Tampilkan postingan dengan label waspada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waspada. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Juni 2017

Sama Bahayanya dengan Microsleep, Ngantuk Bikin Nge-blank Saat Berkendara

Kelelahan yang teramat sangat bisa membuat seseorang nge-blank saat berkendara. Tiba di tujuan dengan selamat, tetapi sulit mengingat apa saja yang dilaluinya sepanjang perjalanan.


Fenomena nge-blank seperti ini, menurut pakar kesehatan tidur dari RS Mitra Kemayoran dr Andreas Prasadja, RPSGT terjadi karena sel-sel otak 'tertidur' sebagian. Kondisi ini sangat berbahaya karena kewaspadaan, konsentrasi, dan refleks di jalan tentu sangat berkurang.

"Yang sebagian tidur, yang sebagian lagi berfungsi buat mengendarai," ujar dokter yang akrab disapa dr Ade ini, saat dihubungi detikHealth, Kamis (22/6/2017).

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dr Ade menyarankan untuk tidak berkendara sendirian. "Harus ada temennya, diajak ngobrol biar enggak ngantuk," pesannya.

Selain mengajak ngobrol, pendamping pengemudi ini harus selalu memperhatikan apabila pengemudi mulai merasa kantuk. "Kalau mulai ngantuk paksa untuk berhenti, istirahat," ujar dr Ade.

Ditegaskan lagi oleh dr Ade, tidak ada zat atau cara apapun untuk mengatasi kantuk selain tidur. Jadi, jangan paksakan dirimu apabila mulai mengantuk saat berkendara.

Widiya Wiyanti - detikHealth


Kamis, 28 Maret 2013

Paranoia Umum Terjadi Setelah Penjambretan (Penelitian)


Temuan dapat menyebabkan pengobatan yang lebih baik dari korban penyerangan, peneliti mengatakan.

Rabu, 27 Maret (HealthDay News) - Orang-orang yang telah dirampok atau diserang secara acak dapat tetap sangat curiga kepada orang lain lama setelah insiden itu, sebuah studi baru menemukan.

Temuan menunjukkan efek yang sebelumnya kurang didiakui pada penyerangan fisik dan dapat membantu meningkatkan terapi bagi para korban, para peneliti Inggris mengatakan.

Studi mereka melibatkan lebih dari 100 orang yang dirawat di rumah sakit karena cedera ringan yang diderita selama penjambretan atau serangan fisik. Para peserta dipantau selama enam bulan ke depan.

Empat dari lima korban mengatakan bahwa sejak serangan itu, mereka lebih takut terhadap orang lain selain yang mereka inginkan, menurut penelitian, yang diterbitkan 27 Maret di jurnal Psychological Medicine.

Faktor-faktor yang mengakibatkan perasaan yang kuat ketidakpercayaan yang berlangsung selama enam bulan termasuk: diserang di sekitar rumah, merasa dikalahkan pada saat itu, khawatir yang berlebihan sesudahnya, merasa tidak didukung oleh orang lain dan masalah tidur.

Hal ini juga diketahui bahwa menderita serangan fisik dapat menyebabkan gejala gangguan stres pasca-trauma, tapi ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa ketidakpercayaan yang berlebihan dari orang lain, atau paranoia, dapat berlangsung selama berbulan-bulan setelah serangan, kata para peneliti.

"Hal ini sangat dimengerti bahwa dengan diserang membuat kita waspada terhadap orang-orang di sekitar kita. Pola pikir kami untuk bisa mewujudkan rasa aman, waspada terhadap bahaya," kata pemimpin penelitian Daniel Freeman, seorang profesor di University of Oxford, dalam rilis berita Wellcome Trust .

"Ketika kita terlalu curiga, yang merupakan bentuk paranoia," kata Freeman. "ini mungkin merupakan perubahan sementara yang normal dalam pemikiran kita setelah menjadi korban serangan."

Bahaya dari pikiran seperti itu, bagaimanapun, adalah bahwa orang mungkin berakhir pada mengisolasi diri terhadap orang lain dan hanya berkutat pada yang hal-hal yang terburuk, kata Freeman, yang memimpin penelitian sementara di Institute of Psychiatry dari King College London.

"Ini adalah masalah yang kurang diakui pasca serangan," katanya.

SUMBER: Wellcome Trust, siaran pers, 26 Maret 2013

HealthDay  *

Rabu, 20 Februari 2013

Tips Tidur Siang Yang Menyehatkan, Cukup 10-20 Menit!

Ketika kafein tidak lagi efektif, tidur singkat di sela-sela kesibukan bekerja mungkin dapat menjadi solusi bagi kantuk yang menggangu. Namun bagaimana menjadikan tidur siang sebagai kebiasaan menyehatkan dan tidak merusak jadwal tidur malam ?

Ada yang bilang, jika butuh tidur, maka tidur sianglah. Penelitian pun mengindikasikan, tidur siang bukan hanya mencukupi kebutuhan istirahat dan penyembuhan, tapi juga dapat meningkatkan "mood" dan kewaspadaan sepanjang hari.

Lalu berapa lama idealanya tidur siang? Sebuah studi mengindikasikan, mereka yang rutin tidur siang 10 hingga 20 menit setiap hari, akan bangun dengan mata dan tubuh yang lebih segar daripada mereka yang menghabiskan satu hingga berjam-jam tidur siang. Hal ini karena tidur siang yang terlalu lama justru akan membuat lebih sulit untuk tidur lelap di malam hari.

Tidur memiliki tahapan, dan selama tahapan "tidur dalam" yaitu ketika mimpi terjadi, otak mengalami kesulitan untuk terbangun. Studi menunjukkan bahwa saat seseorang tertidur siang cukup lama yaitu sekitar 25 hingga 85 menit, tahapan tidur sudah mencapai fase Rapid Eye Movement (REM), dan hal berati akan membuat lebih sulit untuk tertidur di malam hari.

Oleh karena itu, disarankan untuk tidur siang selama 10 hingga 20 menit saja, supaya tetap mudah tertidur di malam hari.

Selain durasi, waktu tidur siang juga menentukan kualitas tidur di malam hari. Semakin dekat waktu tidur siang kita dengan waktu tidur malam, maka akan semakin sulit untuk terbangun saat tidur siang yang menyebabkan kacaunya jadwal tidur malam. Para ilmuan menyarankan untuk paling tidak harus ada jarak sekitar 4 jam dari tidur siang dengan tidur malam.

Secara umum, mereka yang tidur siang rutin memiliki kemampuan lebih baik untuk menangkal kantuk daripada mereka yang tidak. Yang penting, jaga durasinya jangan terlalu lama, 5 sampai 15 menit saja sudah cukup untuk menambahkan energi dan membuat kualitas tidur malam Anda lebih baik.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...