Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan gejala ebola dan penularannya harus diwaspadai. Menurut Tjandra, hingga Sabtu, 1 November 2014, belum ada kasus ebola di Indonesia, namun ada pasien yang diduga terpapar virus itu setelah kembali dari luar negeri.
"Jika ada orang baru datang dari negara terjangkit ebola lalu dia demam, belum tentu demam itu gara-gara ebola. Bisa saja sakit yang lain, karena hanya memang perlu waspada dan hati-hati," kata Tjandra dalam keterangan tertulis.
Tjandra mengatakan ada empat gejala pada orang yang terjangkit virus ebola. Gejala-gejala ini harus diwaspadai, terutama jika menjangkiti mereka yang baru pulang dari negara tempat wabah ini berasal. Berikut ini empat gejala ebola menurut Tjandra:
1. Demam yang tidak diketahui penyebabnya (fever of unknown origin).
2. Nyeri otot hebat.
3. Gangguan saluran pencernaan.
4. Manifestasi perdarahan.
Selanjutnya *
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 November 2014
Sabtu, 10 Mei 2014
Otak Anda Kepanasan? Menguaplah!
New York - Setiap orang pasti pernah menguap, tetapi penyebab seseorang menguap masih menjadi misteri hingga kini. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa menguap mungkin bisa membantu mendinginkan otak yang terlalu panas.
Para peneliti dari Austria, seperti dikutip situs Health Day edisi 8 Mei 2014, menemukan bahwa jumlah kuapan setiap orang berbeda-beda, tergantung pada temperatur udara. Karena itu, orang jarang menguap di luar ruangan karena temperatur di luar biasanya sangat panas atau sangat dingin.
Para peneliti dari Austria, seperti dikutip situs Health Day edisi 8 Mei 2014, menemukan bahwa jumlah kuapan setiap orang berbeda-beda, tergantung pada temperatur udara. Karena itu, orang jarang menguap di luar ruangan karena temperatur di luar biasanya sangat panas atau sangat dingin.
Label:
68,
Arizona,
Austria,
Dingin,
F,
gambar,
Health Day,
Jorg Massen,
Kepanasan,
luar ruang,
mendinginkan,
menguap,
musim,
orang,
otak,
panas,
penelitian,
Physiology & Behaviour,
temperatur
Sabtu, 17 Agustus 2013
Mengapa Kurang Tidur Bikin Orang Mudah Marah?
Kurang tidur dan kelelahan bisa mengubah "kepribadian" seseorang menjadi mudah marah dan lebih menyebalkan. Sebenarnya mengapa hal tersebut terjadi?
Dalam Journal of Applied Social Psychology, para peneliti menjelaskan bahwa kurang tidur akan menyebabkan kontrol diri dan kemampuan berpikir jernih berkurang. Selain itu, kurang tidur juga akan mengurangi kemampuan tubuh menghadapi stres.
Makin sedikit waktu istirahat, makin sulit bagi Anda untuk menilai mana yang benar dan salah. Tak heran jika orang yang sering kurang tidur menjadi lebih rentan depresi. Selanjutnya *
Dalam Journal of Applied Social Psychology, para peneliti menjelaskan bahwa kurang tidur akan menyebabkan kontrol diri dan kemampuan berpikir jernih berkurang. Selain itu, kurang tidur juga akan mengurangi kemampuan tubuh menghadapi stres.
Makin sedikit waktu istirahat, makin sulit bagi Anda untuk menilai mana yang benar dan salah. Tak heran jika orang yang sering kurang tidur menjadi lebih rentan depresi. Selanjutnya *
Minggu, 25 Maret 2012
Konsumsi Aspirin Setiap Hari Selama 3 Tahun Memiliki Resiko Pertumbuhan Kanker 25% Lebih Rendah
Aspirin semakin menyita perhatian para peneliti sebagai obat antikanker. Tidak hanya menghambat pertumbuhan kanker, obat itu juga dinilai dapat memperlambat penyebaran sel kanker bagi para penderitanya.
Peneliti dari Oxford University Peter Rothwell mengatakan, orang dewasa yang mengkonsumsi aspirin setiap hari selama tiga tahun memiliki resiko pertumbuhan sel kanker 25 persen lebih rendah. Begitu pula, penderita kanker yang mengkonsumsi aspirin setiap hari selama tiga tahun memiliki resiko kematian 15 persen lebih rendah.
"Dalam lima tahun, resiko kematian pasien yang mengkonsumsi aspirin lebih rendah 37 persen dibanding pasien yang tidak mengkonsumsi," kata dia seperti dilansir Newscientist.
Rothwell menambahkan, aspirin juga dapat menghambat penyebaran sel kanker untuk menjalar ke organ-organ tubuh yang lain. Mengkonsumsi aspirin selama 6,5 tahun dapat mengurangi resiko penyebaran sel kanker hingga 50 persen.
"Tapi resep ini tidak dapat diberikan kepada setiap orang. Para peneliti juga memperingatkan bahwa mengonsumsi aspirin dengan cara seperti itu dapat merusak usus dan menyebabkan pendarahan," ungkapnya.
Peneliti dari Oxford University Peter Rothwell mengatakan, orang dewasa yang mengkonsumsi aspirin setiap hari selama tiga tahun memiliki resiko pertumbuhan sel kanker 25 persen lebih rendah. Begitu pula, penderita kanker yang mengkonsumsi aspirin setiap hari selama tiga tahun memiliki resiko kematian 15 persen lebih rendah.
"Dalam lima tahun, resiko kematian pasien yang mengkonsumsi aspirin lebih rendah 37 persen dibanding pasien yang tidak mengkonsumsi," kata dia seperti dilansir Newscientist.
Rothwell menambahkan, aspirin juga dapat menghambat penyebaran sel kanker untuk menjalar ke organ-organ tubuh yang lain. Mengkonsumsi aspirin selama 6,5 tahun dapat mengurangi resiko penyebaran sel kanker hingga 50 persen.
"Tapi resep ini tidak dapat diberikan kepada setiap orang. Para peneliti juga memperingatkan bahwa mengonsumsi aspirin dengan cara seperti itu dapat merusak usus dan menyebabkan pendarahan," ungkapnya.
Label:
25% lebih rendah risiko kanker endometrium,
3 tahun,
anti kanker,
aspirin,
dewasa,
kanker,
orang,
Oxford University,
peneliti,
perhatian,
Peter Rothwell,
setiap hari
Langganan:
Postingan (Atom)
