, tendonitis, kram menstruasi, dan jenis lain dari nyeri:
Dewasa: 550 mg untuk dosis pertama, kemudian 550 mg setiap dua belas jam atau 275 mg setiap enam sampai delapan jam sesuai kebutuhan. Dokter dapat meningkatkan dosis hingga total 1.375 mg per hari.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Untuk encok akut:
Dewasa: 825 mg untuk dosis pertama, kemudian 275 mg setiap delapan jam sampai nyeri reda.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Komposisi
Naproxen
Sumber: MayoClinic
Naproxen juga membantu meredakan gejala ankylosing spondylitis, jenis arthritis yang mempengaruhi sendi di tulang belakang. Obat ini tidak menyembuhkan artritis dan akan membantu meringankan gejala hanya selama terus untuk digunakan.
Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati nyeri ringan sampai sedang, termasuk encok akut dan kondisi menyakitkan lainnya seperti bursitis, tendonitis, atau kram menstruasi. Obat ini hanya tersedia dengan resep dokter dalam sediaan tablet dan larutan.
Indikasi
Untuk mengobati berbagai nyeri pada gejala arthritis (radang sendi), baik osteoarthritis, rheumatoid arthritis, ataupun arthritis pada anak-anak, hingga encok akut. Juga dapat mengobati rasa nyeri akibat bursitis, tendonitis, atau kram menstruasi
Dosis
Bentuk sediaan tablet dan larutan:
Untuk mengobati rheumatoid arthritis, osteoarthritis dan ankylosing spondylitis:
Dewasa: Pada awalnya, 250 mg (10 ml / 2 sendok teh), 375 mg (15 ml / 3 sendok teh), atau 500 mg (20 mL / 4 sendok teh) dua kali sehari di pagi dan malam hari. Dokter dapat meningkatkan dosis sesuai kebutuhan hingga total 1.500 mg per hari.
Anak-anak di atas usia 2 tahun: Dosis didasarkan pada berat badan dan harus ditentukan oleh dokter. Pada awalnya, 5 mg per kg berat badan dua kali sehari.
Untuk bursitis, tendonitis, kram menstruasi, dan nyeri jenis lain:
Dewasa: 500 mg untuk dosis pertama, kemudian 250 mg setiap enam sampai delapan jam sesuai kebutuhan.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Untuk encok akut:
Dewasa: 750 mg untuk dosis pertama, kemudian 250 mg setiap delapan jam sampai rsab nyeri reda.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Bentuk sediaan tablet extended-release
Untuk rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan ankylosing spondylitis:
Dewasa: Pada awalnya, 375 atau 500 mg dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Dokter dapat meningkatkan dosis hingga total 1.500 mg per hari.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Natrium naproxen bentuk sediaan tablet:
Untuk spondilitis rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan spondilitis:
Dewasa: Pada awalnya, 275 atau 550 mg dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Dokter dapat meningkatkan dosis hingga total 1.500 mg per hari.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Untuk bursitis, tendonitis, kram menstruasi, dan jenis lain dari nyeri:
Dewasa: 550 mg untuk dosis pertama, kemudian 550 mg setiap dua belas jam atau 275 mg setiap enam sampai delapan jam sesuai kebutuhan. Dokter dapat meningkatkan dosis hingga total 1.375 mg per hari.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Untuk encok akut:
Dewasa: 825 mg untuk dosis pertama, kemudian 275 mg setiap delapan jam sampai nyeri reda.
Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter.
Komposisi
Naproxen
Sumber: MayoClinic
Label:
ankylosing spondylitis,
anti-inflamasi,
arthritis,
larutan,
Naproxen,
non-steroid,
nyeri ringan,
nyeri sedang,
osteoarthritis,
resep dokter,
rhematoid arthritis,
tablet
Sabtu, 03 Desember 2011
Tolak Rokok Para Profesional Olahraga: Titus Bonai dkk.
Jakarta, Bintang sepakbola Indonesia yang tengah naik daun, Titus Bonai sangat anti terhadap rokok. Bukan cuma tidak doyan merokok, ia juga tak mau membintangi iklan rokok meski dibayar Rp 10 miliar.
"Puji Tuhan, akan saya tolak," kata Tibo, panggilan akrabnya saat ditanyai apakah tetap menolak jika bayaran sebagai bintang iklan rokok mencapai Rp 10 miliar, dalam jumpa pers di Yayasan Jantung Indonesia, Cikini, Jakarta, Kamis (24/11/2011).
Tibo, bintang sepakbola kelahiran Papua 4 Maret 1989 ini mengaku memang berasal dari keluarga yang bebas rokok. Orangtuanya sejak dulu memang tidak merokok, sehingga ia merasa malu kalau dirinya sampai kecanduan rokok.
Sama seperti Tibo, bintang sepakbola Indonesia lainnya yakni Octovianus Maniani alias Octo juga sangat antirokok. Meski ornagtuanya sendiri adalah perokok, ia merasa tidak perlu ikut-ikutan karena tahu bahwa asapnya tidak baik untuk fisiknya sebagai atlet profesional.
"Bagi seorang atlet, air lebih penting untuk tubuh kita. Kalau rokok malah merusak. Jadi sama seperti Tibo, saya juga tidak merokok. Kalau iklan rokok, berapapun (honornya) akan saya tolak," kata Octo.
Sementara itu, pengamat sosial Imam Prasodjo juga sependapat dengan kedua atlet muda berbakat yang sednag naik daun di Indonesia tersebut. Menurutnya, efek rokok sangat merusak generasi muda dan bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan serangan teroris.
"Teroris hanya membunuh 1 dari 5 juta orang. Bunuh diri hanya menyumbang 1 kematian di antara 10 ribu orang. Kematian yang terkait dengan sepakbola, hanya 1 dari 25 ribu orang. Tapi rokok, bisa membunuh 1 dari 200 orang," tegas Imam.
Mengenai sponsor rokok dalam event olahraga, sesepuh persepakbolaan Indonesia Arifin Panigoro mengaku optimistis pembinaan olahraga di Indonesia tetap bisa berjalan tanpa sponsor rokok. Menurutnya, perusahaan selain rokok juga banyak yang berminat menyeponsori.
"Bahkan selama ini banyak sponsor yang ingin masuk, tapi justru tidak jadi karena tidak mau disandingkan dengan iklan rokok," kata Arifin tanpa menyebutkan dengan lebih detail jenis sponsor yang dimaksud.
"Puji Tuhan, akan saya tolak," kata Tibo, panggilan akrabnya saat ditanyai apakah tetap menolak jika bayaran sebagai bintang iklan rokok mencapai Rp 10 miliar, dalam jumpa pers di Yayasan Jantung Indonesia, Cikini, Jakarta, Kamis (24/11/2011).
Tibo, bintang sepakbola kelahiran Papua 4 Maret 1989 ini mengaku memang berasal dari keluarga yang bebas rokok. Orangtuanya sejak dulu memang tidak merokok, sehingga ia merasa malu kalau dirinya sampai kecanduan rokok.
Sama seperti Tibo, bintang sepakbola Indonesia lainnya yakni Octovianus Maniani alias Octo juga sangat antirokok. Meski ornagtuanya sendiri adalah perokok, ia merasa tidak perlu ikut-ikutan karena tahu bahwa asapnya tidak baik untuk fisiknya sebagai atlet profesional.
"Bagi seorang atlet, air lebih penting untuk tubuh kita. Kalau rokok malah merusak. Jadi sama seperti Tibo, saya juga tidak merokok. Kalau iklan rokok, berapapun (honornya) akan saya tolak," kata Octo.
Sementara itu, pengamat sosial Imam Prasodjo juga sependapat dengan kedua atlet muda berbakat yang sednag naik daun di Indonesia tersebut. Menurutnya, efek rokok sangat merusak generasi muda dan bahkan jauh lebih berbahaya dibandingkan serangan teroris.
"Teroris hanya membunuh 1 dari 5 juta orang. Bunuh diri hanya menyumbang 1 kematian di antara 10 ribu orang. Kematian yang terkait dengan sepakbola, hanya 1 dari 25 ribu orang. Tapi rokok, bisa membunuh 1 dari 200 orang," tegas Imam.
Mengenai sponsor rokok dalam event olahraga, sesepuh persepakbolaan Indonesia Arifin Panigoro mengaku optimistis pembinaan olahraga di Indonesia tetap bisa berjalan tanpa sponsor rokok. Menurutnya, perusahaan selain rokok juga banyak yang berminat menyeponsori.
"Bahkan selama ini banyak sponsor yang ingin masuk, tapi justru tidak jadi karena tidak mau disandingkan dengan iklan rokok," kata Arifin tanpa menyebutkan dengan lebih detail jenis sponsor yang dimaksud.
Kamis, 01 Desember 2011
"Dengan teknologi saat ini, ilmuwan mulai menyadari bahwa dalam jaringan bahasa, ada banyak jalur yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan," kata Stephen Wilson
Selama ini diketahui bahwa area tertentu di bagian kiri otak (hemisphere) membantu manusia untuk memahami dan menghasilkan kalimaat. Tapi para Ilmuwan masih belum menemukan bagaimana area di hemisphere tersebut bisa membagi-bagi proses terjadinya suatu kalimat.
Kemajuan penelitian tentang otak selama sepuluh tahun telah mengungkap bahwa kerja-kerja kognitif manusia seperti bahasa, tak hanya bergantung pada area khusus di cerebral cortex. Melainkan juga di serat khusus berwarna putih yang menghubungkannya.
"Dengan teknologi saat ini, ilmuwan mulai menyadari bahwa dalam jaringan bahasa, ada banyak jalur yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan," kata Stephen Wilson, Asisten Profesor Departemen Ilmu Pendengaran, Bahasa dan Percakapan di Universitas Arizona, Rabu 30 November 2011.
Wilson bersama koleganya dari Universitas California dan Universitas Rumah Sakit San Raffaele menemukan bahwa tidak hanya jalur penghubung yang penting dalam proses berbahasa. Tapi ternyata proses berbahasa juga terspesialisasi dalam beberapa tugas.
Ada dua bagian otak yang disebut kawasan Broca dan kawasan Wernicke. Kedua kawasan tersebut bekerja sebagai pusat pengatur utama yang mendasari proses berbahasa. Mereka memiliki bundelan padat yang mengandung serabut syaraf yang saling berhubungan. Kalau dibayangkan seperti serat kabel optik yang menghubungkan komputer ke server.
"Jika anda mengalami kerusakan di jalur otak bagian yang lebih rendah, maka kemungkinan anda mengalami kerusakan kosa kata dan semantik," kata Wilson. "Anda mungkin lupa nama sesuatu, anda lupa arti sebuah kata, tetapi yang mengejutkan anda sangat mahir dalam menyusun kalimat."
Tapi jika kerusakan terjadi di jaringan otak bagian atas maka yang semua akan terjadi sebaliknya. Mereka bisa dengan mudah menamai dan mengenali sesuatu, mereka mengetahui kata, mereka bisa mengingat. Tetapi ketika harus membentuk kalimat yang rumit, mereka akan gagal.
Untuk memahami peran dua bundelan berisi serabut syaraf padat, tim peneliti ini menghabungkan resonansi teknologi pencitraan otak untuk memvisualisasi kerusakan di bagian otak dan menguji tugas bahasa. Mereka menguji pada peserta yang memiliki kemampuan untuk membuat kalimat secara komprehensif.
Hasilnya kajian menunjukkan bahwa kerusakan otak pada lebih dari satu jalur khusus utama akan berhubungan dengan kekuarangan dalam berbahasa.
NEWS.BIOSCHOLAR.COM|DIANING SARI
Kemajuan penelitian tentang otak selama sepuluh tahun telah mengungkap bahwa kerja-kerja kognitif manusia seperti bahasa, tak hanya bergantung pada area khusus di cerebral cortex. Melainkan juga di serat khusus berwarna putih yang menghubungkannya.
"Dengan teknologi saat ini, ilmuwan mulai menyadari bahwa dalam jaringan bahasa, ada banyak jalur yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan," kata Stephen Wilson, Asisten Profesor Departemen Ilmu Pendengaran, Bahasa dan Percakapan di Universitas Arizona, Rabu 30 November 2011.
Wilson bersama koleganya dari Universitas California dan Universitas Rumah Sakit San Raffaele menemukan bahwa tidak hanya jalur penghubung yang penting dalam proses berbahasa. Tapi ternyata proses berbahasa juga terspesialisasi dalam beberapa tugas.
Ada dua bagian otak yang disebut kawasan Broca dan kawasan Wernicke. Kedua kawasan tersebut bekerja sebagai pusat pengatur utama yang mendasari proses berbahasa. Mereka memiliki bundelan padat yang mengandung serabut syaraf yang saling berhubungan. Kalau dibayangkan seperti serat kabel optik yang menghubungkan komputer ke server.
"Jika anda mengalami kerusakan di jalur otak bagian yang lebih rendah, maka kemungkinan anda mengalami kerusakan kosa kata dan semantik," kata Wilson. "Anda mungkin lupa nama sesuatu, anda lupa arti sebuah kata, tetapi yang mengejutkan anda sangat mahir dalam menyusun kalimat."
Tapi jika kerusakan terjadi di jaringan otak bagian atas maka yang semua akan terjadi sebaliknya. Mereka bisa dengan mudah menamai dan mengenali sesuatu, mereka mengetahui kata, mereka bisa mengingat. Tetapi ketika harus membentuk kalimat yang rumit, mereka akan gagal.
Untuk memahami peran dua bundelan berisi serabut syaraf padat, tim peneliti ini menghabungkan resonansi teknologi pencitraan otak untuk memvisualisasi kerusakan di bagian otak dan menguji tugas bahasa. Mereka menguji pada peserta yang memiliki kemampuan untuk membuat kalimat secara komprehensif.
Hasilnya kajian menunjukkan bahwa kerusakan otak pada lebih dari satu jalur khusus utama akan berhubungan dengan kekuarangan dalam berbahasa.
NEWS.BIOSCHOLAR.COM|DIANING SARI
Langganan:
Postingan (Atom)










