Tampilkan postingan dengan label sembarangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sembarangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2013

Jajan Sembarangan, Awas Infeksi Saluran Cerna & Diare

Aduh perutku, sakit, gimana, nih?
Banyak yang mengira diare sering dialami anak kecil karena mereka tidak menjaga kebersihan dengan baik. Tetapi diare bisa menyerang siapa saja, terutama untuk mereka yang sering jajan sembarangan.

Berikut adalah beberapa jenis kuman penyebab infeksi saluran cerna yang mungkin telah diketahui :
  • Bakteri Salmonella menyebabkan terjadinya 1-5 juta kasus diare di Amerika Serikat setiap tahun. Bakteri ini merupakan penyebab utama terjadinya keracunan makanan & sering ditemukan pada daging ayam & telur mentah.
  • Bakteri Shigella sangat menular & mudah disebarkan melalui satu orang ke orang lainnya. Bakteri tersebut menyerang dinding saluran cerna & dapat menimbulkan luka yang mengeluarkan darah. Infeksi bakteri Shigella merupakan penyebab dari > 160 juta kasus diare di seluruh dunia.
  • Bakteri E.coli ditemukan di saluran cerna hewan & manusia. Beberapa strain dari bakteri ini mengeluarkan toksin yang dapat menyebabkan penyakit yang membahayakan jiwa pada anak-anak & orang lanjut usia. Strain lainnya dapat menyebabkan penyakit diare yang lebih ringan (traveler's diarrhea). Infeksi bakteri E.coli disebarkan melalui kontak langsung dari orang ke orang atau makanan & minuman yang terkontaminasi, seperti misalnya daging yang dimasak kurang matang atau mengkonsumsi buah yang tidak dicuci & terkontaminasi oleh pupuk hewan.
  • Parasit Giardia, yang menyebar cukup mudah melalui air yang terkontaminasi & kontak manusa, merupakan penyebab umum lainnya dari penyakit infeksi diare di Amerika Serikat. Parasit ini dapat menyebar di kolam renang & taman bermain air karena resisten terhadap klorin. Mandi & mengkonsumsi air dari danau / sungai yang telah terkontaminasi juga dapat menyebabkan terjadinya infeksi & diare kronis. Balita yang dititipkan di tempat penitipan anak juga sering terinfeksi parasit Giardia ini & membawa pulang parasit tersebut, yang menyebabkan terjadinya diare pada anggota keluarga lainnya.
  • Parasit Cryptosporidium, merupakan parasit lain yang menjadi penyebab terjadinya epidemik diare di tempat penitipan anak & tempat umum lainnya. Parasit Cryptosporidium sering menyebabkan terjadinya diare cair yang dapat berlangsung hingga > 2 minggu.
Sumber *

Selasa, 23 April 2013

Kecanduan iPad, Bocah Ini Jalani Detoks Digital

London - Seorang bocah lelaki asal Inggris berumur 4 tahun dilaporkan kecanduan iPad. Dokter yang menanganinya menyatakan anak itu merupakan satu dari pasien-pasiennya yang menunjukkan perilaku candu karena menggunakan perangkat tablet sejak usia dini.

Dokter itu menjelaskan, anak ini sangat kecanduan dengan games di iPad milik orang tuanya. Jika dilarang memainkan iPad, maka anak ini akan marah dan menarik kembali iPad tersebut.

Dari hasil survei, sebagian besar orang tua membiarkan anak mereka yang masih balita menggunakan ponsel pintar atau komputer tablet untuk bermain game digital. Hanya satu dari tujuh orang tua yang memberi batasan waktu bagi anak mereka dalam menggunakan perangkat digital tersebut.

Seorang psikiater, Richard Graham, dari Capio Nightingale Clinic di London mengatakan sebenarnya masih banyak bocah lain yang mengalami kecanduan serupa. Ia menyarankan orang tua agar segera mencari bantuan. Alasannya, jika kecanduan ini ini berlangsung sampai usia 11 tahun, maka akan semakin sulit memulihkannya. Pemulihannya bisa sampai menjalani rawat inap.

Adapun biaya pemulihannya mencapai 16 ribu Poundsterling atau Rp 237 juta per bulan untuk melakukan detoksifikasi digital. Agar anak-anak Anda terhindar dari kecanduan iPad, Graham menyarankan agar orang tua tidak sembarangan meletakkan komputer tablet mereka.

"Warna-warna menarik pada iPad membuat anak-anak tertarik untuk mencoba memainkannya," katanya. Jika tidak, anak-anak itu tak akan berhenti bermain sehingga menjadi kecanduan. Tandanya, jika perilaku bermain iPad itu sudah tidak terkontrol dan sulit dijauhkan.

Sementara di tempat penitipan anak, Tanith Carey menyebutkan iPad, iPod dan smartphone sudah menjadi mainan lazim bagi bayi dan balita.

Sumber: *

Senin, 15 April 2013

SIAPA LEBIH CEPAT TUA?

Ada pendapat, wanita lebih cepat tua dari pria. Benarkah? Simak apa yang mempercepat timbulnya penyakit dan kerentaan di tubuh Anda.

Wanita menaruh perhatian lebih besar dibanding pria dalam hal awet muda. “Selama 20 tahun terakhir saya mendapati bahwa wanitalah yang sering mengeluh karena merasa kelihatan lebih tua dibanding suaminya,” kata Dr. CEPAT, dokter sekaligus guru antipenuaan tingkat dunia.

Kondisi itu dibenarkan Dr. Perricone. Ada perbedaan fisiologis antara tubuh pria dan wanita. Pria memiliki kulit lebih tebal, sehingga lebih resisten terhadap kerusakan. Hormon testosteron menjaga kulit pria tetap lembab. Selain itu, pria punya tulang lebih padat daripada wanita.

Sudah begitu, wanita punya kecenderungan untuk berdiet sembarangan setelah masa remaja. Padahal, kurang gizi, khususnya protein, juga merupakan faktor yang mempecepat penuaan. Dr. Perricone percaya bahwa kurang protein menyebabkan kita jadi cepat tua.

Inti dari proses penuaan, menurutnya, adalah pembengkakan. Ketika inflamasi ini terjadi dalam kadar rendah dan tak terlihat karena berlangsung dalam sel di organ tubuh, pelan tetapi pasti kita punya risiko terkena penyakit degeneratif, misalnya penyakit jantung dan stroke. Sebaliknya, jika sel-sel tubuh sehat, bebas dari cedera plus mendapatkan gizi cukup terus-menerus, tubuh akan awet sehat meskipun sudah masuk usia emas.

Hal itu juga dibenarkan oleh Dr. Czeresna Heriawan Soejono, Sp.PD, KGer, Mepid, dari FKUI/RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Pola makan yang benar adalah kunci untuk tetap sehat dan awet muda. Stres oksidatif pada tubuh terjadi jika pola makan tak sehat.

Stres oksidatif erat hubungannya dengan penyakit kronis degeneratif yang menggerogoti pembuluh darah dan sendi pada manusia berusia 50 tahun ke atas jika tak didukung pola makan sehat. Namun, ia menambahkan bahwa belakangan ini penyakit kronis degeneratif menggerogoti pula orang Asia perkotaan mapan mulai usia 30-an.

Kesibukan orang Asia perkotaan yang menjauhkan diri dari olahraga, kemudahan dan kedekatan dengan akses makanan siap saji yang tinggi lemak dan rendah serat adalah penyebabnya. “Ada penelitian Prof. Campbell dari Amerika Serikat di Shanghai. Penelitian itu mengungkapkan bahwa perubahan pola makan orang Asia bertanggung jawab pada penyakit kronis degeneratif yang diderita orang Asia belakangan ini,” kata Dr. Czeresna.

“Prof. Campbell sudah memperingatkan orang Indonesia. Jangan ubah pola makan tradisional menjadi pola makan Barat yang cenderung miskin serat dan kaya lemak itu agar tua tidak sakit-sakitan,” sebutnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...